Karena bertemu Dania, Aji sadar.
Sadar kalau selama ini, Helen tak pernah benar-benar mencintainya.
Setidaknya, bukan seperti yang Aji rasakan untuk Helen.
Dia dan Helen bersama selama dua tahun. Mereka ke mana-mana berdua, berciuman, dan saling merayakan momen penting satu dan lainnya.
Aji bahagia. Sangat, sangat bahagia. Dia pikir, dia sudah menemukan yang selama ini dicarinya. Dia merasa semuanya sempurna.
Dia bisa mengerti semua aspirasi Helen.
Dia suka semua mimpi Helen.
"I wanna bring this all to our country. One day, Ji, aku mau buka Akademi Seni di Jakarta. Yang belajar teater dan perfilman sedalam kita belajar. Tur teater keliling Indonesia, biar semua orang nonton teater. Indonesia punya banyak cerita bagus dan sejarah yang menarik. Semua itu harusnya diangkat semegah ini."
Malam itu jam 11 malam. Dia dan Helen sedang duduk di sebuah teater mewah, selesai pementasan perdana sebuah pertunjukan yang disutradarai oleh Helen.
Salah satu mimpi Helen sudah terwujud.
Aji merasa dia luar biasa. Bidadarinya Aji, dewinya Aji, true lovenya Aji.
Bisa berada di sebelah Helen itu pencapaian terbesarnya.
Bukan lulus magna cum laude dari Chrysanthemum University, bukan diterima di Oxford Drama School yang prestisius itu. Bukan ketika skenario dan film pendek buatannya dipuji-puji dosen-dosen dan mahasiswa di situ.
Semua itu tak penting.
Yang penting adalah dia berhasil jadi pasangan Helen.
Itu saja yang pernah Aji inginkan di seluruh dunia ini.
**********************************
Ada banyak hal yang Aji pura-pura tak tahu, tak lihat dan tak dengar.
Ketika Gio bicara dengan Jeremy di telepon, Helen akan langsung diam.
Kalau dia sedang bicara, dia akan tiba-tiba berhenti bicara.
Saat itu, Aji sedang makan siang di rumah Helen. Tentunya ada Gio dan Rere juga, dengan dua anak kembar mereka, dan Chieko serta Isabel.
"Susah banget dibilangin tuh orang, males banget gue," Gio mengomel.
"Udah. Kamu udah usaha. Kalo dia nggak denger, kamu bisa apa?" Rere mencoba menenangkan.
"Kita udah susah-susah jagain dia di RS, dan sehari setelah dia keluar, di hari kita balik ke UK, dia udah langsung masuk kerja lagi! Sinting nggak?" Gio marah-marah.
"Ya udah, kan kata Kinara juga akhirnya dia udah di-banned dari kantor dia sendiri."
"Kamu bayangin nggak? Dia cuma bisa nggak ngantor setelah ID card dia sendiri di-banned? Kalo nggak gitu, dia bakal maksa kerja terus! Biarpun gitu, aku yakin si gila itu tetep WFH sih, Re."
"Nggak apa-apa. Kinara udah bilang, WA Jeremy dia block dari jam makan siang. Biar dia nggak bisa kerja. Besoknya dia buka lagi blocknya."
"Sumpah, sih, kalo nggak ada Kinara, aku nggak tahu nasib Jeremy bakal gimana."
"Bukannya.......lo bilang, waktu lo balik ke sini, dia udah membaik, ya?" tanya Helen.
Suaranya halus. Tak bervolume sekeras Gio. Tapi selama empat tahun sejak mereka putus, Helen tak pernah bicara tentang Jeremy.
Di depan semua orang, dia bertingkah seolah dia lupa seseorang bernama Jeremy itu masih hidup dan bernapas.
Jadi, aneh sekali untuk seorang Helen tiba-tiba bertanya tentang kondisi Jeremy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomanceRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
