Part 102. Insert Chapter: College Era

1.4K 133 18
                                        

5 Times He Looked Like He Was Crushing on Her So Bad and One Time He Could Do More Than Just Looking

**********************************

Author's Note: 

Gara-gara lihat Jeno di sini aku jadi histeris, wkkkk. Masalahnya, ini tuh bener-bener Gio di kepalaku. He looks exactly like this. 

Jadi, kenapa aku nggak nulis aja kan tentang Gio zaman kuliah yang suka diam-diam mandangin si juara angkatan itu, ya kan. Pengen baca, nggak?

Moga-moga pengen, ya. 

Yang penting aku pengen nulisnya sih, haha.

PERHATIKAN SETTING CERITA DI SETIAP BAGIAN CERITA YAAAA BIAR KAMU NGGAK BINGUNG.

CERITA NEVER SAY NEVER ITU DIMULAI DARI AKHIR SEMESTER 6 GIO DAN RERE DI CHYRSANTHEMUM UNIVERSITY. 

CHAPTER INI DIMULAI DARI SETTING SEMESTER SATU.

Maaf capslock biar pada baca notenya.

**********************************

1. After The Event

SEMESTER SATU

Gio masuk ke ruang HIMA FE, mencari Cynthia, pacarnya yang terbaru saat itu. Cynthia adalah anggola HIMA FE, sama dengan Maxwell yang saat itu baru saja dekat dengan Gio dan circlenya sejak kecil. 

"Hai, Gi! Bentar ya, aku ke kamar mandi dulu!" kata Cynthia yang tersenyum cerah saat melihat Gio.

Gio hanya mengangguk.

Dia lalu mendengar suara dua orang yang mengobrol. Satu laki-laki, dan satu lagi perempuan. 

"Pesertanya bener-bener lebih banyak dari perkiraan kita. Seneng banget, deh."

"Iya, thanks to you, Re, yang niat banget promosinya," puji Max.

Saat itu, Rere masih single, belum jadian dengan Stephen, dan Max juga belum jadi Ketua HIMA, baru jadi anggota saja.

Chandra dan Reinhart juga muncul di saat yang sama, ingin mengambil tas mereka. 

Hari itu mereka mengadakan baksos ke daerah kumuh yang cukup dekat dengan kampus mereka. Chandra dan Reinhart, yang hidupnya lurus, berbeda dengan Gio, Jeremy dan Hendra, setuju untuk ikut membantu Max dalam baksos itu. 

Hendra dan Jeremy menghampiri juga. Saat itu jam 8 malam, dan mereka semua berniat makan bersama. 

Khas anak kuliah, mereka makan di warung pecel lele dekat kampus yang memang terkenal enak, walaupun geng Gio jarang makan di situ, hanya bila diajak saja. 

Rere saat itu tahu kalau Gio, Jeremy, Hendra, Chandra dan Reinhart kaya raya, dan kaget ketika mendengar mereka semua mau ikut makan. 

"Emangnya lo bisa makan di warung pecel lele?" Rere saat itu bertanya pada Gio. Tak ada maksud apa-apa, dia hanya heran saja. 

Gio, yang jarang sekali bicara dengan Rere, bertanya dengan bingung. "Kenapa harus nggak bisa?"

Rere tak menjawabnya, hanya memandangnya dengan kebingungan, seolah Gio mengatakan sesuatu di luar perhitungannya yang rapi. 

Mereka kemudian memutuskan siapa harus ikut mobil siapa. 

Rere yang sudah lapar, memotong diskusi itu sambil tertawa, "Gini deh. Daripada kebanyakan mobil dan cuma ruwet aja, gimana kalo kita jalan kaki aja? Deket lho. Kalian para Tuan Muda bisa balik lagi ambil mobil kalian selesai makan, gimana? Gue laper banget, nih."

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang