Author's Note:
Lebih panjang dari biasa. Ada scene 🔞 di ending, tapi sangat mild ya.
Di KK 4,100 kata, di WP 3,900 kata. Jadi selisihnya dikit bgt. Gak usah beli KK kecuali kamu bener-benee gak bisa lewatin apapun dari story ini ya.
**********************************
Rere berniat ke Keraton Jogja sekitar jam 8 pagi, tapi jam 6 pagi, Gio mengajak "exercise," setelah itu Rere jadi lelah dan butuh tidur lagi. Jam 8 dia bangun, mandi, sarapan dan bersiap-siap. Akhirnya mereka sampai di keraton jam 10 pagi.
"Terakhir aku ke sini waktu SMP. Ternyata kedua kalinya sama kamu."
"Ketiga kalinya bawa anak, ya?"
Rere langsung tegang.
"Amin. Nggak nentuin tahun berapa, kan?"
"Kalo aku sih, lebih cepat lebih baik. Tapi kalo kamu mau kelar PhD juga nggak apa-apa. Maksimal lima tahun, ya?"
"Oke."
Gio tersenyum, lalu dia melanjutkan mengikuti guide mereka sambil menggandeng tangan Rere.
Ya, Rere memang baru tahu kalau Gio ternyata suka melihat postingan kakak-kakak tingkatnya yang sudah menikah dan punya bayi atau anak kecil, lalu sering memberi like.
Sayangnya, Rere masih takut jadi ibu. Dia ingin punya anak, tapi tak terbayang punya anak dalam waktu dekat.
Jadi ibu bukan sesuatu yang bisa dipelajari hanya dengan membaca buku, ikut webinar atau menghafal sesuatu. Seorang ibu itu bertanggung jawab untuk hidup anaknya, fisik dan mental. Berpengaruh membentuk pribadi seorang anak.
Dan Rere merasa itu masih terlalu berat untuknya yang bahkan belum berulang tahun yang ke-22.
Bersama-sama mereka mendengarkan penjelasan tentang ruangan-ruangan dalam keraton yang dibuka untuk umum itu. Ada ruang duduk dengan kursi singgasana yang di sampingnya diberi dupa. Ada juga kamar tidur permaisuri yang penuh dekorasi khas Jawa, dengan tempat tidur bertiang empat yang dapat ditutupi kelambu.
Terdapat perangkat makan sirih, kotak-kotak skincare dan makeup tradisional, dan beberapa set kebaya dan kain yang ditunjukkan untuk umum.
Ada sebuah galeri yang menggantung foto-foto keluarga keraton dari berbagai generasi. Anehnya, Rere menggandeng lengan Gio erat-erat di situ.
"Kenapa?"
"Aku merinding banget."
"Kamu itu sensitif, tapi suka museum. Aneh."
"Ke museum itu penting, tahu, biar ngerti sejarah. Banyak yang bisa dipelajari di museum, tuh."
"Iya tapi kamu keringet dingin terus pucat. Bentar lagi pingsan kamu kayaknya."
"Aku rela pingsan di museum, pingsan karena belajar sesuatu."
"Aku yang nggak rela. Udah kita keluar aja dari gallery ini."
Memang di dalam galeri potret itu, Rere merasa tubuhnya berat. Dia merinding juga. Akhirnya Rere setuju untuk keluar dari galeri itu.
********************************************
Mereka kembali ke Nirwana Jogja untuk makan siang, namun Rere makan siang sendiri di restoran hotel, karena Gio mengadakan meeting dengan Head Chef dan Direktur hotel itu. Apa lagi kalau bukan karena Gio merasa, gudeg di hotel itu kalah enak dengan gudeg kaki lima yang viral di kalangan pecinta kuliner.
"Kita to the point aja ya Pak. Saya juga akan ngomong ke ayah saya soal ini supaya kita bisa improve. Sebetulnya ini berat untuk diakui, tapi kenyataannya, gudeg kaki lima ini memang lebih enak dari gudeg kita. Bahkan lebih enak rasanya dari gudeg di Ranggatama Cuisine Restaurant. Jujur, saya malu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomanceRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
