Setelah Rere berbaring di kamar rawat inapnya yang VVIP juga, Papi berkata, "Kamu juga istirahat, Blue. Udah makan, belum?"
Papi menepuk-nepuk pundak kiri Gio, namun Gio berjengit lalu berkata, "Auw!"
Semua lalu membeku mendengarnya.
"Gi? Kamu kenapa?" Rere bertanya.
"Kamu juga luka, ya?" desak Mami.
"Nggak, Mi, aku cuma--"
"Ya Allah, iya! Tadi kamu kena trolley belanjaan, kan? Astaga, pasti memar kamu sekarang!" Rere berseru.
"Aku nggak apa-apa, nggak usah dipikirin. Itu cuma--"
"Buka sweater kamu. Papi mau lihat punggung kamu."
"Ck, nggak usahlah, Pi, aku nggak mau--"
"Buka, sebelum Papi lebih takut lagi."
Gio akhirnya menurut. Karena cuma ada keluarganya di situ, dia menarik lepas sweaternya begitu saja.
"Blue, astaga......" Mami berseru.
"Lo kenapa diam aja, sih dari tadi???" Helen bertanya, langsung menangis.
"Nggak ada apa-apanya ini dibanding luka Rere," Gio berkilah.
"Mana, aku lihat," pinta Rere.
"Nggak usah--"
"AKU LIHAT!!!" Rere berteriak.
Gio masih tak mau berbalik. Menurutnya, Rere sudah cukup stress untuk sehari.
Karena Gio masih tak mendengarnya, Rere berusaha turun dari ranjang.
"Jangan turun! Ya udah, nih, ampun, deh."
Dan Rere melihatnya. Memar besar di punggung Gio, melintang dari pundak kiri ke pinggang kanannya.
"Gi, ya ampun! Kenapa sih nggak diobatin dari tadi???" Rere jadi menangis lagi.
"I'm gonna be ok."
Papi sudah memencet bel untuk memanggil suster.
"My son has a really bad bruise. He needs treatment, immediately."
Sambil duduk, seorang suster mengobati Gio lalu memberinya painkiller.
"Wah, kita sama-sama dapat painkiller hari ini," Gio berkomentar untuk meringankan suasana. Dia lalu duduk di sebelah Rere. "Udah, hei, jangan nangis terus, Re, aku nggak apa-apa. Lho, eh, kamu demam."
"Kalian udah makan siang belum?" Papi bertanya.
"Belum."
Saat itu sudah jam 3 sore.
Jam setengah empat sore, mereka berlima makan kebab yang dijual di kantin RS. Gio menyuapi Rere yang tak bisa makan sendiri karena kedua tangannya terluka.
Rere demam tinggi malam itu, tapi dokter bilang itu bukan karena infeksi. Dia shock dan kelelahan saja. Malam itu Rere dan Gio menginap di RS.
Gio kesulitan tidur karena punggungnya memar sangat besar dan panjang. Dia juga merasa pusing karena sakitnya, dan terpaksa minum painkiller lagi.
Dia sudah meminta dibelikan kasur lipat, tapi pada akhirnya, dia tidur di ranjang pasien Rere, miring ke kanan, memeluk Rere.
Rere mendengar Gio merintih kesakitan ketika dia berbaring terlentang saat tidur.
"Gi....." Rere menangis melihat Gio meringis menahan nyeri.
"I'm gonna be ok......Kamu tidur lagi......."
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
Roman d'amourRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
