Author's Note:
Lagu dulu, lagu. Thank you ya yang mention lagu ini.
**********************************
(BACK TO THAT NIGHT, WHEN JEREMY PICKED HELEN UP FROM HER ACADEMY)
Mereka terdiam lama di dalam mobil Jeremy yang masih menyala, terparkir di depan teras mansionnya.
Jeremy berpikir, ada banyak alasan untuk tak berdua dengan Helen di waktu malam seperti ini. Mereka punya terlalu banyak emosi yang sudah lama mereka pendam. Jeremy takut memikirkan apa yang bisa terjadi kalau semuanya jadi lepas.
Apa mereka akan saling berteriak-teriak untuk menyalahkan atas semuanya?
Atau dia yang akan menangis, memohon seperti pengemis?
Apalagi pertahanannya yang sangat lemah kalau berhubungan dengan seorang Helen.
Lebih parah lagi, Helen dewasa tambah cantik. Tambah anggun. Tambah yakin dengan dirinya. Jeremy sungguh merasa mereka sebaiknya tak berada di suatu tempat berdua di waktu malam seperti ini.
Belum sempat Jeremy mengatakan argumen yang bisa merubah pikiran Helen, perempuan itu sudah membuka sendiri kunci pintu mobil di sisinya dan berjalan ke teras.
Gimana kalo aku aja yang kabur, pikir Jeremy kalut.
Helen menunggu.
Jeremy tak kunjung keluar dari mobilnya.
Akhirnya Helen kembali melangkah ke arah mobil. Suara high-heelsnya berbunyi keras di pelataran taman yang kosong itu.
Helen mengetuk jendela Jeremy.
Jeremy menurunkan jendelanya.
"Aku minta kunci rumah kamu."
Jeremy diam.
"Jer. I swear to God, if you don't move, I'm going to be really angry at you."
Dia akhirnya keluar dari mobil, berjalan ke teras, membuka kunci pintu depan, lalu mundur dan membiarkan Helen masuk.
Helen melangkah masuk.
Matanya menyapu, berusaha mencari beda dari terakhir dia ke situ, lebih dari tujuh tahun yang lalu.
ART selalu membersihkan rumah itu setiap pergi. Mansion itu bersih, tanpa cela. Dan mungkin malah itu yang membuatnya terlihat lebih dingin. Nyaris beku, bagai gambaran ideal hidup para orang kaya, yang tak pernah sepenuhnya bahagia.
"Kenapa kamu tetap tinggal di sini?" tanya Helen, berjalan masuk lebih jauh.
Lampu-lampu yang perlu dinyalakan untuk penunjuk jalan menyala di tempat yang tepat. Seperlunya saja.
"This is my root. It doesn't have many happy memories, but it has memories. I'm not going to let this go or rot."
Helen terus berjalan masuk, Jeremy mengikuti dari belakang.
Helen baru berhenti setelah dia sampai di ruang makan.
Kosong.
Sepi.
Dan lagi-lagi, dingin.
Berbeda sekali dengan Ranggatama Mansion yang ramai.
Entah itu ART yang sedang beres-beres, papi yang akhir-akhir ini baca novel di berbagai ruangan yang berbeda, mami yang sibuk merencanakan makan-makan dengan teman-temannya, Gio dan Rere yang berdebat tentang entah apa, atau si kembar yang sedang menyusun lego. Rumahnya tak pernah sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomanceRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
