92. The Disaster

1.2K 105 37
                                        

Author's Note:

Dicari: pembaca bermental baja. 

Kalian akan patah hati ke depannya, lalu tersakiti. 

Tapi aku janji, ada pelangi di ujung sana.

Btw, buat nulis angst fase ini, aku banyak dengerin lagu ini: 

**********************************

Banyak orang bilang, kamu belum benar-benar masuk ke hidup yang sebenarnya kalau kamu belum masuk ke dunia kerja. 

Dan menurut Gio itu sangat benar adanya. 

Laki-laki yang masih berusia 22 tahun itu kini harus bergelut dengan banyak kegiatan setiap harinya, namun energinya dipusatkan untuk renovasi Restoran Ranggatama Cuisine di Piccadily, London, yang dapurnya rusak parah akibat ledakan granat minggu sebelumnya. 

Saat ada banyak karyawan restoran itu yang masih dirawat karena terluka, restoran itu tentunya tak beroperasi dulu. 

Mereka yang masih dirawat di rumah sakit akan membaik, begitu laporan para dokter. Tak akan ada korban jiwa lagi, dan Gio sangat bersyukur untuk itu. 

Gio sedang bersiap untuk membuka kantor di London. Selama ini mereka memang punya banyak restoran di UK dan juga food carts, tapi tak ada kantor khusus. Urusan administrasi ditangani dari kantor setiap restoran, yang berupa ruangan kantor kecil di tiap restoran tersebut.

Namun dengan semua tugas-tugasnya, Gio merasa perlu kantor, juga merekrut beberapa staf, karena Dharma tak mungkin bisa menangani semuanya sendiri. 

Tak butuh waktu lama, Gio menyewa sebuah ruang kantor di Piccadily, yang berjarak dekat dengan restorannya. Kantornya berukuran kecil, karena memang belum perlu lokasi yang luas. Butuh satu hari untuk mengisi kantor itu dengan perabotan.

Kemudian dia dan Dharma menempati kantor itu, dan mulai merekrut karyawan. 

"Mau rekrut berapa staf?" tanya Gio pada Dharma.

"Dua dulu, gimana?"

"Nggak kurang? Urusan kita banyak banget, Mas."

"Dua dulu, nanti tambah lagi."

Dharma bertanya, apa ingin memprioritaskan orang Indonesia untuk jadi staf mereka, dan Gio mengangguk setuju. Dharma menelepon Kedutaan Indonesia untuk memasang iklan, mencari staf administrasi. Dia sengaja tak menyebut jumlah. 

Sebetulnya Dharma tahu, mereka membutuhkan setidaknya lima staf, karena urusan Gio betul-betul banyak. Mulai dari renovasi Ranggatama Piccadily, merekrut karyawan baru untuk restoran itu, belum lagi monitor semua restoran dan food carts yang ada.

Kedutaan dengan senang hati meneruskan iklan Dharma ke berbagai universitas di London, dengan sasaran mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di sana atau baru lulus dan mencari pekerjaan. 

Hari-hari mereka yang semakin serius dimulai. 

**********************************

Sementara itu, Rere memulai Winter Termnya, atau term keduanya di Oxford. 

Setelah kelas pertama di hari pertama kuliah, Rere mengajak Nathan bicara. Tentunya tak berdua, melainkan bersama Chieko. Dia pantang berduaan dengan Nathan. Harus ada saksi.

Mereka bertiga berdiri di salah satu taman belakang Saiid Building, yang saat itu sepi karena cuaca memang masih sangat dingin. 

"What the hell were you thinking??? Why did you send me that lingerie? What if my husband saw it?"

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang