87. Loyalty

1.2K 118 15
                                        

Author's Note: 

Rated scene sedikit di awal. Sangat sedikit, tapi tetep, sebaiknya dijauhi kalau kamu belum 18 tahun. Di KK 3,500 kata, di sini 3,300. Bedanya cuma sedikit, jadi kalian nggak kelewatan banyak kalo nggak beli di KK. Kecuali kalo kalian beneran nggak mau ngelewatin satu katapun dari cerita ini, silakan beli di KK.

Manis di awal, bikin emosi di akhir. 

Sabar ya, Sayangku. 

**********************************

Bangun di pagi hari dengan dipandangi Gio itu sudah biasa. Tapi Rere tak mengenali dekorasi kamarnya. 

Dengan suara mengantuk, dia bertanya, "Ini di mana?"

"Old Bank Hotel. Tadi malam kita ngerayain birthday kamu. Inget, nggak?"

Rere yang tadinya berbaring miring, kini berbaring terlentang. Malam sebelumnya agak samar di ingatannya, tapi yang pasti, dia ingat semuanya. Ingatannya seperti video yang buram di kepalanya. Sepertinya dia flirting parah dengan suaminya, dan have fun bersama di kamar. 

Dia bangun juga dalam keadaan xxxxxxxxx, hanya berbalut sprei dan bedcover. 

"Pusing, nggak? Kamu minum wine dua gelas semalam."

"Nggak, tapi aku nggak ingat yang semalam dengan jelas. Kayak samar gitu."

"Ya udah, nggak apa-apa, toh sama aku."

Gio membelai perut Rere, lalu tangannya naik ke xxxxxxx xxxx Rere. 

"Kamu pengen?"

"Iya. Sekali aja, Baby. Ya?"

"Oke," bisik Rere.

Rere masih mengantuk, jadi dia membiarkan tubuhnya dibelai tanpa bergerak. Gio bangkit dan duduk di antara kaki Rere, lalu membungkuk untuk mencium bibirnya. 

********************************************

"Sini. Kamu kejauhan," ucap Rere.

"Shit," Gio mengumpat.

********************************************

Setelah sama-sama puas, Gio berbaring di sebelah Rere. 

"Mau sarapan di lobby apa di sini?"

"Di sinilah. Kalo bisa di sini ngapain ke luar?"

"Oke," Gio lalu memesan room service. 

"Mau mandi duluan apa belakangan?"

"Kamu aja dulu. Aku masih ngantuk, beneran."

Gio mandi lebih dahulu. Ketika dia selesai, dia melihat Rere masih terbaring di posisi yang sama, mengecek hpnya. 

Andai suntikan KBnya Rere nggak diterusin, dia mungkin bisa hamil dengan cepat kalau kayak gini. Setelah seks, malas mandi, jadi benihku nggak cepet dibersihin dari dalam. 

Gio membatin seperti itu, melihat Rere berbaring malas di ranjang. 

Ini karena Rere kuliahnya masih siang. Kalau kuliah pagi dia pasti sudah rapi dan siap berangkat. 

Gio sungguh mulai berpikir ingin meminta Rere tak suntik KB lagi.

Tapi kalau dia ingin hidup Rere lebih tenang, dia harus bersabar sembilan bulan lagi, sampai S2 Rere selesai. 

Gio juga baru sadar beberapa hari ini. Dia lebih notice anak-anak di sekitarnya. Dia juga tak bisa menjelaskannya. Di umur 22, dia mulai ingin punya buah hati. Umur yang masih sangat muda untuk seorang laki-laki. 

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang