Author's Note:
Happy 100 chapters!
Terharu deh bisa sampai sebanyak ini chaptersnya.
Ini censored version ya. Aku cut 700 kata. Yang lengkap ada di KK seperti biasa.
**********************************
Di sinilah Rere dan Gio berada, tepat sebelum mereka bercinta untuk pertama kalinya sejak Rere hamil.
Rere duduk di ujung ranjang, dan Gio berdiri di depannya.
Parfum Hermes Gio yang tadi dibantingnya ke lantai sudah menggenang di satu sisi lantai sebelah ranjang, wanginya memenuhi kamar itu, membuat Rere rasanya menghirup bagian dari jiwa Gio. Dia merasa agak melayang, seperti minum rose wine.
"Kamu lagi mual atau pusing, nggak?"
"Nggak. Lagi oke."
"I want it, Re. Boleh, nggak?"
"Boleh. Tapi....."
"Tapi apa? Kalo kamu nggak enak badan, nggak apa-apa. Aku bisa nunggu lain hari."
"No, bukan itu."
"Terus?"
"It's......you know. My body has......changed. Aku nggak tahu kamu bakal masih suka atau nggak."
Sejenak Gio tertegun.
Dia menjawabnya dengan melepas kancing piyama Rere satu per satu.
Rere malu. Dan tak percaya diri.
Dia kurusan. Berat badannya turun. Tapi perutnya sedikit buncit. Belum besar, masih bulan ketiga. Namun dia agak malu untuk telanjang di depan Gio.
Terakhir mereka bercinta, dia masih sexy.
Dia baru sadar dari lamunannya saat Gio meletakkan tangan di perutnya.
"There are my babies in you. Your body changed because you're carrying my children. What else can be sexier than that?"
Saat Rere masih kaget dengan kata-kata itu, Gio sudah membaringkannya di ranjang.
"I want you. Aku pengen ngerasain Bunda dari anak-anakku lagi."
Gio membuktikannya. Dia menciumi dan membelai seluruh tubuh Rere. Membuatnya merasa cantik dan sexy, membuatnya merasa diinginkan, dan yang paling penting, membuatnya merasa dicintai.
**********************************
Gio lalu menyingkirkan semua kertas, buku, laptop dan iPad yang bertebaran di ranjang, agar mereka bisa berbaring bersama, berpelukan.
Di luar, hujan musim semi sedang turun, membuat cuaca terasa dingin. Gio lalu menyelimuti tubuh mereka dengan bedcover.
"Kayaknya........aku nggak kuat nggak main sampai kamu selesai lahiran. Kamu hot banget, sih. Kalo aku nggak tahan, aku minta, ya? Janji pelan-pelan."
"Kamu pikir......aku tahan nggak main sama kamu sampai aku selesai lahiran? Ya aku juga butuh, lah," jawab Rere.
Gio kaget. Jangankan Gio. Rere sendiri saja kaget dia bisa bicara seperti itu.
Dia ngomong apa sih?
Ini nggak salah?
"Ini tuh bawaan bayi, ya?"
"Kenapa sih? Nggak boleh? Nggak mau?" Rere bertanya dengan kesal.
"Nggaklah. Aneh aja kamu kayak gini. Kayak kamu......"
"Kayak aku apa?" nada Rere meninggi.
"Kayak kamu......bucin sama aku?"
"Ya biarin aja, sih? Kamu kan suami aku! Nggak mau dibucinin? Emangnya aku malu-maluin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
Roman d'amourRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
