Author's Note:
Angst banget ya. Yang kuat bacanya.
**********************************
Helen tak mengerti apa yang salah dengan tubuhnya kali ini.
Dia sudah di rumah sakit, dengan semua infus dan suntikan yang harusnya bisa mengurangi sakitnya.
Tapi dadanya tetap nyeri. Tubuhnya berkeringat dingin.
Dia heran.
Biasanya, dia akan baik-baik saja kalau menjaga diri.
Siapa yang ingin sakit? Tak ada.
Helen sudah makan sehat. Semua makanan seperti gorengan dan yang mengandung MSG sudah dia hindari. Dia sudah tidur cukup. Dia minum semua obatnya tepat waktu.
Tapi kenapa, hari itu dia bisa pingsan, bahkan mengalami serangan jantung ringan?
Entah kenapa juga, dia merasa butuh mendengar suara Bluey, kembarannya. Dia menelepon Bluey berkali-kali.
Masih tengah malam di UK. Harusnya Bluey masih terjaga. Dia hanya butuh mendengar suara kembarannya itu sekali.
Dia butuh tahu kalau Bluey baik-baik saja, tak terluka atau sakit sedikit pun.
Keningnya berkeringat dingin. Mami bangun lalu mengelap kening Reddy dengan tissue.
"Sakit, Sayang?"
"Sedikit, Mi."
Sedikitnya Helen itu bohong. Sejak dulu.
Mami tahu itu.
Sedikit tak pernah berarti hanya sedikit.
Mami memencet tombol untuk memanggil suster dan dokter.
**********************************
Sepanjang perjalanan singkat ke rumah mereka, Gio tak bicara, tapi tangannya mencengkeram setir kuat-kuat.
Sampai di rumah, dia menarik Rere masuk.
Begitu mereka masuk ke ruang depan, Gio mengunci pintu.
"How could you?" dia bertanya pada Rere. Nada sakit dan marah mengisi penuh nada suaranya.
"HOW COULD YOU???" Gio berteriak.
Gio menatapnya murka. Tapi yang lebih menghantam dada Rere adalah ekspresi tersakiti dan kecewa di wajah Gio.
"It's......just a game......Truth or dare......."
Gio tertawa hambar.
"Jangan coba bohongin gue."
Gue. Tak ada lagi aku.
Kalau murka, Gio bicara lagi dengan Rere memakai "Lo-Gue."
"You were kissing him back. I know that, Re. I know how you look when you're turned on."
Seketika, Rere langsung merasa jadi perempuan paling kotor sedunia.
"I build my life around you!!! Gue kasih apapun yang lo mau, Re!!! Dan ini balasan lo buat gue???"
"Gi......nggak gitu......."
"NGGAK GITU APANYA???"
Gio tak pernah kasar padanya. Tak pernah membentaknya. Namun kini Gio berteriak sekuat tenaga.
Rere tahu dia pantas mendapatkannya.
"Gue ini nggak ada artinya ya, buat lo?"
Rere langsung mulai menangis mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomanceRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
