114. The First Funeral

1.1K 111 34
                                        

Aji sedang berbaring di atas selimut tebal yang mereka gunakan untuk piknik di sebuah taman dekat Oxford University. 

Helen berbaring di sebelahnya sambil membaca novel. 

Mereka baru selesai makan siang, dan Aji merasa mengantuk. 

"Kak, bentar lagi aku ketiduran nih kayaknya."

Helen mengecek hpnya. 

"Tidur aja dulu. We still have an hour before we need to go."

Saat itu adalah dua tahun sejak Aji berangkat ke UK. 

Saat dia tiba, Helen sudah selesai kuliah di Oxford Drama School. Dia masih punya banyak proyek di situ, jadi mereka selalu bertemu. 

Aji bahagia.

Selama setahun pertama, mereka mengunjungi semua museum dan tempat-tempat bersejarah yang ingin mereka datangi. 

Ke British Museum, Tower of London dan Westminster Abbey. Makam Princess Diana dan Windsor Castle. Jane Austen dan Shakespeare tour. Bahkan merasakan hidup ala Regency era. 

Ada sebuah area yang diset khusus seperti Inggris di awal 1800-an, dan Helen serta Aji merasakan tiga hari menginap di resort itu, memakai pakaian ala orang kaya abad itu dan hidup tanpa listrik dan teknologi lainnya. 

Karena mereka hidup ala Lord dan Lady, hidup mereka di situ tetap nyaman. 

Aji sangat, sangat bahagia. 

Dia bisa bertemu Helen sering-sering, berada di sebelahnya, membagi aspirasi dan mimpi dengannya. 

Walaupun ada ragu yang terselip di hatinya, dia berusaha untuk tak memikirkannya, dan terus menikmati "happy endingnya."

**********************************

Aji tak pulang saat lebaran. 

Dia tak ingin. 

Dia selesai S2 setahun setelah dia di UK. 

Tak ada anggota keluarganya yang datang ke wisudanya. Semua sedang sangat sibuk, kata mereka. 

Aji tak kaget. 

Dia bahkan tak sedih. 

Untuk apa? Dia tahu keluarganya terlalu rusak untuk berharap ini-itu. 

Helen merangkulnya saat dia wisuda, dan dia juga makan siang wisuda bersama gadis pujaannya dan Gio, Rere serta anak kembar mereka yang saat itu berusia dua tahun. 

**********************************

Namun ketika Mamanya meninggal, Aji pulang. 

Dengan air mata yang membanjir, dan Helen yang memegangi tangannya sepanjang perjalanan pulang. 

Dia, Helen dan Jeremy bertemu lagi di pemakaman Mama mereka. 

"Maaf ya, Ji, gue nggak bisa jagain Mama," Jeremy berkata. 

"Nggak, Bang. Mama udah bebas sekarang. Abang jangan nyalahin diri sendiri."

Sebelum Aji berangkat, Jeremy meneleponnya. Telepon pertama mereka dalam dua tahun. 

"Ji. She died because of suicide. Obat tidur. Maaf, gue kira gue udah buang semuanya. Ternyata dia beli sendiri."

Aji mendengar suara Jeremy yang sangat lemas dan datar, seolah dia berfungsi hanya karena harus, tak punya pilihan lain. 

Dia curiga sesuatu juga tentang kakaknya itu, tapi dia berusaha tak memikirkannya. 

"Ji, di Islam kan, Mama harus dimakamkan secepatnya. Lo mau kita nunggu lo atau nggak?"

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang