Rere dulu memimpikan bisa kuliah di Oxford, lalu wisuda dan mendapat gelar yang prestisius itu. Yang tak terbayangkan olehnya adalah wisuda di Oxford dalam keadaan hamil tujuh bulan, dengan perut besar mengandung anak kembarnya, dan wisuda itu dihadiri oleh orangtuanya beserta suami dan keluarga suaminya.
Di umur 22 tahun, hidup Rere sudah sangat berubah.
Tapi dia tak menyesal.
Dia bahagia.
Gio memeluknya setelah acara wisuda itu selesai. Rere balas memeluk sambil memegang gulungan ijazahnya.
Perutnya yang membesar berada di antara mereka. Saat Gio memeluknya, dia memeluk anak kembar mereka juga.
"So proud of you," Gio tersenyum bahagia.
"Can't do it without you."
Gio tertawa, sebelum mencium Rere lembut lalu membiarkan keluarga mereka memeluknya.
Mereka lalu makan siang di Turtle Bay, sebuah restoran seafood terkenal.
"Hebat banget ya, biarpun hamil dan kehamilan kamu berat, kamu tetap bisa lulus dengan luar biasa. Nggak salah kita pilih menantu," Papi mengacungkan squashnya tinggi-tinggi. "Sekali lagi selamat, Rere."
Rere tersenyum, "Makasih, Papi."
"Lucu banget, ya, ngidamnya kamu dan saya bisa sama persis. Dulu, saya juga nggak bisa makan pas hamil, kalau bukan Mas Har pura-pura makan dulu," Mami berkata sambil tersenyum.
"Iya, Mami. Aku juga baru denger ada ngidam kayak gitu."
"Tapi biarpun ngidamnya mirip, semoga ponakanku dua-duanya sehat, jangan ada yang kayak aku," Helen menambahkan, membuat Rere tanpa sadar langsung membelai perutnya sendiri.
Helen ada cacat jantung bawaan, diperparah dengan tragedi penculikan saat maminya nyaris melahirkannya.
Gio langsung meraih tangan Rere.
Wajah Rere berubah pucat. Kaget dengan kekhawatiran yang tiba-tiba menerpanya kencang.
"Dokter bilang mereka sehat," Gio mengingatkan, "Jangan mikir aneh-aneh."
Rere memandang Helen, yang duduk di sebelahnya. Matanya berkaca-kaca, mendadak takut.
"Eh, maaf, Re, aku nggak bermaksud--"
"Kalau--" Rere memulai.
"Nggak. Ponakanku pasti sehat," Helen meyakinkan. Senyum Rere terlihat tak yakin, tapi dia berusaha menghilangkan kekhawatirannya.
Sehat. Kembarku sehat. Sehat, sehat, sehat.
Suasana di meja itu mendadak berubah kaku, tapi Rere tertawa. Agak dipaksakan, tapi mengulang apa yang Gio katakan.
"Dokterku bilang mereka sehat, kok. Dan mereka juga sama seperti Ayah dan Auntynya, laki-laki dan perempuan. Aku bakal langsung punya dua anak lengkap gendernya."
Berita ini membuat semua orang berseru gembira.
"Kamu udah siapin nama buat mereka?" Papi bertanya.
"Udah. Rencananya mau mirip aku dan Reddy. Papi kan namanya Hardian, anak perempuannya Helen, sama-sama awalan H. Mami namanya Gia, anak laki-lakinya Gio, sama-sama awalan G. Aku mau namain anak perempuanku Gwendolyn. Panggilannya Gwen. Yang laki-laki bakal kunamain Richard, biar R awalnya, sama kayak Rere."
"Gwen dan Richard Ranggatama. Sounds good," Papi tersenyum lebar.
"Nama tengahnya belum yakin. Pengen nama Indonesia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomanceRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
