Part 8 - Acara Sekolah(2)

5.4K 293 2
                                        

"Lo kenapa kemarin ngga bilang kalau lo cidera?" Protes Daffa setelah Ica menyelesaikan makan siangnya.

"Gue ngga perlu lapor siapa-siapa juga udah pada tau kan?" Jawab Ica santai sambil membereskan tempat bekalnya.

"Tapi Daffi--"

"Dia tau sendiri dari orang yang gue tolong."

Daffa diam sejenak sambil memperhatikan Ica yang masih membereskan bekalnya setelah menghabiskan minumnya.

"Lima menit lagi jam istirahat beres, gue mau liat yang lain dulu."

Ica melangkah keluar kelas namun tangan kanannya ditahan oleh Daffa.

"Lo istirahat aja."

Ica menatap kesal pada sepupunya ini, "lo jangan kayak yang lain bisa ngga sih Fa? Tangan kiri gue cuma memar, gue masih punya dua kaki dan tangan kanan yang berfungsi dengan baik jadi gue masih bisa beraktifitas!"

Ica melepas paksa tangan kanannya dan melangkah pergi dari kelas.

"Oke tapi biarin gue temenin lo." Ucap Daffa setelah menyusul Ica.

"Terserah."

Daffa mengikuti Ica memeriksa beberapa tempat untuk acara selanjutnya.

Saat masuk ke ruang auditorium, mereka bertemu Ken yang terlihat menjelaskan sesuatu pada salah satu panitia.

Ponsel Daffa berbunyi setelah berada dekat dengan Ken.

"Ken, gue titip si Ica dulu, Daffi dan Ico perlu bantuan di gedung olahraga."

Ken hanya bergumam menjawab permintaan Daffa.

"Lebay banget sih, emangnya gue anak kecil." Gerutu Ica setelah Daffa pergi.

"Lo harusnya bersyukur dikasih perhatian gitu."

Ica melirik sinis Ken yang tengah asik membaca beberapa lembar kertas ditangannya.

Ica berjalan menjauhi Ken ke arah panggung. Sedang asik melihat beberapa panitia yang sedang mengecek sound serta alat musik yang akan dipakai sore nanti untuk lomba band, tiba-tiba tangan kanannya ditarik oleh seseorang.

Ica sedikit terhuyung namun sebuah lengan berhasil menangkapnya.

"Lo kerja jangan sambil melamun." Ucap dingin orang yang menolongnya, Ken.

"Lo juga ngapain tiba-tiba narik gue?!" Sewot Ica tak terima.

Ken menunjuk ke arah kiri Ica. Otomatis mata Ica melihat ke arah tangan Ken menunjuk, seorang siswa sedang berjalan menjauhi mereka sambil kesusahan membawa beberapa dus ditangannya.

"Lengan kiri lo bakal lebih lama sembuh kalau tadi kalian tabrakan." Ken kembali membaca lembaran kertas ditangannya lalu berbalik pergi.

"Makasih." Cicit Ica masih terdengar oleh Ken. Ken tersenyum kecil tanpa melihat ke arah Ica lalu kembali melangkah ke tempatnya semula berdiri.

"Ca--" panggil seorang siswi.

"Ya?"

"Itu ada sedikit masalah." Lapornya dengan sedikit panik.

"Ada masalah apa?"

"Di lapangan futsal, kelas 3A dan 2D ribut usai pertandingan."

Ica menaikan satu alisnya, "masalahnya?"

"Katanya kelas 2D melakukan kecurangan waktu main."

Ica menghela nafasnya. "Oke gue--"

"Ayo gue bantu." Ucap Ken yang tiba-tiba muncul disamping Ica.

My Dearest EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang