Setelah dirawat dua hari di rumah sakit, akhirnya Ica diizinkan pulang dan beraktifitas seperti biasa.
Waktu yang tersisa dipakai Ica mempersiapkan pertandingannya yang tinggal sebentar lagi. Hingga saat harinya tiba.
"Lo udah siap Ca?" Tanya Ico begitu Ica keluar dari kamarnya mengenakan seragam basketnya.
"Udah beres." Ica memakai tas punggungnya lalu melangkah ke ruang makan diikuti Ico yang juga sudah siap ke sekolah.
"Nanti Ica pulangnya rada malem kayaknya Ma." Ucap Ica sebelum pamit pada orangtuanya.
"Ica yang penting hati-hati." Pesan sang Mama. Ica mengangguk lalu mencium pipi kedua orangtuanya dan mengikuti Ico yang juga sudah berpamitan ke garasi rumah mereka.
Ico memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Sudah ada bus yang akan membawa rombongan tim basket.
Karena ketua OSIS adalah peserta, maka Ken yang menjadi wakil OSIS untuk ikut ke acara pertandingan tersebut. Pertandingan akan diadakan di salah satu SMA di Jakarta.
Semua peserta langsung dipersilahkan memasuki bus setelah mendapat beberapa pengarahan dari kepala sekolah dan pelatih mereka.
"Nih lo pake." Ken tiba-tiba menyodorkan jaket hitamnya ke depan wajah Ica saat Ica sudah duduk di dalam bus.
"Kenapa?" Tanya Ica heran,
"Pake aja." Suruh Ken lalu mengambil duduk di samping Ica.
Tanpa bertanya lagi, Ica menurut memakai jaket yang diberikan Ken.
Carlos yang berencana duduk di samping Ica, harus mengurungkan niatnya karena sudah ada Ken yang lebih dulu di sana.
Ica tidak sadar akan kehadiran Carlos karena dirinya sedang sibuk melihat ponsel pintarnya, begitupula Ken dengan wajah datarnya.
Bus memasuki kawasan sekolah lokasi pertandingan. Sudah ada beberapa bus lain yang tiba membawa tim dari sekolah lain. Suasana nampak sangat ramai.
Ica bersama yang lainnya berjalan ke arah gedung olahraga yang akan digunakan. Setelah melakukan registrasi ulang, mereka segera mencari tempat duduk.
"Ini skema pertandingannya," Ken yang duduk di samping Ica menyerahkan skema pertandingan basket putri padanya.
Pertandingan tim basket putra dan putri dipisah. Yang putri di lapangan indoor sedangkan yang putra di lapangan outdoor.
"Lo yakin mau nonton di sini? Ngga ke pertandingan yang cowo?" Tanya Ica setelah menerima skema pertandingan yang diberikan Ken.
"Males," jawab Ken datar, "di sana penontonnya mayoritas cewe, kalo udah siang juga panas."
Ica melihat sekitar, dan benar di sini mayoritas penonton cowo, otomatis mayoritas cewe menonton pertandingan basket putra.
"Ya wajar sih kalo disini yang lebih banyak cowo." Ica mengangkat sekilas bahunya.
Pertandingan di mulai. Kursi penonton di dua lapangan sudah penuh. Terdengar riuh saat para tim yang akan bertanding memasuki lapangan, bahkan selama jalannya pertandingan, tidak ada penonton yang berdiam diri, semua menyorakan dukungan membuat suasana lapangan terasa panas.
Tim Ica mendapat jadwal bertanding sebelum jam makan siang. Ica memimpin timnya berdoa bersama sebelum turun ke lapangan.
Ken memilih menonton dari bangku pemain yang sedang bertanding.
Permainan dimulai tak lama setelah Tim Ica dan lawan masuk ke lapangan. Persaingan sengit terlihat. Kedua tim sama-sama kuat. Sorakan penonton membuat suasana semakin ramai terutama saat Ica sedang mendapatkan bola, seolah Ica lah bintangnya di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Enemy
عاطفية"Aku sudah sangat tidak menyukainya sejak kami masih memakai diapers!" -Angelica Wijaya- "Melihat wajah manisnya yang kesal karena ulahku, menjadi kesenangan sendiri untukku." -Kenneth Adhitama- -------------------------- Action - Romance
