Siang ini cuacanya cukup mendung, namun tidak dengan Ica, cuaca hatinya sedang panas. Pasalnya hari ini akan diadakan rapat untuk melaporkan perkembangan persiapan kerja selama seminggu namun sudah satu jam lebih setengah koordinator pengurus belum hadir tanpa konfirmasi.
Sandra sejak tadi sibuk meredakan emosi si ketua OSIS sedangkan yang lain termasuk Ken sedang berusaha menghubungi.
"Niat kerja ngga sih?!" Sergah Ica kesal.
"Oke Ca lo tarik nafas dulu terus hembuskan, lo dinginin dulu otak lo ya jangan langsung emosi."
"Beberapa koordinator sedang menuju ke sini." Lapor Arga.
"Bagian humas dan perlengkapan juga sedang menuju ke sini." Timpal Vika.
"Inget ya Ca, dengerin dulu alasan mereka baru lo boleh ngamuk!" Ucap Rado mengompori.
Sandra langsung menatap tajam pada si Bendahara OSIS ini. Rado hanya memamerkan cengiran lalu kembali diam.
"Pokoknya jangan langsung emosi, lo serahin aja ke kita ya." Ujar Sandra mengusap pundak Ica.
Ica terdiam di tempatnya saat semua koordinator sudah hadir setengah jam kemudian.
Ken mengambil alih.
"Kenapa kalian baru datang? Apa belum ada pemberitahuan kalau hari ini ada rapat?" Tanya Ken menatap satu persatu siswa dihadapannya.
Semua terdiam.
"Coba saya mau dengar alasan kalian," sela Sandra.
Semua menyebutkan alasan masing-masing yang membuat kepala Ica semakin ingin meledak.
BRAK!
Semua terlonjak kaget saat Ica mendadak menggebrak mejanya.
"APA KALIAN NGGA PUNYA NOMOR GUE?! ATAU KALIAN NGGA PUNYA HP HAH?! NGGA BISA BICARA ATAU KONFIRMASI?!"
"Lupa, sakit, ada urusan, kalian pikir gue ketua OSIS gak punya hati yang ngga akan memberikan izin kalau punya keperluan mendesak?! Dan buat yang lupa, apa gue ngga kasih pemberitahuan sebelum pulang sekolah?! Seberapa panjang daya ingat kalian Hah?!!"
Semua terdiam melihat amarah Ica yang meledak.
Sandra memberikan kode pada Ken untuk menenangkan Ica karena dirinya juga sedikit takut melihat amukan Ica tadi.
Ken berdiri dibelakang Ica, menyentuh kedua pundak Ica, "lo duduk dulu aja gue bakal tangani." Bisik Ken.
Ica memejamkan matanya sejenak lalu kembali duduk di kursinya.
"Kalian sudah dengar kan? Kami tidak melarang jika kalian punya kesibukan, tidak hanya kalian, kami juga punya kesibukan masing-masing, bahkan setelah rapat ini Ica masih harus latihan karate, gue yakin kalian punya hp dan kenapa ngga memberi kabar jika memang berhalangan. Untuk yang lupa, seperti kata Ica tadi, apa kalian ngga dapat pemberitahuan saat jam pulang sekolah tadi?"
Salah satu dari para koordinator maju dan mengatakan permintaan maafnya pada Ica dan pengurus inti yang lain. Kemarahan Ica sudah mereda dan rapat dimulai.
"Gue harap kejadian hari ini ngga akan terulang lagi, ini semua kita buat untuk nama baik sekolah kita, kalian paham?"
"Paham."
Ica menutup rapat. Semua membubarkan diri kecuali para pengurus inti.
"Gue cabut dulu ya, udah hampir telat latihan." Ica berdiri dari kursinya.
"Semangat ya Ca!" Ucap Sandra, Ica tersenyum kecil.
"Nanti gue jemput." Ujar Ken.
Ica mengangguk sekilas lalu keluar dari ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Enemy
Romance"Aku sudah sangat tidak menyukainya sejak kami masih memakai diapers!" -Angelica Wijaya- "Melihat wajah manisnya yang kesal karena ulahku, menjadi kesenangan sendiri untukku." -Kenneth Adhitama- -------------------------- Action - Romance
