Part 88 - Mission Begin

2.6K 164 15
                                        

Ketiga tim yang sudah dibagi segera berangkat menuju lokasi masing-masing. Untuk meminimalkan kecurigaan, maka dalam satu tim dibagi kembali dua-dua dalam satu mobil.

Setelah memastikan bahwa alat komunikasi terpasang dengan baik, semua bergerak masuk ke dalam mal.

"Berpencar." Bisik Ica pada timnya.

Semua langsung berjalan masing-masing menyusuri setiap bagian dalam mal.

Setengah jam berkeliling, belum mendapatkan hasil. Ica menajamkan setiap inderanya untuk memperhatikan sekitar agar tidak ada yang terlewat.

"Tim A berhasil segera menuju B."

"Jadi benar ya." Gumam Ica.

Selang beberapa detik dari laporan tim A, tim C pun demikian.

Ponsel Ica yang biasa ia pakai saat misi berdering, Ica melihat sejenak Id pemanggilnya sebelum menjawab panggilan tersebut.

Silver calling...

"Ternyata dugaanmu benar," ujar Liam setelah Ica manjawab panggilan Liam, "sekarang kami sedang menuju ke tempat kalian."

"Oke."

Ica menyimpan kembali ponselnya lalu mulai pencarian lagi. Belum ada laporan bahwa bom yang mereka cari ditemukan.

Lelah berjalan, Ica masuk ke bagian penjualan sepatu dan duduk di tempat yang biasa dipakai untuk mencoba barang jualan. Ica mengambil salah satu sepatu dan seolah sedang mencobanya sambil terus mengawasi sekitar.

Gue yakin barang itu diletakkan di tempat yang tidak terpikirkan sama sekali, atau yang akan jarang untuk didatangi. Tapi di mana?

Merasa cukup beristirahat, Ica keluar dari toko sepatu dan berkeliling lagi.

Seperti yang mereka duga, pengunjung mal hari ini sangat ramai. Rasanya cukup melelahkan mencari diantara keramaian ini, namun mereka tidak bisa bersantai, karena waktu yang dikatakan sebagai batas permainan ini adalah sore nanti. Maka dari itu bom harus segera mereka temukan.

Ica melirik sejenak jam tangannya, sudah hampir jam makan siang.

Tim A dan C sudah tiba di tempat tim B dan segera membaur.

"Master."

Ica menoleh dan mendapati Windy sudah berada di belakangnya.

"Masih belum ada perkembangan?" Tanya Ica.

Windy menggeleng lemah, "gue boleh nyari bareng lo kan? Ngga enak jalan sendirian tau."

Ica tersenyum kecil dan mengangguk, keduanya berjalan kembali bersampingan.

"Gue udah coba cari ke semua toilet," ujar Windy dengan suara sangat pelan namun masih terdengar oleh Ica, "dan nihil."

"Baiklah, toilet dicoret."

Ica membawa Windy ke salah satu toilet, "di sini juga sudah?"

"Udah semua master."

Toilet sedang sepi, sebelum ada pengunjung yang masuk, Ica segera menyalakan alat komunikasinya.

"Laporkan perkembangan pencarian, sudah area mana saja yang ditelusuri?" Tanya Ica. Semua melaporkan area-area yang mereka datangi namun hasilnya tidak ada.

Ica kembali mematikan alat komunikasinya, "oke, beberapa area sudah gue eliminasi, jadi masih ada sedikit yang bisa kita periksa." Ica berjalan keluar toilet diikuti Windy.

Sambil berpikir, kaki Ica terus melangkah melewati beberapa pengunjung dan toko. Windy mengikuti Ica sambil melihat keadaan sekitar.

"Jam berapa sekarang Win?"

My Dearest EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang