Ken memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah rumah yang cukup megah.
Pulang tadi, Ica cukup sulit mencari alasan untuk keluar bersama Ken sebab status mereka yang selalu bermusuhan dan Ica tidak mau mengatakan ke mana mereka pergi karena dengan begitu Ica juga harus menceritakan aksi heroiknya dua hari lalu dan Ica tidak mau.
Akhirnya alasan OSIS yang ia katakan.
Ica dan Ken melangkah menuju sebuah pintu besar rumah tersebut. Pintu terbuka sebelum Ica menekan tombol bel.
"Terima kasih akhirnya kalian mau datang." Ucap Andrew yang membukakan pintu untuk Ica dan Ken.
Ica hanya tersenyum lalu mengikuti Andrew setelah dipersilahkan masuk bersama Ken.
"Selamat datang." Ucap ramah seorang pria dengan senyum kecilnya. Wajahnya cukup tampan dan berwibawa, Ica memperkirakan usianya sekitar 40 tahunan. "Mari silahkan duduk."
Ken dan Ica menempati sofa dihadapan pria tersebut dan Andrew duduk di sebelahnya.
"Perkenalkan, saya Thomas, Om dari Andrew, pasti Andrew sudah menceritakan."
Ica mengangguk dan tersenyum.
"Ica dan Ken, benar?"
"Ya benar." Jawab Ken.
Thomas kembali tersenyum, "saya mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian menyelamatkan keponakan saya, selain itu ada sesuatu yang ingin saya sampaikan juga."
Thomas menatap Andrew seperti memberikan kode yang langsung diangguki Andrew. Andrew mengambil laptop yang sejak tadi diletakan di sampingnya lalu membukanya.
"Saya melihat rekaman CCTV saat kejadian tersebut, dan saya yakin kalian anak-anak yang cukup berbakat dan dapat dipercaya."
Andrew memutar laptop tersebut di meja dihadapan mereka hingga layar laptop mengarah pada Ken dan Ica.
"Saya butuh bantuan kalian."
"Bantuan?" Tanya Ica.
Thomas mengangguk, "bos perampok kemarin merupakan ketua perdagangan gelap senjata--"
"Maaf Om," sela Ica, "jika maksud Om kami harus membantu soal penangkapan perdagangan gelap ini, kami tidak bisa karena kami bukan agen rahasia, BIN, FBI, CIA atau polisi, ini permintaan yang terlalu besar dan sulit."
Thomas tertawa renyah, "kalian jangan khawatir, soal itu saya sudah paham."
"Jadi sebenarnya anda ini siapa sampai mau mengurusi masalah kejahatan seperti ini?" Ken akhirnya membuka suara.
"Mari ikut saya." Thomas berdiri dan berjalan lebih masuk ke rumahnya, Ica, Ken dan Andrew mengikutinya.
Thomas masuk ke dalam ruang kerjanya, memutar sebuah buku di salah satu rak hingga rak tersebut bergeser ke kanan dan terlihat sebuah ruang rahasia.
"Tiba-tiba gue merasa masuk ke film action." Gumam Ica.
"Ini ruang rahasia saya, Bank itu hanyalah pekerjaan sambilan saya, saya adalah pemimpin sebuah agensi rahasia di London namun setelah orang tua Andrew meninggal, saya pindah ke Indonesia untuk mengasuhnya di sini."
Ica menatap Andrew yang juga menatapnya dengan tersenyum.
"Agen rahasia anda masih berjalan?" Tanya Ken.
"Ya tapi bukan di sini, masih di London, saat ini di handle orang kepercayaan saya. Namun beberapa agen mengikuti saya ke Indonesia dan saat ini mereka berada di markas cabang dan punya kegiatan masing-masing, kami tidak banyak bergerak, saat ini tugas mereka hanya memantau Andrew saat saya tidak berada disampingnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Enemy
Romansa"Aku sudah sangat tidak menyukainya sejak kami masih memakai diapers!" -Angelica Wijaya- "Melihat wajah manisnya yang kesal karena ulahku, menjadi kesenangan sendiri untukku." -Kenneth Adhitama- -------------------------- Action - Romance
