Windy hanya bisa meneguk ludahnya beberapa kali, Ica belum bergerak dari posisinya mengawasi sesuatu di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Windy.
"Master." Bisik Windy.
Ica menempelkan kembali telunjuknya di depan bibirnya, membuat Windy gemas ingin berteriak. Rasa penasarannya kini mengalahkan rasa takutnya, kalau saja Ica bukan masternya mungkin saat ini Windy sudah mendorong Ica menjauh dan melihat sendiri apa yang sedang diawasi gadis itu.
Namun mengingat Ica masih lebih kuat darinya maka Windy mengurungkan niatnya itu.
Ica tiba-tiba menggeser Windy agar lebih bersembunyi lalu ikut bersandar di dinding tepat di samping Windy sambil masih mengawasi ke luar persembunyian.
Tangan Ica menggenggam erat tangan Windy, terasa dingin seperti yang Windy rasakan kemarin.
Sesekali Ica melihat jam tangannya lalu kembali menoleh ke samping.
"Hatsy--fftt!" Windy langsung menutup mulutnya, di sampingnya, Ica sudah menatapnya tajam.
"Bodoh!" Umpat Ica dengan berbisik.
"Siapa itu?!" Tiba-tiba terdengar suara berat membuat Windy menatap horor ke arah Ica.
"Sial sial sial!" Ica memejamkan matanya erat.
Windy mulai kembali takut, genggaman tangannya pada Ica ia eratkan.
Ica berusaha mengatur nafasnya agar setenang mungkin.
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Lo lari sekarang," perintah Ica, "gue bakal menghalangi dia lebih dulu, tunggu gue di mobil." Ica memberikan kunci mobil Ico pada Windy.
Windy membulatkan matanya, "tapi master--"
Ica kembali menatap tajam Windy, "ini perintah agen Swan!"
"Ba-Baik Kapten!"
Windy segera berlari sekuat mungkin menuju gerbang belakang. Terdengar suara pria meneriakinya namun Windy tidak menghentikan kakinya. Saat Pria itu berlari melewati persembunyian Ica, Ica memasang kakinya hingga pria itu tersandung dan tersungkur, Ica pun memakai kesempatan itu untuk mengejar Windy.
Windy sudah lebih dulu tiba di dekat mobil dengan nafasnya yang tak beraturan lalu memegang dadanya yang terasa sesak karena detak jantungnya yang berdetak terlalu cepat.
Ica belum terlihat, Windy berharap masternya segera sampai dengan selamat.
"Bego bego bego!" Windy menepuk-nepuk keningnya, "kenapa gue pake acara bersin sih tadi!"
Windy segera masuk ke mobil sambil menunggu Ica.
¤¤¤
Ica sudah terkepung oleh lima orang pria yang tiba-tiba muncul saat akan menyusul Windy.
"Siapa ini bos?" Tanya salah satu pria pada bosnya yakni pria yang tadi dibuat Ica mencium lantai koridor.
"Gue ngga tau, tapi yang pasti kita harus habisi dia sebelum dia membuka mulutnya dan melaporkan kita. Baru setelah itu kita cari temannya yang gue yakin masih di sekitar sini menunggunya."
Ica mulai memutar otaknya, ia tidak ingin kelompok pria ini menemukan Windy, maka dari itu Ica harus segera membereskan mereka. Namun masalahnya adalah, Ica tidak membawa satupun alat, semua ditinggalnya di dalam tas yang ia taruh di bangku belakang mobil Ico. Hanya jam tangannya yang ia bawa saat ini.
"Kenapa ngga kita nikmati aja dulu baru kita habisi dia." Usul pria yang lain.
"Bener juga, lumayan menarik nih cewe, jarang-jarang kita dapat gadis SMA bos." Sahut pria di sampingnya.
Pria yang merupakan bos mereka tersenyum miring, "kalau begitu aku duluan," pria itu mencengkram tiba-tiba pergelangan tangan Ica, membuat Ica reflek meninju keras hidung pria itu dengan tangannya yang lain.
Si bos melepaskan cengkramannya dan memegang hidungnya yang mulai mengeluarkan darah.
"Kurang ajar!" Geramnya, "habisi langsung saja dia, kita tidak akan bisa main-main dengan gadis ini!"
Ica langsung memasang kuda-kudanya untuk bertarung.
Beberapa kali Ica berhasil menjatuhkan setiap pria yang menyerangnya, namun mereka masih dapat kembali menyerang Ica.
Sial, gue harus segera pergi dari sini.
Ica merasakan nyeri yang sangat luar biasa dipundak kanannya saat sebuah benda keras tiba-tiba dipukulkan padanya saat sedang bertarung.
Ica memundurkan sedikit langkahnya sambil memegang pundaknya yang terasa sangat sakit saat ini.
Bos dari kawanan itu mendekati Ica dengan pisau ditangannya lalu mencengkram kerah kemeja Ica, "maaf nona manis, kami harus melenyapkanmu sekarang karena kamu sudah melihat kami."
Ica menatap tajam pria itu, merasa tidak takut dengan ancamannya.
Sebuah teriakan membuat pria itu mengurungkan niatnya membunuh Ica lalu memerintahkan anak buahnya untuk segera pergi.
Daffa berlari mendekati Ica, kawanan pria yang tadi mengepung Ica sudah menghilang di tengah kegelapan.
"Lo--"
Ica sudah melangkah pergi sebelum Daffa berbicara. Daffa mendengus kesal lalu menyusul Ica hingga mendekati mobil di mana Windy berada.
"Master!"
"Lo ikut Daffa sekarang, pulang ke rumah lo." Ica menatap tajam Windy membuat Windy bungkam. Windy tau mood masternya saat ini sedang tidak baik.
Daffa segera menarik Windy ke mobilnya, Daffa juga sedang tidak ingin ribut dengan Ica malam ini, ia akan meminta penjelasan pada sepupunya itu besok.
Setelah Daffa dan Windy pergi, Ica masuk ke dalam mobil Ico. Rasa nyeri di pundaknya kembali muncul saat menyalakan mesin mobil. Ica menahan rasa sakitnya lalu menjalankan mobil pulang ke rumahnya.
Ica langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menegur Ico yang sudah muncul di depan kamarnya. Ico menatap heran pintu kamar adik kembarnya yang sudah tertutup. Ia memutuskan masuk ke dalam kamarnya kembali, tidak berniat mengganggu Ica. Ico tahu, mengganggu adik kembarnya yang sedang dalam keadaan mood yang tidak baik hanya akan membuat perang.
¤¤¤
Ica berjalan malas menuju ke kelasnya. Ingin rasanya pagi ini ia tidak masuk sekolah namun ia tidak tahu harus beralasan apa pada Mamanya. Jika mengatakan karena sakit, Mamanya adalah seorang dokter, maka bisa dipastikan akan mencari penyebab dirinya sakit. Ica tidak ingin sakit di pundaknya diketahui oleh sang Mama, mungkin Ica akan minta bantuan Carter pulang sekolah nanti untuk memeriksanya.
Ken tersenyum sumringah saat melihat Ica berjalan mendekat ke arah tempat duduk mereka, namun senyum Ken menghilang melihat wajah suram Ica.
"Lo kenapa?" Tanya Ken dengan nada khawatir.
Ica menggeleng sekilas, "ngga apa."
"Lo jangan bohong."
"Gue ngga apa Ken!" Nada bicara Ica meninggi, membuat Ken terdiam, Ica langsung sadar dan menunduk sedikit, "maaf, gue ngga bermaksud--" Ica kembali mengangkat wajahnya menatap Ken saat merasakan usapan lembut di puncak kepalanya.
Ken tersenyum hangat padanya membuat hati Ica mencelos, "ngga apa, gue ngga akan maksa lo kok."
Ica jadi merasa tidak enak melihat wajah Ken, ingin rasanya ia cerita namun untuk saat ini Ica sendiri bingung apa yang harus dikatakan.
Daffa, Daffi, Ico dan Windy baru muncul di dalam kelas saat guru pelajaran pertama masuk.
Ken bingung dengan suasana aneh yang tercipta, memang jika pelajaran dimulai tidak ada satupun diantara mereka yang mengobrol satu sama lain, namun pagi ini aura yang tercipta diantara Ica dan yang lainnya sedikit berbeda dari biasanya.
Seperti ada hal yang terjadi tanpa sepengetahuannya. Padahal kemarin siang semua terlihat baik-baik saja.
Apa ada sesuatu semalam? Batin Ken.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Enemy
Romance"Aku sudah sangat tidak menyukainya sejak kami masih memakai diapers!" -Angelica Wijaya- "Melihat wajah manisnya yang kesal karena ulahku, menjadi kesenangan sendiri untukku." -Kenneth Adhitama- -------------------------- Action - Romance
