Malam panjang di batas kota. Hening seumpama tiada berpenghuni. Hanya ada dinding-dinding kokoh di kanan-kiri, berdiri angkuh menantang langit. Suara derap kaki terdengar miliknya saja. Derap pelan, derap misterius.
Boleh dikata, hidup Taeyong sedang mati; cerpennya berserak, ditolak majalah, koran, penerbit. Kekasihnya hilang. Kucingnya mati. Dan—ini adalah hal yang paling tidak mampu ditahan olehnya—ia miskin inspirasi. Malam merupakan waktu di saat segalanya terasa begitu terang benderang. Tapi kini tidak demikian lagi.
Apakah ini akan menjadi akhir dari hidupku?
Taeyong masih melangkah. Ia melihat kedua kakinya sendiri. Benar. Masih melangkah, berjalan meski pelan. Ini bukan akhir dari hidup. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Beri kakinya waktu untuk menentukan destinasinya sendiri. Ke mana saja boleh. Ia tidak perlu bingung memikirkan jalan pulang karena rumah sudah tidak seperti rumah lagi.
Waktu merangkak naik. Isi kepala sama sunyi seperti malam, sama gelap seperti malam dan sama tidak berartinya. Bintang yang biasa berserak tampaknya habis dimakan rayap. Bulan menggantung sebagian, barangkali tengah sekarat. Tapi ia tidak begitu acuh. Berjalan saja terus. Berjalan terus sampai kakinya menemukan apa yang dicari.
Ditertawakannya entah apa.
Jadi ini .
Pusat hidupnya malam. Kota tak lagi sunyi, tak lagi seperti mati. Di kejauhan, ia melihat orang-orang keluar-masuk, membawa teman, membawa arak, membawa perempuan, membawa orang mati. Taeyong memandang kedua kaki. Kedua kaki mantap melangkah maju. Inilah yang ia inginkan dalam hidup yang begitu hambar lagi sepi. Hiburan.
Dibetulkannya letak topi beret. Taeyong siap mencuri cahaya.
.
.
.
Berlin bukan wadah bagi orang suci. Bukan pula tempat bagi segala jenis kebinatangan manusia. Tapi Berlin merupakan perpaduan antara keduanya. Lampu terang, lampu redup, lampu mati. Lampu berdansa warna-warni. Lampu yang membius siapapun untuk tinggal.
Siang berjalan apa adanya. Begitupula malam. Tak ada beda. Kehidupan kota yang standar dan biasa saja—nyaris membosankan, membuat orang malas untuk meniti hidup, membuat orang bertanya-tanya; jadi, hidup itu hanya seperti ini saja. Begini-begini saja .
Seluruh pasang mata terlihat lelah, merah. Wajah-wajah palsu tersebar di segala penjuru. Perempuan mengenakan riasan tebal pada wajah, pakaian sempit lagi pendek. Rambut beraneka warna; merah, kuning, hijau dan silakan teruskan. Serupa pelangi yang biasanya saling tumpang-tindih mencari ruang di kepala Taeyong—yang kini tidak lagi.
Seorang pria duduk di depan meja bertender, di sampingnya terdapat perempuan berlipstik tebal, sama tebal dengan bentuk bibirnya. Tangan si pria menggerayangi bokong si perempuan. Menggerayangi. Mencubiti. Si perempuan tampaknya terganggu dan o-oh ! Taeyong melihatnya. Suara tamparan tidak jelas terdengar tapi ia yakin rasanya pasti menyakitkan.
Si perempuan pergi, diikuti si pria kurang ajar. Saat itulah, matanya menangkap seseorang yang terasa begitu tidak relevan dengan tempat yang tengah ia singgahi ini. Seorang lelaki sedang duduk melamun. Gelas berkaki dalam genggaman, ada cairan merah mengisi sebagian.
Rambutnya hitam.Kulitnya putih. Terlalu putih sampai terlihat begitu pucat. Lalu wajahnya … wajahnya … Taeyong memicingkan mata. Wajahnya tidak jelas. Ada asap menguar ke atas, lalu menyebar ke segala ruang. Asap para perokok.
Para perokok berdansa-dansi, tidak enak dilihat, tidak mengikuti ritmis musik yang menghentak. Hanya berdansa saja. Loyo. Aneh. Ganjil.
Asap para perokok membuat wajah sosok misterius itu terlihat kabur.
Taeyong menerobos, menyikut siapa saja. Ia melangkah cepat, nyaris berlari. Tiba-tiba ia merasa sangat takut, ketakutan tidak beralasan, tidak tahu dari mana datangnya.
