Racun

246 37 2
                                        

[di mana kebencian bersembunyi—bukan dalam segelas racun, bukan pula pada sepasang mata yang dingin, melainkan tersimpan rapi di antara dua lidah yang saling bertaut]

Semua bermula dari penggalan sebuah novel yang tengah Ten baca, dilanjut ejekan kurang ajar dari seorang pelanggan setia, diakhiri tantangan yang entah kenapa sungguh di luar logika. Taeyong bakal menciumnya dalam waktu 48 jam, bagaimanapun caranya! Ten dibuat kesal bukan main (meski begitu, ia tetap menghormati pelanggannya, tak peduli walau kedua tangan ingin sekali mencakar muka yang seolah-olah senang karena ia merasa terganggu). Sialan.

(Tapi ekspresi Taeyong memang menyebalkan, demi Tuhan.)

Ten sedang mempersiapkan seporsi sandwich tatkala sepasang mata yang terhalangi lensa itu tak henti memperhatikannya. Ia berharap lelaki tersebut tidak benar-benar serius dengan tantangannya. Ten, diam-diam, membayangkan apa jadinya andai kata Taeyong berhasil menciumnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa tolol. Ia menekankan dalam hati, sejak dulu, sejak pertama kali berjumpa, Taeyong memang tipikal lelaki menyebalkan yang senang mempermainkannya—menggoda namun sarat hinaan, seakan bentuk dari benci yang dibungkus menjadi afeksi.

"Wajahmu memerah, Ten. Apakah kau membayangkan sesuatu yang sama denganku?"

Pisau memotong sandwich lebih kuat, menimbulkan bunyi klak cukup kencang (pasti terdengar sampai ke telinga Taeyong yang duduk di pojok, tempat favorit yang mungkin dijadikan lokasi menyenangkan untuk memperhatikan Ten, mungkin yang mungkin sekali). Ten, dengan gigi-geligi bergemelutuk, mencoba menahan amarah sekaligus rasa malu—ia benar-benar tidak sengaja membayangkannya, berani sumpah. Pemikiran itu terus saja bercokol di kepalanya sehingga menciptakan suatu bayangan yang … yang … pipi Ten semakin merah.

Dan senyuman Taeyong semakin lebar. Senyuman itu, anehnya, memiliki kesan misterius.

🌀🌀🌀🌀🌀

Kopi hangat dan seporsi sandwich kini sudah terhidang di atas meja Taeyong.

Ten menunggu.

Ia menunggu Taeyong menghabiskannya.

Ia menunggu lelaki itu untuk pergi dari kafe.

(Sehingga dengan begitu, dapat dipastikan, hal-hal mengenai tantangan ciuman adalah gurauan yang tidak lebih hanya untuk membuatnya kesal.)

Taeyong benar-benar pergi. Ten termenung sejenak, menunggu kejutan. Siapa tahu Taeyong mendadak kembali muncul dan mencium bibirnya. Tapi itu tidak mungkin. Tapi, tapi … Ten tetap menunggu. Lelaki itu tidak juga muncul setelah dua puluh menit berlalu. Ten akhirnya menyerah. Ia memandang novel berkaver biru lembut dengan gambar seorang perempuan dan laki-laki yang saling berpegangan tangan, ia mengambilnya lantas melanjutkan membaca. Adegan ciuman.

[Ketika permukaan lembap itu bertemu, waktu seolah-olah berhenti.]*

Ten tanpa sadar menyentuh permukaan bibirnya sendiri. Pintu kafe bergemerincing. Ia terperanjat, berharap menemukan Taeyong dengan senyumannya yang menjengkelkan—tunggu, kenapa. Namun, yang berdiri di sana bukan Taeyong. Bukan. Melainkan Taeil yang datang membawa roti serta bahan-bahan yang dibutuhkan. Ten semakin kesal karena sudah merasa kecewa.

🌀🌀🌀🌀🌀

"Apa kau menungguku?"

Tidak, tidak.

Ten merapatkan jaket. Banyak hal yang terjadi hari ini selain tantangan menggelikan itu. Ia jadi tidak lagi menikmati kelanjutan isi novel, mendadak saja ia tak begitu peduli pada nasib dua karakter utama yang akhirnya berciuman setelah mengungkapkan perasaan masing-masing (sebab masih ada lima puluhan lembar halaman yang tersisa, bisa jadi mereka berakhir tragis entah bagaimana prosesnya). Ten mendapat masalah. Salah-satu penyebabnya tentu saja, lelaki berkacamata yang kini tengah berdiri melipat tangan di hadapannya—bertanya apakah ia menunggunya, padahal kenyataannya lelaki itulah yang menunggu Ten.

"Kau ada masalah, Ten?"

Tentu. Masalahnya kini berada dekat dengannya. Tepat di depan mukanya.

(Serta Yuta yang tiba-tiba saja menelepon sore tadi, bertanya mengenai perkembangan pengamatannya terhadap seseorang. Ini menjadi bagian dari masalah karena Ten tidak menemukan apa yang ia harap bisa temukan.)

"Maaf, Taeyong hyung, aku sedang tidak berminat bergurau sekarang ini."

Ten kembali melangkah, melewati Taeyong.

Tapi Taeyong menahan tangannya, menariknya lalu menghempaskan tubuhnya ke tembok. Lelaki itu hanya perlu menggunakan satu lengan untuk melakukannya dan itu adalah lengan kiri. Ten tidak bisa tidak mengingat seseorang (sekelebat, namun anehnya terasa begitu benar).

"Aku tidak bergurau."

Ten tidak sempat membalas.

"Aku memang mau menciummu."

Dan berpikir.

"Aku tahu kau menungguku—berharap aku ada di antara pelangganmu yang kau layani hari ini."

Dunia terjungkal rasa-rasanya. Tantangan sinting dari orang yang juga sinting. Bibir itu mendadak terasa sungguh dekat dengannya hingga rasa kenyal akhirnya menyapa. Ten tidak sempat membalas, tidak pula berpikir. Hari ini adalah hari yang paling aneh. Bermula dari kejadian konyol, diakhiri kejadian yang benar-benar di luar logikanya—terlebih ketika sepasang mata itu begitu dekat, tanpa penghalang, tanpa kacamata, tanpa kepalsuan. Ia melihat seseorang di sana, di mata Taeyong.

Tidak, tidak.

Deskripsi manis tidak cocok untuk menggambarkan ciuman malam itu, sama sekali. Ciuman di dalam novel yang ia baca tadi siang sangat berbeda dengan apa yang dialaminya sekarang. Tak ada bunga, tak ada kupu-kupu yang menggelitik perut; yang ada ialah bulu-bulu tengkuknya meremang, merasakan sesuatu … sesuatu yang tidak lagi asing—tanda bahaya. Ten mencoba untuk menyingkirkan pemikiran itu (juga menyingkirkan bibir Taeyong dari bibirnya).

Taeyong tersenyum. "Aku berhasil."

Kedua kaki Ten lemas.

Matanya terasa berat.

Ten seharusnya sudah tahu, ada yang tidak beres hari ini. Bukan hanya perkara tantangan yang diajukan Taeyong, tapi juga telepon dari Yuta—mengenai penyelidikan, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan.

(Juga sesuatu yang entah apa, didorong lidah Taeyong agar sesuatu itu masuk ke dalam tenggorokannya.)

Adegan di dalam novel adalah kebetulan (boleh dibilang merupakan kesempatan). Tapi, sebelum kesadaran benar-benar hilang, Ten teringat lagi akan sesuatu … ia tidak tahu dari mana ia mendapatkan novel itu—mendadak saja ada di meja, ia yang bosan lantas membacanya. Dan Taeyong datang di saat yang paling tepat (atau justru sudah diperkirakan, tentu saja), sehingga terucaplah tantangan mengenai ciuman. Namun, ciuman itu bukan untuk menuntaskan tantangan, bukan pula untuk mengganti adegan ciuman yang tertunda. Bukan. Ciuman tersebut adalah tujuan lain untuk menuntaskan perkara yang lain pula. Entah apa.

Sebab, dunia Ten benar-benar terjungkal. Semuanya terasa gelap dan ia tidak ingin mengingat apa yang terjadi setelah ciuman itu.




P.S Ten kira kira kenapa ya ?

Limerence - TaetenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang