Taeten timetraveler!AU
Ten terbangun. Kepalanya berdenyut.
Ia melihat sekitar; meja bulat besar, dipenuhi botol-botol minuman dan kacang serta … apa itu? Permen karet? Uh, oh, alat kontrasepsi. Kawan-kawannya duduk memutar, bersulang, muka mereka memerah, mulut sudah bau busuk. Mereka tertawa, membicarakan entah apa … tunggu, sepertinya ia ingat topik pembicaraan ini. Pesta penerimaan karyawan baru; Ten, Doyoung, dan Seulgi. Doyoung ambruk, lelap, kadang mengigau. Seorang pria berkumis mendekati Ten mengendus-endus lehernya. Ia memandang risih. Pria itu justru tersenyum. Kali ini gantian Seulgi yang diendus, perempuan riang tersebut malah tertawa.
Ten tidak ingat berada dalam posisi seperti ini—minum-minum, mabuk dan mendadak saja ia terbangun tanpa mengingat apa pun selain perbincangan mengenai pesta penerimaan karyawan baru. Ia tidak ingat pernah diseret paksa untuk ikut (bahkan, seingatnya, ia menolak ajakan pesta tidak jelas itu, tidak ada manfaatnya, hanya membuang uang dan huru-hara). Tapi tiba-tiba saja ia terbangun sudah dalam keadaan setengah sadar, memandangi kawan-kawannya yang mabuk dan ambruk perlahan.
Rasanya seperti mimpi; terasa nyata tapi sebetulnya tidak.
Ten memandang pria tinggi yang menjabat sebagai atasan di bagian marketing dengan perasaan entah—mual, marah, atau … atau ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mendefinisikannya. Johnny kah nama pria itu? Ia menerawang. Ya, ya, Johnny memang namanya, tentu saja. Ten meraih gelas, meminta Taeyong untuk menuangkan minuman. Ia meneguknya dalam sekali tandas. Orang-orang berseru, gembira karena hal tolol.
Ia melihat Jaehyun … Johnny … Yuta kah yang mukanya memerah sempurna? Ten tidak begitu mengenal mereka (ia dan kedua kawannya; Doyoung dan Seulgi baru mulai bekerja minggu lalu atas tawaran dari Taeyong). Bicara soal Taeyong, pria itu kini tengah bicara dengan Johnny, entah membicarakan apa. Kepalanya semakin pening. Ten memutuskan untuk permisi, berjalan gontai ke arah wastafel … huh … huh … kenapa wastafel jauh sekali. Ia seakan melayang. Nyaris ambruk kalau saja tidak ada yang menahan. Ten mengerjap, memandang tangan kokoh berurat si pria yang menopang tubuhnya.
"Kau mau ke toilet?"
Ten mengangguk.
Tidak, seharusnya ia tidak boleh mengangguk.
Karena toilet adalah malapetaka.
Ia didesak ke tembok. Mulutnya disumpal. Celananya dibuka paksa—resleting diturunkan, celana dalam … uh-oh. Ia mencoba memberontak, mencengkeram apa saja yang mampu dijangkaunya (lantas ia lemparkan ke kepala pria itu). Ten meraih daun pintu, mencoba keluar, namun rambutnya dijambak, ia mengaduh kesakitan. Ia dipaksa menghadap cermin wastafel sementara bagian bawahnya runtuh tanpa pertahanan. Ten merutuk, memohon ampun, meminta tolong. Tapi tak ada siapapun yang mendengar.
Dan Ten melihatnya … tabung gas kebakaran yang kemudian menewaskan pria itu … di hari pesta penyambutan karyawan baru … di toilet hotel … dengan leher patah.
Kemudian, pria lain masuk dan mengacaukan segalanya.
🌀🌀🌀🌀🌀
Ten terbangun. Kepalanya berdenyut.
Ia melihat sekitar; keadaan kantor yang sudah kosong, gelap, ditinggalkan para karyawan pulang. Taeyong muncul dari balik pintu, membawa dua cangkir kopi hitam. Ten mengerjap. Ia melemaskan tubuh, merasa pegal-pegal.
"Aku tidak mengerti kenapa kau tidak mau datang ke pesta penyambutan karyawan baru. Padahal teman-temanmu bersemangat sekali, terlebih kali ini dirayakan di hotel berbintang. Minuman apa saja bisa kau pesan." Taeyong berkata seraya menyodorkan kopi padanya. Ten meraih kopi tersebut, meniup-niup pelan, lantas menyesapnya.
"Aku tidak suka pesta penyambutan."
"Kau tidak bisa minum?"
Ten berpikir. "Hm, begitulah."
"Atau kau mengetahui sesuatu."
"Huh?"
Taeyong mengulas senyum. "Tidak, lupakan saja. Aku juga tidak bisa minum."
🌀🌀🌀🌀🌀
Keesokan harinya beredar kabar menggemparkan; Kang Seulgi tewas bersimbah darah di toilet hotel, diduga akibat percobaan pemerkosaan oleh pelaku yang masih belum diketahui identitasnya.
Ten merasa kepalanya semakin pusing. Ia hampir ambruk kalau saja tidak ditahan Taeyong. Pria itu membopongnya ke kursi, membuatkan teh hangat, memandang penuh khawatir. Ten hendak membuka suara namun jari telunjuk Taeyong menahannya. Akhirnya ia tidak mengatakan apa pun. Tangannya yang menggenggam secangkir teh hangat ikut digenggam oleh tangan Taeyong yang lebih besar. Ten menunduk, lalu menatap lurus penuh kebimbangan.
"Jangan katakan apa pun."
Ten bungkam. Perutnya terasa bergejolak.
Taeyong meraih tangannya yang terbebas, menciumi, lalu menaruhnya di dada.
"Ini yang terbaik, Ten.''
A/N : aduh nulis apaan sih ini wkwkw pasti pada bingung ya sama cerita nya( let's break the case apa yang terjadi sama mereka) tapi, semoga tetap bisa dinikmati dengan baik yaaaa.....
