Hari ini ulang tahun pernikahan kedua, namun rumah tangga mereka justru tertimpa bencana.
Dua puluh menit lalu, Taeyong pulang membawa kabar buruk; dipecat dari tempat kerja━yang sempat mereka khawatirkan bersama. Dengan penuh penyesalan, Taeyong mengungkap berita itu sebagai hadiah terburuk yang pernah diberikannya. Namun, di luar dugaan, Ten justru bersikap tenang, dan tidak berkomentar melebihi yang dicemaskan.
Lelaki itu justru berkata, seraya melayangkan pandangan ke luar jendela, pada gerimis yang merintik di sana, "Hujan sudah turun. Itu hadiah kita, Hyung. Ayo kita keluar."
Taeyong diminta mengenakan mantelnya kembali━yang sudah tersampir di punggung kursi, dan lelaki itu menuruti ajakan sang istri: berhujan-hujan keluar rumah. Kaki mereka mengarah ke taman kota.
Sekarang mereka basah kuyup di Mural Park. Menemukan tempat berteduh setelah mereka mencarinya di dekat patung singa. Andai Taeyong bawa kamera, ia pasti sudah merekam figur Ten, yang kulitnya memucat di bawah guyuran hujan. Taeyong memasukkan jepretan itu begitu saja. tersimpan dalam memori. Ini adalah inspirasi.Untuk sejenak, biarkan mereka melupakan segalanya, dan dilupakan oleh semuanya: tagihan kredit, cicilan listrik, PHK, hingga kulkas yang kosong dan dompet yang menipis.
Taeyong meraih tangan Ten, dingin sekali rasanya. Lelaki itu menoleh dengan rambut hitamnya yang basah jatuh menutupi dahi. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Meski begitu, ia masih bisa tersenyum. Menghangatkan udara yang sedang dingin.
Seluruh emosi tumpah dalam diri Taeyong. Ia merasa jadi seperti pecundang yang tak sanggup memulihkan harga dirinya yang terguncang.
"Ten ?"
"Hyung ?"
Lelaki itu tidak melepas senyum dari wajahnya saat ia membalas genggaman tangan Taeyong. Dengan tangan yang lain, ia mengusap dahi Taeyong dan menyibak poninya. Mereka tertawa tanpa suara, dengan wajah sama-sama basah.
"Baik-baik saja kan? Yang penting kau (kita) masih bernapas."
Taeyong membuang muka, meringis payah. Ia benci dikasihani, pada suatu kondisi di mana ia tak sanggup menyembunyikan titik lemahnya di depan lelaki yang mestinya dia lindungi.
"Kau lihat? Tidak ada yang baik-baik saja." Taeyong menyahut.
Tangan Ten meremas jemarinya lebih kuat. Hujan sudah beralih menjadi rintik gerimis. Taeyong merasa getir. Sensasi hujan-hujanan ketika hati menangis ternyata begini menyayat.
"Aku tahu. Maafkan aku," kata Ten.
"Jangan minta maaf. Ini bukan hanya tentangku. Ini tentang masa depan kita, Ten. Aku sudah gagal jadi pria━"
"Hentikan, hyung. Kita di sini bukan untuk memperumit masalah itu."
Taeyong terbungkam.
"Kita akan baik-baik saja. Aku yakin."
Ten berusaha meyakinkan bahwa setelah ini segalanya akan pulih kembali, dan ia berjanji untuk selalu berada di sisinya apapun yang akan terjadi.
"Ya. Seharusnya begitu."
Taeyong tidak ingin kehilangan rasa percaya. Ia berusaha mengerti━meski dunia rasanya terlalu kejam━bahwa lelaki yang telah menemaninya selama dua tahun ini, sudah lebih dulu memahami, bahwa pernikahan bukan sekadar ajang pelampiasan nafsu badaniah semata. Pernikahan adalah tentang komitmen, konsekuensi, dan kompromi. Ketika salah satunya terjatuh, maka yang lain akan membantunya berdiri.
Barangkali ini hadiah terbaik mereka, sebuah pelajaran hidup yang berharga.
Taeyong menarik tangan Ten, mengajaknya berlari menerobos hujan. "Kau sudah kedinginan. Ayo, kita pulang."
Taeyong tidak ingin berteduh, kecuali di bawah atap yang sama dengan Ten.
