30 Minutes Once The London Eye Move And You Kiss Me In Between

368 55 7
                                        

Dalam dompetnya, hanya ada beberapa lipat lembar poundsterling menyapa halo (dan kasihan; miris) dan kartu-kartu terselip di beberapa kantung. Ten Lee terlalu malas pergi mengambil uang untuk merogoh beberapa kertas demi menggemukkan dompet. Jika ia pergi, bus jurusan The London Eye bisa lenyap dalam sekejap. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan apa pun.

Saat ini Waterloo sedang padat, baik masyarakat lokal maupun turis asing, seperti Ten. Bulan kedua musim panas banyak orang ingin bepergian dengan menaiki kereta Eurostar di stasiun Waterloo. Ten justru menunggu bus nomer, 211, 24, atau 11 lewat di depan mata.

Taeyong mengajaknya naik The London Eye. Permintaan dilisan dua hari yang lalu, di sebuah kafe yang menyajikan makanan western lengkap dengan live music akustik. Awalnya hanya terucap begitu saja, bahkan seakan tidak benar-benar niat; tapi pagi tadi, Taeyong mengiriminya pesan ajakan jalan-jalan menaiki The London Eye (lengkap dengan emotikon menjulur lidah dan kiriman foto terlampir hanya memakai handuk sebatass pinggang). Ten tersedak panekuk dalam apartemen.

Bus nomor dua satu berhenti, Ten melangkah masuk dan meletakkan bokong pada kursi deret ketiga sebelah kiri. Ia meninggalkan Waterloo, tersisip kata sampai jumpa lagi dalam hati. Ten mengutuk sikap kekanakan yang tak kunjung sirna. Dua kursi tepat di depannya terisi penuh. Satu kepala laki-laki, satu kepala perempuan. Tiba-tiba bergerak, kepala wanitanya bertumpu di pundak pria. Ten tersenyum tulus.

Dari kiri kaca, jalanan London tampak ikut berlari menyamakan roda bus berputar. Berbagai toko berlalu dari ujung ke ujung, bergantian, satu toko dengan toko lainnya. Pejalan kaki tertinggal jauh. Ten merengkel otot-ototnya, mendorong kedua lengannya ke depan tetapi tidak sampai mengenai belakang kursi di depan. Bisa-bisa ia diamuk dua sejoli tadi.

The London Eye berdiri dengan gagah, bentuknya kurang lebih seperti kincir angin. Tiga puluh dua kapsul bertengger layaknya buah-buah apel. Ten bisa melihat The London Eye, gedung parlemen, dan menara jam Big Ben secara bersamaan. Dan sungai Thames yang mengalir persis di dekatnya. Bus-bus lain ikut berhenti dan menurunkan para turis teranyar.

Lee Taeyong menunggunya di area loket. Ia berdiri, setia, dengan penampilan trendi dan kasual. Kemeja lengan tergulung dan tatanan rambut rapi selalu menjadi favorit Ten. Setelah kaki turun dari dua-tiga tangga bus, Ten berjalan cepat (lengan kirinya menurunkan sisi kanan kaus yang terangkat) lalu memeluk orang terkasih.

"Sudah lama menunggu?"

"Tidak juga."

Taeyong menunjukkan tiket. Kapsul khusus untuk pasangan, cupid capsule, katanya. Ten tidak perlu ikut membayar, Taeyong yang traktir. Diam-diam Ten bersyukur mengingat poundsterling dalam lipatan dompet hanya cukup menaiki bus pulang-pergi.

Lengan Taeyong terangkat. "Ayo, kita berkencan di dalam London Eye."

Lantas Ten menyambut uluran tangan; menggenggamnya erat takut lepas kapan saja. Ia melirik area penjualan tiket, dipadati oleh orang-orang yang mengantri seperti ekor naga.

"Apa kau juga mengantri seperti mereka?"

"Ya, kemarin. Karena aku hanya sendiri, kasirnya menatapku kasihan ketika aku meminta tiket untuk kapsul pasangan."

"Mungkin dia kira kau bujangan yang terlalu memimpikan pasangan ideal untuk naik The London Eye." Ten mengakhiri dengan tawa.

"Aku sudah tidak bujangan."

"Oh."

"Kau juga."

"Oh. Ya, well, tersangkanya siapa, kita berdua tahu, begitulah."

Kekehan Taeyong mengucur, lalu kembali diam. Tersisa Ten yang mengutuk diri karena malu. Pagutan tangan masih belum terpisah. Taeyong mengeratkan tangannya diam-diam (dan bibir tersungging senyum setengah).

Limerence - TaetenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang