Let's Get Lost Together 3 : Lost In The City

155 42 1
                                        

"Kenapa ke sini?"

"Untuk membawamu kembali."

"Kamu menyebalkan."

"Memang, tapi dengan begini hubungan kita jadi berumur panjang."

"Aku tidak mengerti kenapa bisa menyukaimu."

"Itu karena kau yang memilihku."

"Tapi kamu sungguh … menjengkelkan."

"Aku sudah memaafkanmu."

"Tidak, seharusnya aku yang berkata begitu."

Taeyong menatap Ten lekat dan ia merasa tersesat. Di bawah sana, panorama kota meliuk di tengah kegelapan, menyambut turunnya malam. Seolah kota ini jauh lebih hidup dalam perspektif yang berbeda. Wajah lembut Ten yang memantulkan kerlip lampu; butir-butir cahaya jatuh di matanya. Perubahan ekspresi, bibirnya yang sejak tadi manyun, kini mengendur kembali. Walaupun senyumnya itu seperti dipaksakan, dan sedikit garing.

Mungkin, caranya mengucap kata maaf ini terlalu aneh, dan tidak biasa. Saat Taeyong membawa lelaki ini keluar dari kamar kostnya, lalu diajak berkendara sejauh yang dia sanggup menjauhi hingar bingar kota, menepi di sudut taman yang terletak di tepi tebing.

Mereka ingin memulihkan hubungan mereka, yang sama seperti kondisi terkini, nyaris jatuh melewati tebing jurang. Hanya ada satu cara untuk mempertahankannya, namun itu hanya berlaku apabila masing-masing dari mereka bersedia melepas ego dan menuruti kehendak nurani.

Taeyong menggeser posisi duduk, merapatkan jarak mereka, sehingga ia bisa merasakan lembutnya lengan Ten━yang ternyata menyimpan kekuatan melebihi yang dia bayangkan━serta lutut dan kaki bersinggungan. Ten tidak menolak 'kedekatan' mereka. Ini seperti cara saling membuka diri kembali.

Dan setelah Taeyong membiarkan Ten menumpahkan seluruh emosi dengan mengeluarkan umpatan padanya, ia hanya ingin dimaafkan oleh Ten. Sebab ia tak pernah merendahkan harga diri━selain pada Ten dan hanya untuk Ten. Ia rela dicela habis-habisan, kalau dengan demikian membantu perasaannya menjadi jadi lebih baik.

"Ya. Tennie, sesukamu saja lah."

Detik ketika Taeyong melihat setitik air mata jatuh di pipi putih itu━air mata yang terlalu bening hingga seakan Taeyong melihat pantulan wajahnya di sana━ia meraih bahu Ten, mengusap kepala dan merengkuhnya. Wajah Ten terkubur di dadanya.

"Tapi, kamu satu-satunya milikku (my lovely idiot.)"

Ten berbisik parau, ketika akhirnya 'cacian' ditutup dengan satu kalimat pemungkas. Menghapus keresahan lelakinya, bahwa ia tak akan kehilangan Ten lagi.

Taeyong terkekeh pelan. Ia mencium dahi Ten dengan seluruh perasaan. Kemudian, mengacak rambut lelaki itu, yang lekas mengangkat wajah dan menyeka air mata. Mereka bersitatap, melanjutkan percakapan tanpa kata-kata. Taeyong akan selalu ada di sisinya, sebagai tempat bersandar, sebab mereka saling membutuhkan. Ten tertawa, dan Taeyong menangkap tawanya dengan kecupan singkat di bibir. Mereka dibawa oleh malam, tersesat bersama di sudut terpencil dunia.

Limerence - TaetenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang