Taeten alternative universe.
Bertemu dengan calon mertua tidak pernah menjadi hal yang mudah bagi Taeyong. Sebelumnya, tiga tahun lalu Taeyong pernah bertemu dengan ayahnya Ten, Mr. Leechaiyapornkul, pada makan malam Natal ketika Mr. Leechaiyapornkul mengunjungi Ten di Berlin. Tetapi saat itu Ten mengundang pula teman-temannya yang lain seperti Hendery, Mike, dan Jonas sehingga Taeyong tidak harus canggung menghadapi Mr. Leechaiyapornkul sendirian. Mereka hanya bertukar sapa dan mengobrol singkat seputar isu politik yang sedang hangat. Lagipula status Ten dan Taeyong saat itu masih teman dekat. Cerita itu akan terasa lain tatkala sekarang Taeyong terbang dua belas jam dari Jerman menuju Amerika untuk melamar anaknya.
Taeyong tiba di tanah Amerika manakala matahari pagi terhalau awan di pertengahan musim gugur. Walau masih dalam kondisi jet lag, Taeyong tidak ingin membuang waktu dan segera singgah ke Universitas Maryville yang terletak di pinggiran kota West County, 22 mil dari pusat kota St. Louis yang ramai. Di sana adalah tempat ayah nya Ten mengajar sebagai profesor sosiologi, profesi sama yang ditekuni oleh Ten. Buah jatuh tidak jauh dari pohon. Ten memang sangat mengagumi ayahnya.
Mr. Leechaiyapornkul masih ada kelas sehingga Taeyong disarankan asistennya untuk menunggu di ruang kerja nya. Ada banyak buku yang berbaris di rak-rak. Pemandangan yang umum Taeyong lihat sejak ia bersama dengan Ten yang gemar membaca buku. Meja kerjanya teratur rapi dan bersih. Tidak cukup untuk memenuhi standard kebersihan Taeyong yang tinggi, tapi masih lebih baik ketimbang Ten yang semerawut. Taeyong menempatkan diri pada sofa dengan ukiran kayu pada lengannya.
Sepanjang hidupnya, Taeyong merasa mungkin ini adalah kali pertama ia tahu apa artinya gugup. Taeyong jelas bukan tipe orang pemalu atau mudah terintimidasi. Mulut cablaknya saja berani menyemprot siapapun. Namun terperangkap dalam situasi seperti ini adalah pengalaman pertama Taeyong. Ada sedikit kekhawatiran yang terbersit andai kata ia tidak diterima dalam keluarga Leechaiyapornkul. Berbalut setelan jaket kulit hitam yang dipadukan dengan jeans robek di bagian lutut. Dari segi penampilan, Taeyong minus sepuluh poin. Taeyong memasukan opsi kawin lari dalam benaknya untuk jaga-jaga jikalau ditolak.
Bukan, bukan karena Taeyong sesama laki-laki. Ten pernah bilang bahwa ayahnya sudah lama tahu ia gay. Jadi, mengencani pria bukan hal baru bagi Ten. Melainkan mengingat calon pendamping hidup Ten mungkin tak seperti yang dibayangkan orang tuanya. Berlatar belakang keluarga berpendidikan, Taeyong berpikir bahwa kemungkinan ayah Ten pun menginginkan calon menantu yang punya gelar mengekor di belakang nama. Sementara itu Taeyong drop out kuliah. Bagi siapa saja yang mengira pria itu kapasitas otaknya tidak mencukupi untuk lulus kuliah, maka bersiaplah disambit dengan obeng oleh yang bersangkutan. Taeyong termasuk salah satu yang terbaik di angkatannya. Disebabkan merasa tidak cocok dengan pendidikan formal, Taeyong memilih untuk berhenti kuliah dan memulai usaha sendiri yang sesuai dengan minatnya. Dan karena usaha di bidang kuliner yang ia tekuni membuat namanya melambung tinggi di kota Berlin.
Ten telah lebih dulu menemui keluarga nya. Ten dengan sengaja ikut saat Taeyong pulang ke korea dan seperti yang sudah Taeyong prediksi, pertemuan Ten dengan keluarga nya itu berjalan tanpa halangan yang berarti. Tentunya karena faktor Ten yang pandai mengambil hati.
Taeyong sempat meminta wejangan dari Johnny tapi yang ia dapatkan hanyalah satu kalimat 'kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri.' Taeyong memikirkan kalimat itu semalam suntuk hingga besoknya ia hampir ketinggalan pesawat dan berujung pada lupa membawakan buah tangan untuk diberikan pada Mr. Leechaiyapornkul, Taeyong merutuki dirinya sendiri.
Bunyi engsel pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Taeyong. Dari luar, seorang pria paruh baya masuk sembari menenteng tas kulit jinjing serta mendekap boks kue di tangan yang lain. Satu kakinya mendorong pintu. Taeyong buru-buru menahan pintu, membiarkan pria itu masuk lalu menutupnya.
