Ten menyukai pemandangan dari bawah pohon sini. Langit yang mengintip dari celah-celah dedaunan itu terlalu luas, seperti naungan tanpa batas. Dan kegelapan langit justru memberi ruang bagi bintang untuk bersinar lebih terang. Ten pikir, dunia ini justru lebih indah dengan kontradiksi, yang hadir secara acak, terkadang disadarinya terkadang tidak.
Taeyong berbaring di sisinya dalam temaram. Api unggun meretih-retih melalap potongan kayu bakar terakhir. Cahaya api itu menyebar hingga sekeliling, tapi tidak cukup terang hingga lorong-lorong hutan tergelap di belakang sana. Ten merasakan belaian rumput, kerasnya tanah dan batuan yang tidak biasa. Taeyong melipat dua tangan jadi bantalan untuk belakang kepalanya. Ten menoleh untuk memeriksa apakah lelaki itu sudah memejamkan mata.
"Tae....?" panggilnya.
"Hmm?"
Ten tertegun memikirkan kilas balik seluruh kejadian, yang membuatnya mengambil keputusan ini. Rencana kabur bersama, secarik surat yang ditinggal di meja kamar, dan bayangan raung tangis ibunya━yang hingga kini masih melekat sisa-sisa kebencian Ten. Mulai kini, masa depannya akan berubah drastis. Kota tetangga ada di balik hutan sana. Mereka harus mendaki gunung demi menggapai impian baru━hidup baru yang entah bagaimana wujudnya. Ten merasa takut, tetapi kemudian ia melihat Taeyong, dan yakin segalanya akan mudah diatasi.
"Bawa aku lari bersamamu." Ten berujar.
Mendengar itu, Taeyong mengernyit heran. Lelaki itu memicingkan sebelah mata, mencuri pandang pada Ten. Lelaki ini terlalu polos dan naif. Namun, ia sendiri meragukan penilaian ini, barangkali dirinya lah yang lebih naif. Berandal yang ditakuti seluruh kota, dengan entengnya mengiyakan permintaan konyol ini. Besok, rumor mengenai mereka akan jadi perbincangan hangat seisi kota, tapi Taeyong tak peduli. Ia menyeringai dalam kegelapan. Sungguh bangga merasa ada yang begitu percaya padanya.
"Kau sudah mengatakannya tadi siang," sahutnya.
Taeyong berpindah posisi, berbaring menghadap Ten.
"Ah, aku tahu maksudmu," lanjut Taeyong. "Ini adalah perjanjian kita. Aku akan membantumu, dan imbalannya, kau harus jadi milikku."
Taeyong menyentuh kepala Ten, membelai rambutnya. Tidak ada penolakan apapun saat ia bergerak, dan secara sadar, menindih Ten di bawahnya.
"Aku tahu niatmu yang sebenarnya, dasar," sahut Ten.
"Hei, siapa yang minta duluan di sini?"
"Aku."
"Kalau begitu, persiapkan dirimu."
Lelaki itu tidak bergeming, malah mengambil tangan Taeyong, saling menggenggam dengan jari-jemari. Sebab hanya dengan cara ini mereka bisa bersatu. Para orang tua itu menjijikkan, dengan kelakuan super-protektif mereka. Ten dilarang berhubungan dengan lelaki ini padahal ia sudah cinta mati padanya. Huh! Memangnya siapa mereka? Mengatur-atur urusan hatinya segala?
Taeyong berjengit. Seperti ada sesuatu mengetuk hatinya, yang secara perlahan meleleh sejadi-jadinya. Sia-sia saja, meski Taeyong berusaha mengumpulkan lelehan itu kembali, tidak akan berhasil. Ten tahu itu. Sialan! Bukan Ten yang terperangkap, tetapi Taeyong. Ia sudah jatuh dalam jebakan lelaki ini.
"Hanya aku, yang boleh membawamu lari hingga ujung dunia."
Taeyong mengubur wajahnya di leher Ten. Lelakk itu mengerang. Angin malam berdesau, tiupannya memadamkan api unggun. Gulita lantas menjamah segala rupa. Dalam gelap, lelaki itu mengusap punggung Taeyong dan membelai rambutnya bergantian. Ia merengkuh lelaki itu lebih erat, sebelum menyerahkan diri seutuhnya. Mereka bercinta dan tersesat dalam belantara yang mereka ciptakan sendiri.
