Lee Taeyong mengamati dingin seorang lelaki helai hitam rupawan tengah memberi kecupan sekilas di bibir kekasihnya, dari balik kaca jendela. Ekspresi tak terdefinisi, sorot matanya tenang dan gelap.
Lengannya bergegas menutup tirai begitu melihat objek di matanya kini berjalan mendekat untuk membuka pintu.
"Aku pulang." Ucap Ten setelah pintu terbuka.
"Selamat datang."
Suara sambutan yang sontak membuat Ten terlonjak kaget.
"Ah, Hyung. Kau sudah pulang rupanya." Ia mengulas senyum lebar. Ekspresi terkejut barusan susah payah ia lenyapkan.
"Yah seperti yang kau lihat. Praktek di rumah sakit selesai lebih awal."
"O-oh begitukah?"
Gumaman pelan dan senyuman terulas di bibir Taeyong, secara alami membuat Ten menggigit bibirnya pelan sembari melepas sepatu.
"Aku mendengar suara mobil barusan."
Gerakan Ten mendadak terhenti. "Kau diantar oleh siapa?" Tubuhnya menegang, detak jatungnya dipaksa memompa lebih cepat. Ten meneguk ludahnya susah payah. Kerongkongnya terasa mengering. Ia mencoba menatap kekasih yang telah tinggal bersamanya selama dua tahun belakangan. Bola matanya bergerak tak fokus.
"Ahaha, itu hanya seniorku. Dia menawariku tumpangan saat bertemu di jalan tadi." Jari telunjuknya menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"He.. Kalian akrab?" Nada menyelidik terdengar. Memacu detak jantung Ten semakin cepat hingga keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Tidak terlalu.." Jawabnya pelan.
"Oh." Respon Taeyong singkat. Lalu lengannya menangkup wajah Ten, bola matanya menatap langsung ke arah bola mata Ten hingga ia bisa melihat refleksi dirinya sendiri. Kemudian mendekatkan wajahnya, menjilat bibir Ten dan mengecupnya sekilas. Sentuhan bak kapas, seolah untuk menghapus jejak orang lain disana.
"..Ada apa?" Ten mengernyitkan alisnya bingung. Tidak biasanya ia mendapatkan perlakuan barusan.
"Tidak. Cepat ganti bajumu, aku sudah memasakkan sesuatu."
"Benarkah? Apa?"
"Tebak saja." Cengiran menghiasi wajah tampannya.
"Kau tidak membuatkanku sup wortel lagi, kan?"
"Menurutmu?"
"HEI!" Reflek Ten melompat naik ke punggung lelaki yang sebentar lagi mendapat gelar seorang dokter.
"Kau berat bodoh."
"Katakan dulu!"
Dan keduanya sibuk adu mulut hingga mencapai dapur.
🌀🌀🌀🌀🌀
"Aku akan pulang terlambat hari ini." Ujar Taeyong pada lawan bicaranya di seberang telepon. Memasang Headset di telinga sembari memegang stir mobilnya.
"Eh? Baiklah kalau begitu—" Suara balasan di telinga membuatnya mengeratkan pegangan stir. Air wajahnya masih setenang danau, fokus pada jalanan. Hanya sorot matanya yang berubah gelap ketika samar, mendengar suara orang lain. Seorang lelaki.
Dan Taeyong tidak butuh waktu lama untuk mengetahui pemilik suara tersebut karna jawabannya telah ia ketahui—tepat di depan matanya. Iris karamelnya fokus merefleksikan kekasihnya sedang tertawa bersama lelaki itu—malam itu. Kini berada di dalam kafe.
"Kau bersama seseorang?"
"..Um ya."
"Siapa?"
