Sotto Il Ponte Dei Sospiri

288 37 16
                                        

["A fugue is a chase, and in a chase, you don't say, 'you go ahead.'" -Ronald Copes]

Lautan manusia, lautan pelancong mancanegara; mengular, berkerumun, mengerubungi atribut-atribut ikonik kota Venezia. Taeyong mengamati jengah sembari mengistirahatkan kaki yang terlampau pegal untuk diajak berkelana. Ia sudah sejak tadi berpayah mengitari kota, berjejalan di antara orang-orang ketika kamera yang dikalungkan di leher mesti diangkat tinggi-tinggi untuk mengabadikan potret bangunan-bangunan bersejarah dan arsitektural tua. Untuk saat ini, biarkan ia beristirahat sejenak saja.

Venezia adalah kota kenangan, seperti Italia adalah negeri penuh memori yang membayang. Pada Grand Canal-nya yang membelah kota menjadi dua, yang airnya mengalir tenang seolah ikut mendepiksikan kisah bersama deru napas kota, tersembunyi banyak hal yang seharusnya ia lupakan. Konversasi di atas gondola yang tak berujung kemana-mana kecuali semburat manis di pipi. dan lagu khas para pendayung yang menjadi latar belakang perjalanan, dan kecupan yang tertukar di atas jembatan desah (yang katanya bisa menjadikan cinta sepasang kekasih tak lekang oleh zaman. Taeyong seharusnya berhak protes pada siapapun yang menyebarkan mitos bodoh ini; cintanya memilih pergi pada lelaki lain yang lebih menjaminkan kehidupan penuh sekuritas ketimbang yang bisa diberikan oleh penulis warta biasa). Venezia adalah kota patah hatinya, dan setelah sekian lama menghabiskan diri untuk tidak akan kembali, Taeyong pada akhirnya harus mengalahkan egonya kali ini. Hikmahnya, ia berhasil menyelesaikan scoop bertajuk pementasan konser tunggal dari musisi muda yang digadang-gadang sebagai prodigi, dan sekali lagi hikmahnya, ia jadi punya waktu untuk dirinya sendiri seharian ini.

Ia menyeret langkahnya setelah merasa terlalu lama duduk dalam diam, menelusuri Grand Canal di atas jalan Campo della Pescaria yang menuntunnya menuju Pasar Rialto. Ia membaur bersama turis lainnya, mungkin beberapa di antaranya memiliki destinasi yang sama, sisanya paling-paling hanya lewat, atau kalau sedang sial, tersesat. Sesekali Taeyong terhimpit massa, kadang terdorong ke depan, lalu satu kali menubruk pria bertopi berburu coklat; ia menggumamkan mi dispiace-maaf, minim aksen lokal, dengan formal. Tungkainya yang dibalut corduroy refleks berbelok arah, keluar dari aliran keramaian, ketika matanya awas terhadap stand penjual minuman.

"Mi scusi, uno cappuccino, per favore."

Taeyong merogoh saku belakang celananya, mendapati sesuatu yang mestinya ada justru absen di sana. Sumpah serapah nyaris saja lolos dari mulut. Berpikir positif, optimis, juga harap-harap cemas, ia memeriksa saku jaketnya kemudian, barangkali ia lupa meletakkan dompetnya setelah membeli sesuatu -tapi ia yakin sekali ia tidak membeli apa-apa sebelum ini! Demi apapun, tidak lucu jika pria seumurannya kecopetan di tempat yang tidak sekali ini saja ia datangi.

Ia menyunggingkan senyum pasrah pada si penjual, berbalik pergi dengan segera saat pemilik topi berburu coklat terbayang di benaknya. Taeyong menolak untuk mengalami nasib sial, paling tidak, jangan di kota ini, di kota yang kelebat nostalgianya saja terasa pahit di tekak. Terjangan arus pelancong dilawannya, seperempat dengan berlari, tiga perempat dengan bermanuver, dan dalam hati berdoa supaya uang beserta kartu-kartu krusial, dan oh, ya, paspornya juga, di dalam potongan kulit samakan itu segera kembali dalam genggaman.

Tubuhnya dibasuh keringat dingin, tetapi matanya masih nyalang memerhatikan, menerka-nerka keberadaan si pencopet sialan (mungkin tidak buruk menyarangkan satu tinju di dekat rahangnya, nanti, nanti). Di ujung jalan, tepat sebelum masuk ke area pasar, topi berburu coklat itu terlihat, ya, ya, matanya tak melewatkan buruannya. Taeyong mempercepat jalannya -larinya, tidak mau bersusah-susah menghindar kali ini, dan ia sudah terlalu tidak peduli dengan tatapan sinis yang diberikan orang-orang ketika ia menubruk mereka tanpa mengucap maaf barang sekali.

"HEI KAU," -makhluk sialan. Ya, kau, kenapa melirik-lirik seolah tak punya dosa begitu.

"Mi scusi?"

Limerence - TaetenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang