Deven & stuff (Amel)

72 8 6
                                        

Ini bukan kejutan. Mama Deven lagi-lagi mengomel soal Anneth, tentang bagaimana calon menantunya masih berhubungan dengan "musuh" keluarga Deven. Yah... Amel juga bukan tidak suka sama Shanna, tapi kalau dibandingkan sama Marcha... jelas pilihannya untuk jadi sis-in-law cuma Marcha.
Menurut Amel, semua cewek yang bisa mengimbangi Deven—cantik, pintar, punya karakter yang pas—ya cuma Marcha. Sisanya? Hmm... sayang, Marcha terlambat. Terlambat pulang, terlambat untuk baikan dengan Deven. Mungkin memang jalannya seperti itu. Setelah perbincangan panas itu, Amel tetap di ruang tamu, nonton streaming favoritnya, sampai waktunya make-up dan bersiap pergi dengan Marcha. Deven menepati janjinya untuk mengantar Amel ke tempat makan, tempat Amel dan Marcha janjian.
"Lo nanti jemput?" tanya Amel, menatap adiknya penuh arti.
"Iya lah... emang kakak mau pulang sama siapa?" jawab Deven santai.
"Ya Marcha, kan, bisa anterin," kata Amel, nada suaranya menggoda.
Deven terdiam sejenak.
"Lo nggak usah nyari celah buat ketemu Marcha," kata Amel. "Gue yakin dia gak mau ketemu lo hari ini. Apalagi media lagi rame bahas lamaran lo sama Shanna"
"Ya, I know... tapi gue takut kalian berdua ketemu... trus kebablasan minum," kata Deven.
Amel tertawa. "Lo pikir gue umur berapa? Marcha umur berapa?"
"Iya, tapi beberapa minggu lalu gue anterin Marcha ke kamarnya dari depan pintu rumah gara-gara dia mabuk," kata Deven, setengah mengeluh.
"Lo nggak ngelakuin sesuatu yang gila kan sama Marcha?" tanya Amel, dengan nada nakal.
"Lo pikir adek lo apaan sih, kak? Gue hari ini lamaran sama Shanna, gue main gila gimana ceritanya?" Deven kesal.
Amel tertawa lagi. "Ya siapa tahu, kan? Karena terlalu cinta," godanya.
Hp Amel berbunyi. Ah, notifikasi dari Marcha.
Marcha:
Kak, Marcha udah sampe di Djournal
Amel:
Wait Cha, lagi ngobrol sama Deven di mobil😉
"Jadi lo jemput gue nanti?" tanya Amel, lagi-lagi menggoda.
"Iya... chat aja nanti," kata Deven santai, mencoba menahan senyum.
"Okay, ya udah kalau gitu. Marcha udah di dalam... sampai nanti, dek," kata Amel, lalu tersenyum jahil.
"Okay kak, bye," jawab Deven, ikut tersenyum.
Amel turun dari mobil Deven dan berjalan cepat masuk ke arah cafe, sambil tersenyum kecil, membayangkan ekspresi Deven yang kebingungan di kursi mobil.

Amel melihat wanita cantik itu duduk di cafe, mengenakan setelan kantoran yang langsung bikin Amel ternganga. Blazer hitam, kemeja putih, celana panjang rapi, ditambah high heels... wow, kalau Miss Universe lihat pasti iri.
"Kak Amelll!" pekik Marcha girang, seperti ketemu kakaknya sendiri, dan langsung memeluk Amel.
"Cha!!!" Amel tak kalah histeris, membalas pelukan dengan semangat berlebihan.
"Waow, kak Amel cantik banget, sampe pangling tadi!" puji Marcha, matanya berbinar.
"Cha, lo juga nggak kalah cantik," balas Amel, setengah memuji, setengah jahil pada wanita yang hampir jadi Miss Universe itu.
"Ah, kak Amel bisa aja..." kata Marcha sambil menoleh ke kanan dan kiri. "Loh, Deven mana kak? Dia nggak ikut?"
"Dia cuma anterin doang, Cha, gak ikut," jawab Amel.
"Oh..." Marcha tersenyum, "padahal gue pengen ucapin selamat dia udah lamaran sama Shanna."
"Nanti aja waktu pulang lo ucapin, dia kan jemput gue," kata Amel santai.
Marcha menunduk, tersenyum tipis.
"Lo... nggak apa-apa adek gue nikah sama Shanna?" tanya Amel, mata berbinar penasaran.
Marcha menyunggingkan senyum yang manis tapi lembut. "Gak apa, kak... mau gimana lagi, kan? Udah jodohnya Deven." Ia menarik napas. "Gue tulus doain mereka lancar sampai hari pernikahan. Kalau Deven bahagia, gue juga bahagia. Apalagi dia sama Shanna, sahabat gue sendiri."
Amel mengangguk dan memeluk Marcha. "Gue tau lo sayang adik gue. Kalau nggak cinta, lo nggak bakal ngomong se-tulus itu."
Marcha membalas pelukan Amel. Tubuhnya tegang, dan Amel tahu, di sudut hati Marcha, ada perasaan yang tak bisa merelakan adiknya menikah dengan wanita lain—meskipun itu sahabatnya sendiri.
Marcha melepaskan pelukan. "Udah kak, jangan bahas Deven lagi... kasihan kan, kalau nyetir dia bersin terus," kata Marcha sambil tertawa.
Amel ikut tertawa. "Kalau bersin masih oke, tapi kalau lidahnya kegigit sama gigi sendiri... alamat deh cenut-cenut!"
"Duh, jangan sampe deh kak, kasihan amat," kata Marcha, ngakak.
Amel menoleh nakal. "Ya deh, ya deh... jadi hilangnya kabar lo di Paris gimana, Cha? Kok tiba-tiba muncul di TV, langsung jadi wanita Indonesia paling sukses di Eropa dan Amerika?"
"Ah, kak Amel melebihkan," kata Marcha, tersipu.
Marcha lalu bercerita jatuh bangun membangun kerajaan bisnisnya di Paris, merambah Eropa, Amerika, bahkan Hollywood. Ia ikut ajang Miss Indonesia, lalu Miss Universe—meski tidak menang, namanya tercatat sebagai Top 5, derai air mata, kegagalan, perjuangan... semua ia ceritakan pada Amel. Amel sadar kenapa Deven tergila-gila sama wanita ini. Cantik, kuat, konyol, berkarakter... tidak akan ada yang seperti Marcha.
"Dan lo sampai kelaperan?" tanya Amel kaget.
"Beneran kak! Gue gak mau pake duit bokap buat bertahan hidup. Gue kerja di resto di Paris, dari situ belajar masak masakan Prancis," jawab Marcha.
Amel tertawa, kagum. "Waow..."
"Kakak bisa bayangin nggak, gue di Indo kayak tuan putri... apa pun gue mau pasti dapet. Tiba-tiba harus kerja di restoran jadi kitchen hand!" Marcha tersenyum nakal. "Well... that's experience made me grow up. Gue bahkan jadi housekeeping... kakak tau kan, sheet hotel itu berat banget? Gue sampe berotot, ngalah-ngalahin Ade Rai, belum sih?"
Marcha dan Amel tertawa bersama. Otot lengan Marcha memang terbentuk—tapi ya nggak ada salahnya kan, cewek juga boleh punya otot. Agnes Mo juga punya, kok.
"Harus gue akui, Cha," kata Amel sambil mengangguk. "Makanya hati lo keras banget sekarang, bahkan buat menghadapi adik gue."
"Gue gak bermaksud keras, kak... sama Deven," kata Marcha. "Deven udah punya pacar... gue gimana hadapin dia? Deven... dia..."
Marcha tampak tak sanggup melanjutkan.
"Gue tau... sorry, Cha," kata Amel menenangkan.
Marcha menggeleng. "Gue beneran gak bermaksud sekeras itu. Gue cuma gak bisa nyakitin Shannon. Dulu dia selalu support gue sama Deven, sportif... gue gak bisa ngebales dengan mengkhianati dia. Gue sama Deven sama-sama paham kita lagi hadapi ke-tidak-mungkinan-an."
"Salah adik gue, kan, di antara sekian banyak cewek malah milih Shanna?" goda Amel.
"Gak ada yang salah, kak... Deven gak salah pilih Shanna. Shanna cewek baik, gue kan sahabatnya," kata Marcha tersenyum.
Amel ikut tersenyum. "Lo juga baik."
"Ya... tapi tetap saja, bukan gue jodohnya Deven. Takdir berkata berbeda," kata Marcha, lirih.
"Hhmmm..." gumam Amel.
Tiba-tiba HP Amel berbunyi. Deven menelpon.
"Sebentar, ini Deven," kata Amel.
"Hallo kak, lo udah selesai?" tanya Deven.
"Hhmm... bentar lagi. Kenapa?"
"Gue jemput lo sekarang ya," kata Deven.
"Ya tapi gue belum selesai," kata Amel.
"Ya, gak apa kan gue ketemu Marcha sebentar? Gue di sini debat terus sama mama soal Shanna dan karirnya," kata Deven.
"Oh, hhmm... ya terserah elo deh kalau mau jemput sekarang," kata Amel santai.
"Okay kak, see you soon!" kata Deven, senang.
Amel menutup telepon.
"Deven, ya kak?" tanya Marcha.
Amel mengangguk. "Dia mau jemput gue sekarang. Kalau lo gak mau ketemu dia... lo bisa pulang sekarang, Cha. Gue gak nyalahin."
"Oh, gak apa kak. Gue ketemu Deven... gue kan mau kasih dia selamat habis lamaran sama Shanna," kata Marcha.
"Lo gak usah memaksakan diri, Cha," kata Amel.
"Enggak, kak... gue beneran happy buat Deven sama Shanna," jawab Marcha tersenyum tulus.
Amel ikut tersenyum. "Ya deh, gue ngerti. Deven jemput gue sebenernya cuma ngehindarin bonyok daripada debat terus."
"Oh... kok Deven debat sama bonyok? Emang kenapa, kak?" tanya Marcha penasaran.
Amel menceritakan masalah Deven dan Shanna dengan nada santai tapi penuh humor.
"Oh, tante gak mau Shanna berkarir?" tanya Marcha.
"Bukan gak mau... boleh berkarir, tapi jadi penyanyi, media, segala itu... bonyok gue trauma, apalagi nyokap," kata Amel sambil tertawa tipis.
"Oh, tapi kalau misal Shanna bisnis gitu, tante gak ada masalah?" tanya Marcha.
"Lo nanyain pertanyaan ini buat elo sendiri atau gimana?" tanya Amel sambil tersenyum jahil
"Yang jelas kalau gue sama elo, nyokap gue gak bakal mengeluh atau debat sama gue."
Alis Marcha terangkat, lalu menoleh, melihat Deven memakai sweater hitam dan celana jeans. Amel melihat perubahan ekspresi wajah Marcha—bohong besar kalau Marcha tidak merasakan apa pun sama Deven sekarang.
"Hei, Cha," sapa Deven sambil tersenyum lebar.
Duh... adiknya ini memang paling pintar bikin cewek klepek-klepek. Bahkan mantan calon Miss Universe pun klepek-klepek. Gimana cewek-cewek yang jadi pasiennya ya?

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang