Di dalam mobil Kevin
Shanna mengusap air matanya cepat-cepat, berusaha tak bersuara. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, pura-pura sibuk menatap lampu jalan yang berkelebat. tiba-tiba, selembar tisu muncul di depan wajahnya.
"Gue nggak nangis," kata Shanna pelan, masih terisak, melirik ke arah tisu itu.
Kevin mendengus "Air mata lo bikin eyeliner lo turun sampe pipi. Itu bukan nangis, itu tragedi kosmetik."
Shanna mendecak, tapi tetap mengambil tisu dari tangan Kevin. Ia mengusap pipinya, napasnya masih berat "Thanks," katanya singkat.
Kevin melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan "Lo sama Deven udah jalan berapa lama?"
"Ngapain lo nanya?" Shanna langsung defensif.
"Emang nanya sekarang harus pake izin RT?" sahut Kevin santai.
Shanna terdiam sejenak "Satu tahun lebih. Bulan depan dua tahun."
Kevin mengangguk kecil "Oh... berarti lo mutusin buat berhenti hubungan sama gue, baru jadian sama Deven, ya?"
"Lo nggak usah mulai, Vin," potong Shanna.
"Gue cuma penasaran," suara Kevin terdengar lebih dingin. "Gue mikir gue salah apa. Muter-muter nyari jawabannya... ternyata namanya Deven."
"Alasan gue nggak balik sama lo bukan cuma karena Deven," kata Shanna tegas.
Kevin melirik "Oh ya? Terus karena apa?"
"Karena lo pengacara."
Kevin tertawa kecil, sinis "Serius? Emang kenapa kalo gue pengacara? Takut gue nyuekin hukum sambil pacaran?"
"Gue nggak suka," jawab Shanna singkat.
"Kenapa nggak suka? Dulu lo yang nyuruh gue jadi pengacara."
"Iya, tapi sekarang lo udah jauh dari visi dan misi lo waktu itu," Shanna menatap tajam. "Lo bilang mau jadi pengacara buat ngebela orang kecil."
"Gue masih sama," sanggah Kevin.
"Masih?" Shanna menghela napas. "Lo mau ambil alih gedung panti. Menurut lo itu masih satu garis sama tujuan awal lo?"
"Itu karena klien, Shan. Bukan karena gue pengen."
"Lo bisa nolak, Vin. Kalau lo masih pegang prinsip lo yang dulu."
Kevin terkekeh getir "Ini kasus baru. Dan gue baru ketemu lo lagi kemarin. Jangan dibalik seolah-olah ini cuma soal lo ngehindarin gue."
"Ini alasannya," Shanna menatap lurus ke depan. "Gue penyanyi, tapi gue juga aktivis. Gue pembicara, gue relawan di beberapa badan sosial. Masa iya gue pacaran sama cowok yang profesinya bersebrangan sama nilai hidup gue? Yang bener aja, Vin."
Kevin terdiam beberapa detik sebelum bertanya pelan "Jadi Deven satu arah sama lo?"
Shanna mengangguk "Deven dokter. Dia nolong orang. Jiwa dia sama kayak jiwa gue."
Kevin tersenyum tipis—senyum yang nggak sampai ke mata "Oke."
"Oke?" Shanna menoleh heran.
"Gue bakal buktiin ke lo," kata Kevin, suaranya tegas. "Kalau gue bukan orang yang beda dari Kevin yang dulu."
"Maksud lo apa?" tanya Shanna.
Kevin mendengus, emosinya mulai naik "Gue capek lo anggap diri lo malaikat, terus gue penjahatnya. Hidup nggak sesederhana itu, Shan."
Tiba-tiba Kevin memutar setir. Mobil yang tadinya melaju ke arah rumah Shanna kini berbalik arah.
"Kita mau ke mana?" Shanna panik. "Itu bukan arah rumah gue."
Kevin melirik sekilas ke arahnya, lalu menyunggingkan senyum kecil—senyum khas Kevin, tipis, penuh arti, dan sedikit berbahaya.
"Tenang," katanya santai "Sekali-sekali biar gue yang nyetir arah hidup."
Bangunan baru yang masih kosong
Bangunan itu berdiri megah dan kokoh. Ruang tamunya luas—terlalu luas untuk sekadar disebut rumah. Di belakangnya terbentang halaman hijau yang lapang, sunyi, dan rapi, seolah sudah menunggu kehidupan di dalamnya. Shanna melangkah pelan mengikuti Kevin, matanya berkeliling tanpa henti.
"Apaan ini?" tanyanya bingung. "Jangan bilang lo beli rumah sebesar gini."
Kevin berjalan santai, tangan di saku celana.
"Well... soal panti di Bogor itu, gue yakin bisa ambil alih," katanya percaya diri. "Jadi gue siapin tempat ini kalau anak-anak memang harus pindah—gara-gara gue."
Shanna berhenti melangkah "Tunggu. Ini rumah siapa?"
Kevin menoleh, menatapnya singkat "Rumah gue."
"Rumah... lo?" ulang Shanna, nyaris keselek ludah sendiri.
Kevin mengangguk ringan "Gue punya beberapa. Yang sebelah gue jadiin panti jompo. Dua blok dari sini, gue bangun sekolah buat anak-anak disabilitas. Tenang, gue bukan kolektor bangunan kosong—gue cuma nggak bisa diem."
Shanna menatapnya lekat "Wait. Lo dapet duit buat beli semua ini dari mana?"
"Kerja, Shan," jawab Kevin sambil nyengir. "Sebagian besar dari honor gue sebagai pengacara jahat itu. Jadi biar seimbang, gue netralin dosanya di sini."
Shanna terdiam. Selama ini... dia salah menilai Kevin.
Kevin melirik ke arahnya "Menurut lo gimana? Anak-anak bakal betah nggak di sini?"
"Namanya tempat baru pasti butuh adaptasi," jawab Shanna jujur. "Dan jujur aja, gue nggak berharap mereka pindah. Sekolah dan lingkungan mereka sekarang udah baik."
"Iya," sahut Kevin. "Tapi bertahan di pendirian yang salah juga nggak selalu bijak."
"Maksud lo?"
"Gedung itu milik Om Edwin dan secara hukum, Om Edwin berhak ambil alih."
"Iya, gue tau," Shanna mendengus. "Tapi yang maksa ambil alih itu Om Ridwan, bukan Om Edwin. Gue tau siapa yang pantas dan nggak pantas terlibat."
"Dan Om Ridwan bakal nyakinin bapaknya."
Shanna tertawa kecil, hambar "Lo nggak tau hubungan mereka. Meski bapak-anak, mereka nggak pernah akur."
"Terus?"
"Ya jelas kecil kemungkinan panti itu diambil alih."
Kevin mengangkat bahu "Aneh ya... gue justru mikir sebaliknya. Sejelek-jeleknya hubungan, kalau anak lagi susah... masa bapaknya tega?"
"Om Edwin udah terlalu sering nolong Om Ridwan," balas Shanna. "Nggak mungkin selamanya."
"Kita lihat aja nanti," kata Kevin sambil membuka pintu geser ke taman belakang.
"Ya," Shanna ikut melangkah. "Kita lihat aja nanti."
"Tapi lo nggak perlu khawatir soal anak-anak itu tinggal di mana," ujar Kevin sambil tersenyum, berjalan menyusuri taman luas. "Kalau misalnya... gue yang menang."
"Lo nggak bakal menang," kata Shanna sambil nyengir kecil. "Om Edwin nggak setega itu sama anak-anak."
Kevin hanya mengangkat alis, lalu duduk di kursi ayunan "Lo nggak berubah."
"Maksud lo?" Shanna ikut duduk di ayunan sebelahnya.
"Meskipun sekarang lo ngomong tanpa filter," kata Kevin sambil menggoyangkan ayunan, "tapi hati lo masih sama. Terlalu baik buat dunia yang hobi ngecewain."
Shanna menarik napas "Tanpa filter itu maksudnya apa?"
"Dulu lo mikir seribu kali sebelum ngomong. Sekarang?" Kevin terkekeh. "Nggak nyaring dulu, langsung hajar. Sadis, Shan."
"Omongan gue yang mana emangnya nyakitin?" Shanna mengerutkan kening.
"Semua," jawab Kevin cepat.
"Gue nggak mau kalah itu nyakitin?" Shanna menahan tawa.
"Mungkin karena dulu lo nggak kayak gini," kata Kevin pelan. "Gue ngerasa kehilangan... tapi anehnya gue juga suka sama versi lo yang sekarang."
"Vin," Shanna menatap lurus ke depan. "Gue udah sama Deven."
"Deven yang masih cinta sama Marcha."
Shanna refleks menutup mulutnya. Tatapannya kembali ke Kevin. dia tahu Kevin benar. Tapi tetap saja—Deven sekarang bersamanya.
Marcha... seharusnya bukan ancaman.
"Deven mungkin hatinya buat Marcha," kata Shanna akhirnya. "Tapi mereka nggak mungkin bersama. Gue punya hal-hal yang Marcha nggak punya."
"Tapi lo nggak masalah cowok lo cinta sama cewek lain?" tanya Kevin.
"Cinta bisa padam," jawab Shanna tenang. "Dan bisa ditumbuhin. Selama gue nggak menyerah, selama gue terus kasih Deven cinta yang dia butuhin... di akhir cerita, Deven bakal sama gue."
Kevin menoleh "Lo yakin cinta yang lo kasih itu cinta yang Deven mau?" Ia menghela napas "Cinta punya banyak arti, Shan. Tapi yang paling nyakitin itu cinta sepihak. Lo bisa ngasih segalanya, tapi kalau dia nggak bisa balas... lo bakal sakit setengah mati."
Shanna menatapnya "Gue bahagia sekarang. Meski cuma bisa ngasih dan nggak nerima. Karena cinta itu memberi, bukan menuntut," katanya tersenyum pahit. "Dan Deven bukan tipe cowok yang buang cinta tulus. Lo nggak akan paham."
Kevin membalas tatapannya, senyum masam terbit di wajahnya "Gue paham. Karena sekarang gue lagi ngomong sama orang yang nggak bisa ngebales cinta gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
