Why? (Marcha)

71 8 2
                                        

Marcha menghela napas panjang sambil menatap undangan pertunangan Deven dan Shanna yang tergeletak di atas mejanya.
Nama pengundang yang tertera di sana hanya satu—Deven, bukan Shanna. Sebenarnya, Marcha tak terlalu peduli siapa yang mengundangnya. Itu bukan masalah utamanya yang membuat dadanya terasa sesak adalah kenyataan bahwa ia akan datang ke sebuah pesta untuk merayakan pernikahan lelaki yang pernah—dan mungkin masih—ia cintai, dengan sahabat terbaiknya sendiri.
Sempat terlintas di benaknya untuk tidak datang. Ia ragu sanggup berdiri di sana, tersenyum, dan berpura-pura baik-baik saja saat melihat Deven menggenggam tangan Shanna tapi Marcha tahu, ia tak bisa bersikap pengecut. Ia sudah berjanji pada Shanna untuk bersikap sportif. Untuk mendukung hubungan mereka meski itu berarti melakukan hal paling menyakitkan yang pernah ia lakukan pada dirinya sendiri.
"Sudah selesai, Bu Marcha?"
Marcha mendongak. Penny berdiri di ambang pintu dengan map di tangannya.
"Oh... ya. Sebentar lagi," jawab Marcha, berusaha terdengar tenang. "Nanti aku kabari lagi, Pen. Aku masih perlu ngecek beberapa hal soal laporan keuangan dari Tere."
"Baik, Bu." Penny mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Setelah semua pekerjaannya beres dan Marcha bersiap pulang untuk menghadiri pesta pertunangan itu, pintu ruangannya kembali terbuka. Ingvar masuk dengan wajah tegang.
"Kak, gue ada masalah dikit soal perusahaan papi," katanya tanpa basa-basi.
Marcha menghela napas pelan. Ia tak punya pilihan selain duduk kembali, mendengarkan, dan membantu menyelesaikan kekacauan yang dihadapi adiknya itu. Waktu berjalan cepat—terlalu cepat—sampai akhirnya semua selesai.
"Kak Marcha mau ke pesta tunangannya Kak Deven sama Kak Shanna?" tanya Ingvar saat Marcha mulai membereskan barang-barangnya.
Marcha mengangguk.
"Kakak yakin?" Nada Ingvar ragu, seolah ingin memastikan.
Marcha tersenyum tipis. "Yakin."
Lalu, setelah jeda singkat, ia menambahkan, "I'm happy for them."
Ingvar menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk "Ya udah. Titip salam ya, Kak. Gue juga diundang Kak Deven, tapi harus stay di sini."
"Ya, fine. See you nanti di rumah."
Marcha berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja Ingvar. Sesampainya di rumah, Marcha hanya berganti baju dan merias wajahnya seperti biasa. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana. Ia sudah terlalu terlambat untuk ke salon—dan lagi, menurutnya, ia tak perlu tampil mencolok.
Hari ini adalah hari Shanna.
Setelah memastikan dirinya rapi dan pantas, Marcha berangkat ke hotel tempat pesta pertunangan itu digelar, diantar oleh sopir dan benar saja—ia terlambat. Begitu tiba di depan pintu hotel, ia melihat kerumunan wartawan berbisik riuh, kamera-kamera terangkat, suasana terasa aneh. Apa acaranya sudah mulai?
Marcha hendak melangkah masuk, tapi akses tertutup. Tiba-tiba, ia melihat keluarga Deven keluar dari dalam hotel—diikuti Deven sendiri. Ia tak bisa langsung mendekat karena wartawan berkerumun terlalu rapat. Sampai akhirnya keluarga Deven masuk ke dalam mobil, dan Deven bersiap menyusul. Saat itulah Marcha sadar—ada yang tidak beres.
"Dev!" panggilnya sambil mendekat. "Ada apa ini? Bukannya acaranya sudah mulai?"
Deven menoleh. Wajahnya suram, jauh dari ekspresi seseorang yang seharusnya sedang bertunangan.
dengan suara pelan, hampir tak terdengar di tengah keramaian, Deven berkata "Pertunanganku sama Shanna batal."
Batal...? Marcha terpaku.
"Dev...?" suaranya terdengar bingung, nyaris tak percaya.
"Nanti gue hubungi elo lagi, Cha. Gue harus pergi." Nada Deven singkat, lelah.
"Tapi Shanna?" tanya Marcha spontan.
Deven hanya menggeleng, tanpa menambahkan apa pun, ia masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup, dan mobil itu melaju meninggalkan hotel. Seiring menjauhnya mobil Deven, para wartawan pun perlahan membubarkan diri, seolah kehilangan bahan utama. Marcha berdiri sendiri di depan hotel, ternganga. Dadanya terasa kosong, kepalanya penuh tanda tanya.
Ini... sebenarnya ada apa?, dan sebelum Marcha sempat memutuskan—pergi atau tetap tinggal—
"Cha..."
Marcha menoleh. Kevin berdiri di belakangnya. Wajahnya pucat, bukan pucat capek, tapi pucat orang yang habis nabrak kenyataan pahit.
"Hei," Marcha refleks menegakkan badan. "Kenapa semua orang mukanya kayak habis liat tagihan kartu kredit? Kenapa pertunangan Deven sama Shanna batal?"
Kevin melirik ke arah wartawan yang masih mondar-mandir, kamera menggantung di leher, mata mereka lapar berita tanpa banyak kata, Kevin menarik pergelangan tangan Marcha, menjauh beberapa langkah.
"Kalau ini kedengeran media," bisiknya, "besok headline-nya bisa lebih rame dari pemilu. Kita harus minggir."
"Tapi Shanna—" Marcha masih berusaha nyambungin kepalanya sama realita.
"Salah dia sendiri," potong Kevin, nadanya jelas menahan amarah. "Ini akibat dia egois."
Marcha menatap Kevin seolah ia baru saja bilang bumi itu kotak "Shanna egois? Vin... lo kenal dia. Lo yakin gak lebay? Ini tuh pertunangan, bukan deadline skripsi. Kok bisa batal?"
Ia melirik kanan-kiri, memastikan tak ada telinga gratis di sekitar mereka. Kevin menunduk sedikit, suaranya makin pelan.
"Shanna itu sepupunya Anneth."
Marcha berkedip. Sekali. Dua kali "Oke... gue ulang ya biar otak gue gak error. Sepupu. Anneth. Are you sure?, Lo dapet info dari mana? Jangan bilang dari grup WhatsApp keluarga yang isinya hoaks semua."
"Anastasia sama Clarice," jawab Kevin cepat. "Tadi mereka nemenin Shanna di ruang ganti. Terus mama Deven tiba-tiba masuk, marah besar. Keluarga Deven langsung nolak pertunangan ini."
Marcha terdiam.
Oh. Ini bukan drama. Ini bencana kelas nasional. Aneh rasanya—Marcha tidak terlalu mengkhawatirkan Deven. Bukan karena ia tak peduli, tapi karena ia tahu: keputusan ini datang dari pihak Deven. Pilihan berat, tapi pilihan sadar.
Shanna... itu cerita lain. Shanna yang pertunangannya viral. Shanna yang wajahnya muncul di TV, di media, di perbandingan absurd ala netizen: lebih mewah mana, Glenn–Chelsea atau Deven–Shanna?, dan sekarang—bahkan sebelum pernikahan—pertunangan itu sudah tamat dengan alasan yang tak bisa dinegosiasikan, ditawar, atau dipoles. Marcha paham kenapa Deven memilih keluarganya. Ia pernah berada di posisi yang sama. Pernah diminta memilih keluarga... atau Deven.
Deven memang pria berprinsip dan sekarang semua potongan itu nyambung. Kenapa Deven selalu ingin hubungannya dengan Shanna tetap privat. Kenapa ia jarang pamer. Karena kalau sesuatu seperti ini terjadi—setidaknya mereka tak dipermalukan di depan dunia.
Sayangnya... buburnya sudah terlanjur jadi nasi goreng viral.
"Jadi sekarang kita harus ngapain?" tanya Kevin.
"Maksud lo... kita?" Marcha mengernyit.
"Shanna sama Deven udah bebas," kata Kevin pelan. "Pertunangan batal, hubungan otomatis selesai."
Marcha menatapnya curiga "Dan?"
"Dan akhirnya lo bisa sama Deven—"
"Enggak." Marcha memotong cepat. "Gue gak akan sama Deven." Ia tertawa kecil, getir. "Lo kira gue mau jelasin ke Shanna apa? 'Maaf ya, tunangan lo batal, tapi gue dapet cowoknya?' Gue bukan penjahat sinetron."
Kevin menghela napas, memasukkan tangan ke saku "Tapi Deven bisa aja sama cewek lain, Cha. Ini bukan akhir segalanya."
"Udah, Vin."
Marcha menggeleng. "Gue gak mau bahas. Menurut gue, mereka berdua butuh waktu sendiri. Lo seharusnya ngehibur Shanna."
"Lo juga bisa ngehibur Deven."
"Gue gak perlu." Marcha mengangkat bahu. "Dia yang mutusin. Dia punya keluarga. Kak Amel juga ada."
"Dia bakal hubungin elo," kata Kevin mantap. "Dia cinta sama elo."
Marcha mendengus kecil "Deven itu tipe cowok yang nyimpen masalah di hard disk internal, bukan di cloud. Kalau bisa diselesain sendiri, ya dia selesain sendiri."
Kevin mengangguk pelan "Gue gak nyalahin Deven. Keluarganya yang nolak. Disuruh milih Shanna atau keluarga—jelas dia milih keluarga. Dan itu tandanya... dia gak cinta sama Shanna."
Marcha diam.
Lalu—ting. Notifikasi ponselnya menyala.
Ingvar:
kak, papi kumat lagi... gue sama mami ke rumah sakit. kak Marcha langsung ke rumah sakit?
Napas Marcha tercekat. Setiap kali kata kumat muncul, jantungnya seperti lupa cara kerja.
Marcha:
ya, gue otw ke rumah sakit.
"Ada apa?" tanya Kevin.
"Papi gue," jawab Marcha cepat. "Kambuh. Gue harus ke rumah sakit sekarang."
Kevin tertawa kecil—yang sama sekali tak lucu "See? Destiny works in mysterious—and annoying—ways. Lo bakal ketemu Deven."
"Gak mungkin," bantah Marcha. "Dia gak bakal ke rumah sakit cuma karena bokap gue. Pertunangannya baru aja batal, Vin. Dia pasti—"
"Dia cinta sama elo." Kevin menatapnya serius. "Cowok kayak Deven gak tahan lihat lo sedih."
"Sekarang ini gak masuk akal," desah Marcha. "Udah, gue harus pergi. Otak gue lagi penuh, gak muat drama cinta."
Kevin mengangguk "Oh ya, Cha. Masalah firma hukum gue—"
"Gampang," potong Marcha. "Nanti gue urus."
"Okay. Bye."
Marcha melangkah pergi. Ia tak tahu harus merasa apa. Lega? Sedih? Bingung? Yang jelas—ia tidak bahagia dan ia sungguh berharap tak bertemu Deven malam ini tapi semesta, seperti biasa, tidak peduli harapan manusia.
Di rumah sakit, langkah Marcha terhenti. Deven berdiri di sana—masih memakai jas dan kemeja pesta. Dasi tergantung tak beraturan, rambutnya berantakan. Ia berdiri di sisi ranjang papi Marcha, tubuhnya condong sedikit, ekspresinya serius... terlalu serius. Mata Deven merah. Marcha menelan ludah.
Dia nangis?

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang