New One (Shanna)

58 7 1
                                        

Shanna menatap tante Debby dengan dada naik turun menahan emosi. Ia benar-benar tidak habis pikir bahkan setelah semua kekacauan ini, setelah Anneth masuk penjara, setelah nama keluarga mereka hancur di media... Wanita itu masih sibuk menyalahkan orang lain, tidak pernah sekali pun melihat dirinya sendiri.
"Kamu gak boleh dekat lagi sama Deven maupun Kevin." suara tante Debby terdengar tegas dan dingin.
"Mereka berdua teman Shannon," jawab Shanna cepat, berusaha menahan nada suaranya agar tidak meledak.
"Mereka bukan lelaki baik," balas tante Debby tajam. "Mereka yang bikin Anneth masuk penjara."
Shanna tertawa pendek saking kesalnya.
"Serius tante masih bisa ngomong kayak gitu?" tanyanya tidak percaya. "Bukannya ulah tante sendiri yang bikin Anneth sampai kayak sekarang?"
"Shannon!" bentak mama Shanna.
Tapi Shanna sudah terlalu lelah untuk diam.
"Kenapa tante malah nyalahin Kevin sama Deven?" lanjutnya. "Apalagi Deven. Dia udah gak ada hubungan apa-apa sama masalah Anneth sekarang."
Tante Debby menatap tajam ke arah Shanna "Kenapa kamu bela Deven?" tanyanya sinis. "Kamu masih suka sama dia?"
Shanna langsung menatap tante Debby tidak percaya "Shannon bukan lagi ngomong soal suka atau enggak," katanya geram. "Shannon ngomongin kenyataan yang ada sekarang." Ia melangkah mendekat "Kalau aja tante gak maksa Anneth putus sama Betrand dan batalin semua kontraknya cuma demi nyari laki-laki yang menurut tante 'lebih baik'..." suara Shanna mulai bergetar menahan emosi, "...semua ini gak akan kejadian."
"Kamu—"
"Anneth cerita semuanya," potong Shanna cepat. "Tante mau Anneth balikan sama Deven."
Mama Shanna langsung terlihat panik "Shan, udah—"
"Enggak, ma. Shannon capek diem terus." Matanya mulai memerah "Setelah semua fitnah yang tante lakukan ke Deven? Setelah tante sengaja hancurin pertunangan Shannon?" suaranya meninggi. "Tante masih berharap Deven mau balik sama Anneth?"
Tante Debby terlihat tersinggung.
"Lihat kenyataan dong, tante!" lanjut Shanna dengan suara pecah. "Kalaupun Deven masih cinta sama Anneth, gak ada laki-laki waras yang mau punya mertua kayak tante!"
PLAKKK!
Kepala Shanna langsung menoleh ke samping.
Ruangan itu mendadak sunyi. Shanna mematung sambil memegang pipinya yang panas, pelan-pelan ia menoleh menatap mamanya, matanya membesar, ini kedua kalinya.
Kedua kalinya mamanya menampar dia... demi tante Debby. Dulu, sebelum semua ini terjadi, mamanya bahkan gak pernah membentak dia seperti itu apalagi setelah perjuangan panjang soal kondisi matanya waktu kecil sampai remaja. Mamanya selalu lembut, selalu melindungi dia tapi sekarang...
"Shan... mama..." suara mamanya mulai gemetar sendiri.
Shanna tertawa kecil, pahit "Udah cukup," katanya lirih. "Shannon capek."
Air matanya mulai jatuh satu per satu "Terserah mama kalau sekarang lebih milih tante Debby," lanjutnya. "Tapi Shannon gak mau punya tante kayak dia."
"Kamu kurang ajar!" bentak tante Debby dengan mata melotot.
Namun Shanna sudah tidak peduli, ia langsung berjalan masuk ke kamar.
"Shannon!" mama nya buru-buru mengikuti. "Kamu mau kemana?!"
"Kemana aja," jawab Shanna dingin sambil menarik koper dari lemari. Ia mulai memasukkan pakaian dengan gerakan asal. "Yang penting Shannon gak ketemu tante Debby."
"Kamu mau keluar rumah?" tanya mama nya kaget.
"Mama yang maksa."
"Mama maksa apa?!"
Shanna tertawa miris "Larangan berteman," katanya sambil melipat baju seadanya. "Mama pikir Deven sama Kevin itu laki-laki apaan? Mereka teman Shannon."
"Mama gak ngelarang kamu temenan sama mereka!"
"Ya tapi tante Debby udah ngomong begitu," balas Shanna cepat. "Dan mama lebih dengerin dia daripada Shannon."
Mamanya terlihat frustrasi "Gak ada salahnya dengar saran dari tante kamu—"
"Gak ada salahnya?" ulang Shanna dengan mata berkaca-kaca. "Ngerusak pertunangan Shannon juga gak ada salahnya?" Suaranya pecah "Itu hari pertunangan Shannon, ma..."
Ruangan kembali sunyi.
"Cepat atau lambat kamu memang pasti putus sama Deven," kata tante Debby dingin dari luar kamar.
Shanna langsung menoleh "Kalaupun Shannon sama Deven putus," katanya lirih namun tajam, "itu harusnya bukan di hari pertunangan Shannon."
Setelah semua pakaian masuk seadanya, Shanna menutup koper keras-keras.
"Kamu mau kemana?" tanya mamanya lagi sambil menahan lengan Shanna.
Shanna menatap tangan itu beberapa detik sebelum perlahan melepasnya "Shannon udah dewasa, ma," katanya pelan. "Gak semua hidup Shannon bisa mama atur."
Dan tanpa menunggu jawaban lagi, Shanna berjalan keluar rumah, mamanya masih memanggil-manggil namanya dari belakang tapi Shanna terus berjalan, tangannya gemetar saat membuka aplikasi taksi online, dadanya sesak. Rumah yang selama ini selalu jadi tempat paling nyaman sekarang terasa asing dan ironisnya...orang pertama yang muncul di pikirannya justru Kevin.
Hari ini mereka memang janji ketemu karena itu, Shanna langsung membawa kopernya ke kantor baru Kevin namun sesampainya di sana, realita langsung menyambutnya.
Walaupun dia teman dekat Kevin, bukan berarti dia dapat perlakuan spesial. Firma hukum itu ramai, penuh klien, penuh orang penting keluar masuk dan tetap harus antre seperti semua orang.
Ia duduk sambil memeluk koper kecilnya, menunggu namanya dipanggil, sementara orang-orang di sekitar diam-diam melirik dirinya.
Penyanyi terkenal. Masalah keluarga viral. Pertunangan gagal. Drama media.
Lengkap.
Shanna menunduk pelan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya... dia benar-benar merasa sendirian.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang