Our Times (Marcha)

91 5 4
                                        

Marcha membuka matanya setengah sadar. Hal pertama yang ia lihat bukan langit Paris, bukan wajah Deven—melainkan apel raksasa, bukan apel sungguhan. Casing HP apel.
Marcha mendengus "Hei... nggak sopan tau ngerekam orang tidur," gumamnya cemberut sambil berusaha merebut ponsel dari tangan Deven.
"Aku ngerekam Cha-Cha-ku tidur sambil meluk Devemon. Masa nggak boleh?" kata Deven tertawa, sigap mengangkat ponselnya menjauh.
"Ya tapi tampangku jelek, Dev, baru bangun juga," protes Marcha sambil buru-buru menutup wajahnya pakai boneka Doraemon.
"Siapa bilang kamu jelek?" Deven menarik boneka Doraemon itu perlahan.
"Jelek," jawab Marcha mantap, seperti sedang menyatakan fakta ilmiah
Tanpa komentar, Deven mendekat dan mengecup bibirnya pelan—sekilas, ringan, hampir seperti angin.
"Udah," katanya sambil terkekeh. "Nggak jelek lagi."
"Apaan sih?" Marcha tertawa, pipinya langsung panas.
"Kamu tau dongeng pangeran kodok kan?" Deven menahan senyum. "Yang dicium putri, terus jadi pangeran ganteng. Nah... ini kebalikannya."
Marcha menyipitkan mata. "Apa kamu barusan manggil aku kodok?"
Deven cuma tertawa, jelas menikmati hidup.
"Kurang ajar," kata Marcha sambil melempar bantal ke arahnya. "Mana ada putri kodok!"
Deven menangkis, bangkit, lalu kabur keluar kamar sambil tertawa seperti anak SD abis nyolong permen.

Sudah lima hari Deven di Paris dan hampir setiap hari, mereka jalan-jalan sepulang kerja Marcha—yang untungnya cuma setengah hari, meski tinggal di rumah yang sama, mereka tidur di kamar terpisah.
Awalnya Marcha mengira Deven keberatan biasanya, laki-laki ya... begitulah tapi Deven jelas beda, di meja sarapan, sebelum Marcha berangkat kerja, Deven akhirnya menjelaskan alasannya dengan wajah cerah seperti lagi bahas cuaca.
"Aku cuma mau menghormati kamu, Cha," katanya santai sambil menuang kopi. "Kita belum menikah, kalau cowok bener-bener cinta, dia cuma nyentuh hati kamu, yang lain... nunggu halal."
Marcha mengangkat alis. "Ada alasan lain kan?"
Deven nyengir. "Jelas ada. Papi kamu, aku nggak mau nyakitin anaknya, aku jagain kamu sampai kamu resmi jadi punyaku dan jaga kehormatanmu itu bagian dari tugas satpam hati."
"papi ku nggak akan ngerti," gumam Marcha.
"Kita bikin dia ngerti," jawab Deven ringan.
"Kamu ini..." Marcha menggeleng, antara gemas dan senyum.
Deven mendekat. "Kenapa? Jadi makin sayang ya, Cha?"
"Nyebelin," kata Marcha sambil tertawa dan menyesap kopinya.
"Kok nyebelin?" Deven bingung sambil menggigit sandwich.
"Kamu di sini cuma lima hari," kata Marcha pelan. "Besok kamu pulang."
"Ikut aku," ajak Deven sambil menggenggam tangannya.
"Kerjaanku di sini banyak, Dev apalagi habis kamu datang, semuanya ketunda," kata Marcha, lalu berhenti sebentar, Ia baru sadar kopinya manis. "Ini kamu yang nambah gula, ya?" tanyanya curiga.
Deven pura-pura nggak dengar.
"Kamu belum lihat kondisi papi kamu dua bulan ini," lanjut Deven "Harusnya kamu pulang meskipun sebentar."
"Aku telepon Ingvar tiap hari," kata Marcha.
"Telepon sama ketemu langsung beda rasanya," jawab Deven lembut. "Aku yakin papi kamu bakal bahagia banget lihat kamu."
Marcha terdiam, ia tahu Deven benar—tapi bayangan bertengkar lagi karena Deven seperti dulu masih menghantuinya.
"Cha," panggil Deven pelan.
"Nanti aku atur waktu dulu," jawab Marcha akhirnya.
Deven berdiri, mengecup keningnya dengan lembut, lalu berjalan menuju kamarnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Marcha heran.
"Mandi," jawab Deven sambil tersenyum "Abis itu aku anterin kamu ke kantor."
Marcha tersenyum sendiri. Deven emang nyebelin tapi... nyenengin.

Sore itu, sepulang kerja, Marcha mendapati Deven duduk di depan laptop. Wajahnya serius, suaranya rendah—jelas sedang bicara dengan rekan kerja. Marcha tahu itu urusan kantor jadi ia memilih strategi paling dewasa: jalan pelan-pelan, pura-pura nggak nguping, tapi tetap kepo dikit.
Begitu Deven menangkap bayangan Marcha di sudut mata, ia langsung menutup panggilan.
"Kamu udah pulang?" tanyanya.
Marcha tersenyum, mengangguk, lalu—tanpa izin—duduk di samping Deven dan menyandarkan kepala di dadanya, masih sambil memeluk buku, Deven refleks memeluknya erat, seolah itu kebiasaan lama yang tak perlu dipikirkan.
"Dev... aku mau ngomong sesuatu," kata Marcha pelan.
"Hm? Ngomong aja," jawab Deven, dagunya menyentuh rambut Marcha.
"Dev, aku tau kamu nggak suka LDR, tapi—"
"Kita jalanin dulu. Itu aja," potong Deven lembut. "Kalau aku dapat libur—walau nggak dalam waktu dekat—aku pasti ke Paris."
Marcha mendongak. "Beneran ya?"
Deven mengangguk. "Semuanya buat kamu, Cha, nanti aku temenin kamu ke Montparnasse Tower lagi."
Marcha langsung senyum selebar anak kecil habis dibeliin es krim, lalu mencium pipi Deven dengan penuh niat.
"Aku juga bakal cari waktu ke Indo," katanya mantap "Ketemu kamu, papi, mami, sama Ingvar."
"Put your family first, they are everything," kata Deven pelan.
"I know," jawab Marcha sambil memeluknya erat—kayak takut Deven bisa menguap.
"Kamu mau ke mana hari ini?"
"Di rumah aja," jawab Deven santai.
"Bukannya kamu mau ke Moulin Rouge?" Marcha menaikkan satu alis.
"Capek. Tiap hari jalan terus," jawab Deven.
Alis Marcha naik sebelah, curiga. "Kamu seharian di rumah setelah anter aku ke kantor. Kamu yang capek... atau kamu nggak mau aku capek?"
Deven tertawa. "Kamu jago banget baca pikiran."
"Berarti aku bener dong."
"Aku nggak mau kamu capek," katanya jujur.
"Aku nggak capek, Dev."
"Capek dari mana? Habis kerja masih nemenin aku keliling," katanya sambil mengusap rambut Marcha.
Marcha terdiam sebentar. "Ya tapi... besok kamu pulang."
"Justru itu," kata Deven.
"Quality time nggak harus jalan-jalan. Yang penting habisin waktu sama kamu."
Marcha menatapnya lama. "Kamu yakin nggak mau keluar?"
Deven mengangguk. "Pelukan kayak gini aja aku udah seneng."
Marcha nyengir. "Tapi kita harus makan. Kamu mau apa? Aku bisa suruh Janel beli dan—"
"Kita masak aja," potong Deven.
"Masak?" Marcha kaget setengah mati. "Masak... kita?"
"Iya. Nggak sehat makan di luar terus."
"Ehm... setahuku kulkas kosong," kata Marcha ragu.
Deven nyengir bangga. "Tadi aku belanja, kulkas kamu sekarang lebih penuh daripada hatiku waktu ketemu kamu."
"Gombalnya ilegal," Marcha tertawa. "Jadi dari tadi kamu udah punya rencana?"
Deven mengangguk penuh semangat. "Ayooo ke dapur."

Mereka masak bareng. Marcha sebenarnya bisa masak—tapi biasanya cuma kalau lagi niat hidup, kali ini beda, masak bareng Deven rasanya... hangat.
"Jago juga, Pak Dokter," kata Marcha mengendus panci Deven "Ini aroma orang bisa jatuh cinta."
"Kamu lupa aku pernah kuliah di luar?" Deven membela diri. "Aku lumayan lah."
"Gara-gara itu kamu join bisnis kulinerku di Indo?" tanya Marcha.
"Sebagian," jawab Deven santai. "Alasan utamanya biar aku punya alasan ketemu kamu setelah papi kamu sembuh."
Marcha tertawa sambil menggeleng. "Aku tau."

Selesai makan, mereka masuk ke ruangan favorit Marcha saat ingin sendiri. Ruangan seni. Isinya alat musik, speaker, pemutar piringan hitam, lukisan—dan kanvas kosong yang menunggu cerita.
"Wow," Deven terpukau. "Aku di rumah kamu empat hari lebih tapi nggak pernah ke sini."
"Aku kunci," jawab Marcha.
"Kenapa? Ini keren."
"Karena ini lukisan-lukisanku. Aku malu," katanya jujur "Cuma Carol yang boleh masuk."
"Kenapa malu?" Deven menatap lukisan-lukisan itu. "Ini luar biasa."
"Yang ini mirip yang di kantor kamu, kan?" lanjutnya.
"Iya... beberapa aku pajang. Yang di sini—" Marcha mengangkat bahu.
"Kebanyakan pemandangan," kata Deven tersenyum. "Paris semua."
"Aku gambar yang aku lihat," jawab Marcha. "dan hidupku... di sini."
"Kamu bisa gambar orang?" tanya Deven.
"Bisa... tapi—"
"Can you paint me?"
Marcha mengernyit. "Ngelukis kamu?"
"Iya. Aku pengen lihat diriku di mata kamu... sebagai seniman."
Marcha ragu. "Aku takut hasilnya jelek."
"Cha, kamu belum mulai. Kok udah menyerah?"
Marcha menghela napas.
"Anggep aja hadiah ulang tahunku," kata Deven.
Marcha mendekat, memegang pipi Deven lembut.
"Kamu itu nggak bisa dijadiin karya seni," katanya serius.
Deven terdiam.
"Karena kamu sendiri adalah karya seni paling indah yang Tuhan buat," lanjut Marcha polos "dan kayaknya... limited edition, cuma satu. buat aku."
Deven tersenyum dan sore itu, Marcha mulai melukis. Deven duduk di piano tua, dengan pose paling sok ganteng—atas permintaan sendiri dan  tanpa disadari Marcha, Deven memang menjadi lukisan terindah yang pernah ia buat

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang