Gak bisa nolak (Marcha)

94 9 34
                                        

Tak ada apa-apa. Deven hanya meninggalkan satu hal: tatapan kecewa—sejenis souvenir perpisahan yang sayangnya tidak bisa ditukar atau dikembalikan. Seharusnya Marcha lega. Bukankah ini yang ia mau? Melepaskan Deven, membiarkannya bebas, tanpa ikut terseret ke hidupnya yang ribet, lintas negara, lintas zona waktu, lintas emosi.
Deven tidak akan punya masalah lagi tapi kenapa dadanya sakit sekali saat melihat punggung Deven menjauh? Marcha dilanda firasat buruk.
Kalau ini... mungkin benar-benar terakhir kalinya ia melihat Deven. Bukan putus—karena mereka bahkan tak sempat memulai lagi—melainkan berakhir begitu saja. Ia tidak menyalahkan Deven. Ia tahu betul betapa kecewanya Deven padanya. Tujuh jam lalu Deven masih di bandara. Delapan belas jam penerbangan Jakarta–Paris. Satu hari menunggu tanpa protes dan apa yang ia berikan? Penolakan.
Yang paling menyakitkan: Deven menerimanya dengan ikhlas. Marcha tahu. Ia bisa melihatnya dari mata Deven. Marcha menekan keningnya, bersandar ke tembok. Mendongak, menatap langit-langit—teknik klasik menahan air mata. Gagal, tapi tetap dicoba.
"Madame, Anda tidak apa-apa?" suara Deca terdengar ragu.
Marcha menoleh, memaksakan senyum tipis.
"Aku nggak apa-apa. Kamu keluar saja."
Deca tampak ingin membantah, tapi akhirnya menuruti. Begitu pintu tertutup— air mata Marcha jatuh. Ia jarang menangis. tapi untuk Deven, sistem pertahanannya selalu error.
Ia kembali ke kantor, berniat bekerja. Berniat. Tidak berhasil. Wajah Deven terbayang lagi. Pucat. Lelah. Jet lag? Kurang tidur? Atau hatinya yang kebanyakan luka? Deven sekarang di mana? Tidur di mana? Pulang jam berapa?
Marcha mendesah pelan. Rasa bersalah menekan dadanya. Ia meraih ponsel dan menelepon Kevin.
"Vin," suaranya pelan, "lo yang kasih alamat kantor gue ke Deven?"
"Lo udah ketemu cowok gila itu?" Kevin tertawa kecil. "Jadi dia beneran ke Paris?"
Marcha mengernyit "Maksud lo?"
"Deven itu kebanyakan cuti," jelas Kevin. "Secara teknis masih ada, tapi habis Bali–Lombok kemarin, rumah sakit udah ngasih warning. Kalau dia libur lagi... bisa dikeluarin."
Marcha tercekat "Terus... kerjaan dia?"
"Gue nggak tahu. Dia nggak bahas."
Marcha menepuk keningnya. Pelan. Tapi frustrasi.
"Gue... gue ngerusak hidup Deven," gumamnya.
"Apa?" Kevin langsung serius. "Lo nolak dia?"
Marcha diam.
"Cha," suara Kevin berat, "lo keterlaluan."
"Dia pulang besok," sela Marcha cepat. "Gue masih bisa ketemu dia."
"Hah? Pulang besok?" Kevin tertawa pendek "Enggak, Cha. Dia salah tanggal. Tiketnya hari ini."
Marcha membeku "Hari ini?"
"Iya. Gue yang beliin tiketnya."
"Dia tinggal di mana?" tanya Marcha tanpa basa-basi.
"Di rumah Damitri Vallois, temen gue."
"Kasih alamatnya. Sekarang."
Kevin terdiam sepersekian detik, lalu menyebutkan alamat. Marcha langsung berdiri, meraih tasnya.
"Gue ke sana."
Telepon ditutup. Marcha keluar dari kantor, menyuruh Deca menunda semua agenda hari itu. Untuk pertama kalinya setelah dua bulan,
Marcha memilih berhenti bekerja—dan mengejar sesuatu yang jauh lebih menakutkan:cinta yang hampir ia lepaskan selamanya.
Begitu Marcha sampai di alamat rumah teman Kevin, Damitri ternyata tidak ada. Istrinya yang membuka pintu—ramah, tapi kalimatnya langsung menjatuhkan mental.
"Oh, suami saya lagi nganterin temannya ke bandara. Deven, kan?"
Marcha tersenyum... versi orang panik "Ah. Iya. Makasih, ya, Madame."
Begitu masuk mobil, Marcha langsung tancap gas ke bandara sambil menelepon Deven. Nyambung. Tidak diangkat. Sekali lagi. Tidak diangkat. Marcha tertawa hambar. Oh. Jadi beginilah rasanya jadi mantan Deven. Anneth. Shanna. Dan sekarang... dirinya. Ironis. Padahal ia tahu betul apa saja yang Deven korbankan demi bisa bersamanya dan bodohnya, ia hampir menyia-nyiakan cinta setulus itu. Cinta yang—Marcha yakin—tidak akan pernah ia temukan lagi pada lelaki lain.

Sampai di bandara, Marcha turun dari mobil dan menatap sekeliling, matanya bergerak liar.
"Deven!" panggilnya.
Tidak ada. Ia menelepon lagi. Tetap tidak diangkat. Marcha berlari ke area keberangkatan. Kosong. Ke mesin check-in. Kosong. Ke arah imigrasi. Kosong juga. Dadanya sesak. Air mata sudah di ujung, siap jatuh kapan saja. Dalam kepalanya terngiang suara Anneth bertahun-tahun lalu: Jangan pernah lepasin Deven. Lo bakal nyesel.
Dan benar saja. Marcha menyesal—setengah mati,  Langkahnya melambat, tubuhnya lemas, sampai ia hampir pasrah...lalu ia melihat sosok itu. Seorang pria berdiri di depan papan pengumuman keberangkatan, menggenggam tiket dengan wajah cemas, bolak-balik melihat jam dan layar.
Marcha berhenti. Jantungnya hampir copot—kali ini karena lega.
"Deven," panggilnya lirih.
Deven menoleh. Tatapan kagetnya bukan main, seperti orang melihat hantu... tapi versi hantu yang ia rindukan.
Marcha tersenyum lebar dan langsung berlari, memeluk Deven sekuat tenaga.
"Gue pikir lo udah balik," katanya, suaranya bergetar sambil memeluk erat.
"Cha—" Deven terbatuk, setengah tertawa, "pelukan lo bisa bikin tulang gue remuk."
Marcha tertawa kecil, lalu melepaskan pelukan. Ia memegang kedua pipi Deven, menatap wajah itu lama—terlalu lama untuk ukuran bandara, tapi terlalu singkat untuk hatinya. Syukur memenuhi dadanya. Pria ini. Cinta ini. Marcha mencium bibir Deven tanpa ragu. Ia melingkarkan lengannya di leher Deven, dan Deven membalas ciuman itu sambil memeluknya erat, seolah takut Marcha akan menghilang lagi. Tak ada kata maaf. Tak ada penjelasan panjang. Karena mereka sama-sama tahu—mereka saling mencintai dan kali ini, itu sudah lebih dari cukup.

Marcha menggandeng lengan Deven erat-erat, kepalanya ia sandarkan manja di pundak Deven. Senyumnya lebar, senyum orang jatuh cinta yang rasanya dunia ikut cerah. Mereka menyusuri bandara menuju area parkir, langkahnya santai—seolah tidak ada drama bandara satu jam lalu.
"Jadi..." Deven melirik ke arahnya dengan alis terangkat, "kamu nyita tiketku?"
"Iya," jawab Marcha enteng sambil nyengir bangga. "Pesawatnya juga udah berangkat tiga puluh menit yang lalu."
Deven mendengus. "Kevin itu bener-bener gak mikirin orang jet lag. Aku ketiduran di rumah temennya, bangun-bangun pesawat udah pamit duluan."
"Untung kamu ketinggalan pesawat," kata Marcha santai.
"Untung?" Deven menoleh.
"Iya. Kalau nggak, aku yang balik ke Indo. Drama banget, kan? Baru baikan, langsung LDR lagi," jawab Marcha dengan ekspresi sok ngeri.
Deven tertawa pelan. "Ya tapi aku kan tetep balik ke Indo nanti."
"Nanti aja itu dibahas," potong Marcha cepat. "Sekarang kamu liburan dulu di Paris. Healing, recharge, napas, hidup."
"Aku balik hotel dulu deh," kata Deven sambil mengusap leher. "Baru denger kata 'jalan-jalan', kepalaku langsung muter."
Marcha ngakak. "Iya, kamu tidur dulu. Tapi... nggak di hotel."
Deven berhenti sebentar. "Hah? Terus aku tidur di mana? Di rumah kamu gitu?" tanyanya setengah bercanda.
"Iyalah, di rumahku," jawab Marcha tanpa beban.
Deven langsung berhenti jalan. Panik total "Cha—kita belum menikah. Aku gak mau macem-macem. Aku mau nunjukin ke papi kamu kalau aku ini calon menantu yang berakhlak, sopan, dan tidak tidur sembarangan!"
Marcha menatapnya beberapa detik, lalu tertawa sampai bahunya naik turun.
"Kamu mikirnya jauh banget sih, sayang? Aku juga gak mungkin nyuruh kamu tidur di kamarku," katanya sambil mencubit lengan Deven. "Di rumahku iya. Di kamarku nggak. Emang kamu kira rumahku kos-kosan satu kamar?"
Deven ikut tertawa, mengusap wajahnya. "Duh, otakku error. Kurang tidur."
"Makanya," kata Marcha lembut. "Biar nggak error makin parah, sekarang kita pulang. Aku juga masih ada kerjaan dikit."
"Kerjaan?" Deven menoleh.
"Iya. Tadi belum selesai. Aku ninggalin semuanya cuma buat ngejar kamu ke bandara," jawab Marcha ringan—padahal jelas itu bukan hal kecil.
Deven langsung menggeleng. "Besok aja. Kalau aku tidur, kamu juga harus tidur. Kalau kamu gak tidur, aku juga gak tidur."
"Tapi Dev—"
"Nurut," potong Deven sambil memegang dagu Marcha, lalu mengecup bibirnya pelan. "Kerjaan gak ada habisnya. Kamu itu harus istirahat... pacarku."
Marcha tersenyum lebar dan seperti biasa—di depan Deven—ia kalah telak.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang