Miscom (Marcha)

107 7 17
                                        

Marcha masuk ke toilet dan mengunci diri di salah satu bilik. Untuk sesaat... ada rasa nyaman yang sudah lama tak ia rasakan. Pelukan Deven. Hangat. Tenang. Aman namun rasa itu buyar seketika, berganti nyeri tajam, saat bayangan Shanna memegang tangan Deven kembali muncul di kepalanya. Marcha berdiri di depan cermin. Matanya bengkak. Wajahnya pucat, tapi masih keras kepala.
"You don't have time for this bullshit," gumamnya pada bayangannya sendiri "Love is bullshit."
Ia memejamkan mata. Ia tahu—jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya demi sesuatu bernama cinta adalah kebodohan tingkat nasional. Cinta itu tidak realistis. Hanya perasaan. Ilusi. Kebohongan semesta dengan kemasan manis. Sedangkan pekerjaannya, bisnisnya, dan kenyataan bahwa papi-nya kena kanker—itu nyata. Brutal. Tidak bisa dinegosiasikan dan Marcha selalu lebih jago menghadapi kenyataan daripada khayalan.
"Fokus, Cha," bisiknya lirih. "Drama nanti aja... kalau semesta lagi baik."
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, seolah ingin menyadarkan diri sendiri. Memperbaiki makeup, menepuk pipinya pelan.
"Bangun. Dunia belum selesai ngehajar lo."
Marcha keluar dari toilet—dan langsung berhenti melangkah.
Deven.
Berdiri tak jauh darinya, seperti orang yang... menunggu. Marcha menatap sekeliling. Shanna tidak ada.Alisnya terangkat.
"Hei, Dev," sapa Marcha. "Lo ngapain di sini? Ini WC cewek, bukan basecamp."
"Gue nyariin lo," jawab Deven santai.
Marcha mengerutkan kening. "Nyariin gue?"
"Gue dari kamar bokap lo," jelas Deven. "Terus ketemu nyokap lo. Katanya lo belum balik, jadi..."
Ia tersenyum kecil. "Gue khawatir."
Marcha mendecak. "Gue nggak apa-apa. Tapi lo tau dari mana gue di toilet?"
Deven mengangkat bahu. "Feeling dokter."
Marcha mendengus. Ya ampun... senyum itu. Kenapa senyum Deven masih punya efek berbahaya seperti ini? Seperti api unggun di tengah badai salju—hangat, nyaman, dan jelas-jelas ide buruk.
"Shanna mana?" tanya Marcha akhirnya.
"Nggak tahu," jawab Deven. "Mungkin pulang."
"Kok lo nggak tahu?" Marcha membelalak. "Dia kan cewek lo."
"Ya tadi gue tinggalin," jawab Deven ringan. "Gue nyariin lo."
"Dev!" Marcha refleks membentak. "Gue nggak mau tengkar sama Shanna gara-gara elo."
Deven terkekeh. "Santai. Gue bercanda. Tadi kita memang ada masalah lain." Ia menatap Marcha. "Dan itu nggak ada hubungannya sama lo."
Marcha masih menatapnya ragu "Tapi lo nyari gue?"
Deven mengangguk. "Iya. Kan udah gue bilang."
"Ya berarti lo ninggalin Shanna buat nyari gue dong?"
"Gue nyari lo, iya. Tapi itu beda konteks," jawab Deven cepat. "Jangan ge-er."
"Siapa yang ge-er?!" Marcha langsung tersinggung. "Gue tau gue manis, Dev, tapi nggak semua yang manis harus dicari. Gula darah bisa naik."
Deven tertawa lepas.
"Lo nggak berubah," katanya sambil menggeleng. "Tetap aja ceria, meskipun omongan lo pedes kayak sambal tanpa ampun."
Marcha menyeringai tipis. Di balik canda itu, ada sesuatu yang masih bergetar—emosi yang belum selesai, dan jarak yang makin tipis padahal seharusnya tetap ada.

Marcha ikut tertawa pelan.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar tawa itu—tawa Deven yang lepas, yang dulu selalu berhasil membuat hari-harinya terasa lebih ringan dan anehnya... dadanya ikut menghangat.
"Lo udah ketemu gue," kata Marcha akhirnya, mencoba terdengar biasa. "Sekarang mau apa lagi?"
"Kita ke kamar bokap lo, kan?" jawab Deven ringan. "Ayolah, gue temenin."
"Gue gak perlu lo temenin," sahut Marcha cepat.
"Gue pengen temenin elo," Deven menekankan, sambil tersenyum bandel.
"Dev, gue gak mau ada masalah sama Shanna," kata Marcha tegas.
Deven mengangkat bahu. "Gue cuma bersimpati sama temen gue yang baru dapet kabar bokapnya kena kanker. Itu dosa?"
"Ya... tapi gue gak butuh simpati lo."
"Ya udah," Deven nyengir. "Anggap aja gue yang butuh ditemenin sama si manis ke kamar pasien."
"Si manis lagi, si manis lagi," Marcha mendengus. "Lo pikir gue Si Manis Jembatan Ancol? Hantu dong gue."
Deven langsung tertawa. "Lah, tadi juga elo sendiri yang bilang elo manis."
Marcha menatap Deven beberapa detik. Tatapan itu—jujur, tulus, dan terlalu familiar. Bagaimana caranya menolak ketulusan seseorang yang dulu pernah menjadi rumah?
"Ya udah," desah Marcha akhirnya. "Kita temen ya, Dev. Temen."
"Iyalah temen," jawab Deven santai sambil ikut melangkah di sampingnya. "Emang elo mau status apa? Mantan rasa pacar?"
"Dev!" bentak Marcha.
Deven tertawa lagi, puas.
"Jangan sampe Shanna denger ya," Marcha menurunkan suara.
"Gak mau bikin masalah sama Shanna," Deven mengangguk. "Tenang, Cha. Kalimat itu udah lo ucapin berkali-kali. Gue hafal di luar kepala."
"Lo hafal, tapi mulut lo tetap aja suka ngawur."
"Bercanda kali," kata Deven. "Ngomong-ngomong... gue belum sempat ngobrol banyak sama elo sejak lo balik ke Indo. Gimana kabar lo?"
Marcha melirik sinis. "Perasaan gue udah jawab pertanyaan itu."
Deven terkekeh. "Iya ding. Salah pertanyaan. Maksud gue—gimana hidup lo di Paris? Kenapa lo gak pernah ngabarin gue?"
Marcha berhenti melangkah. "Dev, elo yang ngilang. Gue chat, email, nelpon—semua."
"Ngasal," Deven ikut berhenti. "Lo yang gak pernah bales. Gue juga chat, email, telepon elo."
Mereka saling menatap, sama-sama mengerutkan kening.
"Oke," kata Marcha cepat sambil mengeluarkan ponsel lamanya. "Kita buktiin. Biar kelar."
"Lo masih simpen chat gue?" Deven kaget.
"Masih," jawab Marcha datar. "HP boleh ganti, perasaan enggak."
Deven terdiam sejenak, lalu mengeluarkan ponsel lamanya—sudutnya bocel, layarnya retak.
Marcha menahan tawa. "HP lama gue masih lebih manusiawi."
"Ya jelas," Deven nyengir. "Elo rapi, gue berantakan. Ayo, kita lihat siapa yang bohong."
Mereka saling menukar ponsel. Beberapa detik berlalu dalam diam yang aneh.
"Gue gak nge-block," gumam Marcha bingung.
"Gue juga enggak," jawab Deven pelan.
Marcha mengutak-atik ponsel Deven. Tidak ada blokir. Tidak ada jejak.
"Ini bukan salah kita," kata Marcha lirih. "Ini salah aplikasinya."
"Lo bercanda?" Deven mengernyit.
"Nggak," Marcha mengangkat bahu. "Ntar gue tanya bos yang bikin aplikasi ini. Gue kenal."
Mata Deven membesar. "Lo kenal? Ini aplikasi Amrik."
"Iya," jawab Marcha santai. "Yang bikin orang Indo, tinggal di Amrik. Temen bokap gue."
Deven terdiam. Marcha mengembalikan ponsel Deven. Deven melakukan hal yang sama.
"Jadi..." Deven membuka suara pelan. "Selama ini..."
"Semua sudah terjadi," potong Marcha. "Kita gak bisa hidup di kata 'seandainya'."
"Tapi kalau kita masih komunikasi, kita—"
"Dev," Marcha menatapnya dalam. "Waktu gak bisa diputar ulang."
Deven mengangguk. "Gue minta maaf. Gue salah paham."
"Gue juga," jawab Marcha lirih. "Gue benci elo gara-gara itu."
"Benci?" Deven terkejut.
"Gue pikir elo ninggalin gue," kata Marcha jujur. "Padahal elo janji nunggu."
Deven menghela napas. "Gue salah karena gak setia nunggu tapi gue pikir lo gak bakal balik."
"Dan gue gak nyalahin lo," kata Marcha. "Gue pergi terlalu lama."
Hening lagi.
"Bahkan kalau gue milih Shanna?" tanya Deven pelan.
Marcha terdiam. Sakit—iya tapi salah? Tidak.
"Shanna baik," kata Marcha akhirnya. "Dewasa. Cantik. Dia cinta sama lo... dan lo bales." Marcha tersenyum kecil—pahit tapi tulus "Gue harus dewasa, Dev. Sama kayak dulu... waktu posisi kita kebalik."
Deven menatapnya lama "Kalau gue jujur," katanya lirih, "gue masih cinta sama lo. Dan gue lebih cinta sama lo daripada Shanna."
Marcha terdiam.
"Menurut lo gimana?"

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang