Shanna menatap ponselnya. Tergeletak begitu saja di atas meja. Diam. Tidak berdering. Tidak bergetar. Seolah benda mati yang sama sekali tidak peduli pada hatinya yang semakin hari semakin remuk. Sudah beberapa hari ini Shanna berusaha menghubungi Deven. Awalnya, Deven masih mengangkat teleponnya. Dengan suara lelah namun dingin, ia menjelaskan situasi di antara mereka—situasi yang, menurutnya, tidak mungkin kembali seperti sebelum hari itu. Sejak pantai itu.
Shanna sebenarnya tahu. Ia tahu betul posisi mereka sekarang. Mama Deven sudah sejak awal tidak menyukainya. Alasannya sederhana tapi menyakitkan: Shanna seorang penyanyi. Profesi yang sama dengan mantan pacar Deven—perempuan yang paling dibenci oleh mama Deven dan sekarang, semuanya menjadi jauh lebih buruk.
Bukan hanya profesinya yang ditolak, tapi juga kenyataan pahit yang baru Shanna ketahui: Anneth—saudara kandungnya—adalah mantan pacar yang paling tidak diinginkan keluarga Deven. Fakta itu seperti vonis mati. Sejak saat itu, Shanna tahu, tidak akan pernah ada ruang baginya di keluarga Deven.
Namun Shanna bukan Anneth.
"Aku beda, Dev," kata Shanna berulang kali, suaranya bergetar setiap kali mencoba bertahan "Aku dan Anneth saudara, iya tapi kami bukan orang yang sama."
Ia berharap Deven mengerti. Ia memohon, tanpa berteriak tapi Deven hanya menghela napas panjang.
"Bukan soal kamu beda atau tidak, Shan," jawab Deven pelan. "Keluargaku... mereka tidak mau jadi satu keluarga dengan keluarga Anneth. Dalam kondisi apa pun."
Kalimat itu menghantam Shanna lebih keras dari yang ia duga.
Deven kemudian menawarkan sesuatu yang terdengar masuk akal, tapi terasa kejam "Kalaupun kita nggak bertunangan, nggak jadi sepasang kekasih... kita masih bisa berteman."
Berteman.
"Kita nggak berakhir karena kita bermasalah," lanjut Deven. "Tapi karena keluarga. Dan aku nggak keberatan tetap berteman sama kamu."
Shanna terdiam. Ia paham logikanya. Ia mengerti posisi Deven. Tapi hatinya menolak mentah-mentah. Bagaimana mungkin ia mengubah seseorang yang ia cintai, yang pernah ia bayangkan masa depannya, menjadi sekadar teman?
Shanna tidak bisa.
Ia terus menghubungi Deven. Berkali-kali. Sampai akhirnya, Deven berhenti menjawab. Mengabaikannya sepenuhnya.
Di saat yang sama, media justru semakin menggila. Berita-berita palsu, rumor murahan—semuanya jauh dari kenyataan, tapi cukup untuk memperkeruh keadaan, yang paling menghancurkan Shanna adalah kabar dari Gogo.
"Deven pulang ke Lombok."
Jantung Shanna seakan berhenti sesaat. Ia sempat berpikir Deven pergi untuk selamanya. Tapi Gogo bilang, Deven hanya ingin berlibur. Menenangkan diri. Menunggu situasi mereda. Shanna menggenggam harapan kecil itu erat-erat. Mungkin... nanti. Mungkin saat Deven sudah lebih tenang.
Pulang ke Lombok bukan ide buruk, pikirnya. Dan Shanna sendiri memilih melakukan hal yang sama—menenangkan diri, mengurung diri di kamarnya. Ia jarang keluar rumah. Menangis diam-diam. Meratapi nasibnya. Dan, di sela-sela itu semua, masih mencari satu cara—apa pun—untuk kembali bersama Deven. Ia menghindari media. Menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang hubungannya dengan Deven. Karena satu hal: Shanna belum menyerah.
Kini, ia kembali menatap ponselnya.
Ia ingin menelepon seseorang. Hanya untuk bercerita. Untuk mengeluarkan semua yang menyesakkan dadanya. Tapi... siapa?
Clarice? Anastasia? Tidak. Mereka pasti akan bergosip. Dan Shanna tahu betul, mereka tidak pernah benar-benar menyukai Anneth, Marcha? Itu ide paling buruk. Bagaimana mungkin ia bercerita tentang Deven pada mantan pacarnya—perempuan yang sampai sekarang masih dicintai Deven?, Gogo dan Friden? Shanna yakin mereka berada di pihak Deven. Mereka hanya akan menyuruhnya menyerah.
Pilihannya tinggal satu.
Kevin.
Nama itu membuat dadanya menghangat sekaligus gelisah.
Kevin... Shanna tidak tahu apakah pria itu masih marah padanya. Atau apakah ia masih punya tempat untuk mendengarkan cerita Shanna yang berantakan tapi saat ini, hanya itu satu-satunya pilihan yang tersisa.
Shanna
Vin, lo ada waktu?
Pesan itu terkirim.Shanna menahan napas, menunggu.
Satu detik. Dua detik. Lima. Tak ada balasan.
Shanna menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa kosong—seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia benar-benar sendirian. Apa ini salah gue? Ego gue? Atau emang dunia lagi senang ngerjain gue?
Malu—iya tapi malu itu masih bisa ditelan yang paling menyakitkan adalah kehilangan Deven. Malu hanya perasaan sesaat. Deven... adalah hidupnya.
Shanna menatap layar ponselnya. Wajah Deven yang sedang tertawa lepas terpampang sebagai wallpaper. Senyum yang dulu selalu ia pikir akan ia lihat setiap pagi sepanjang hidupnya. Air matanya jatuh begitu saja, tanpa izin. Sedikit lagi. Sedikit lagi Deven jadi tunangannya. Sedikit lagi ia jadi istrinya.
Harusnya gue menang... tapi kenapa semuanya runtuh?
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Notifikasi. Jantung Shanna melonjak—ia berharap, memaksa dirinya berharap, bahwa itu dari Deven. Mungkin Deven pamit sebelum ke Lombok. Mungkin... tapi bukan.
Kevin :
Ada apa?
Shanna terenyuh hanya membaca dua kata itu. Setidaknya... masih ada satu orang yang peduli.
Shanna:
Gue butuh temen ngobrol.
Kevin :
Jam berapa lo mau ketemu?
Shanna:
Sekarang bisa?
Kevin:
Bisa. Lo mau ke mana?
Shanna :
Lo jemput gue dulu aja. Nanti dipikirin.
Balasan Kevin cepat.
Kevin:
Oke. Siap-siap.
Shanna langsung bangkit, berlari ke arah lemari. Tangannya gemetar saat memilih baju. Pintu kamarnya terbuka. Ibunya berdiri di ambang pintu.
"Kamu mau pergi? Sama Deven?" tanya mama pelan.
Shanna menoleh. "Aku pergi, Ma. Tapi bukan sama Deven. Sama Kevin."
"Kevin..." Mama mengangguk pelan. "Sudah lama mama nggak dengar kabarnya."
Shanna hanya tersenyum samar.
"Hm... sebentar, Shan," kata mama, melangkah masuk. "Bisa mama ngomong bentar?"
"Ma, kalau mau bahas Deven, kita udah ngomongin ini berkali-kali," potong Shanna cepat. "He's still my boyfriend."
Mama menarik napas. "Pacar? Shan, dia udah nggak pernah ke rumah sejak pertunangan kalian berakhir." Nada suaranya lembut, tapi tegas. "Kalau kamu sudah nggak bisa jalan lagi sama Deven, kamu harus mulai lihat laki-laki lain. Yang lebih baik."
"Deven itu lelaki terbaik," Shanna membentak, emosinya pecah.
Mama mendekat, menggenggam tangan Shanna.
"Mama tahu. Mama nggak pernah bilang Deven laki-laki buruk." Ia menatap mata Shanna. "Tapi kalian sudah nggak mungkin. Kamu lihat sendiri reaksi keluarganya. Dan kamu nggak bisa mengingkari Anneth—dia keluarga kita. Sepupumu."
"Itu cuma salah paham, Ma!" suara Shanna meninggi. "Aku bisa jelasin ke Deven. Pertunangan kita itu cuma tertunda, bukan batal."
"Shan..." Mama mencoba masuk.
"Udah, Ma," potong Shanna dingin. "Kevin sebentar lagi jemput."
Mama terdiam. Shanna tahu apa yang dipikirkan ibunya. Ibunya ingin ia menyerah tapi bagaimana caranya menyerah pada sesuatu yang ia tunggu sejak kecil, menjadi istri Deven bukan sekadar cinta—itu impiannya dan Shanna tidak pernah pandai melepaskan apa yang ia inginkan.
⸻
Di sebuah taman kecil di kompleks rumah Shanna, mereka duduk berhadapan. Lampu taman redup, udara dingin.
"Jadi Marcha ke Bali?" tanya Shanna tiba-tiba. "Lo tadi yang anterin?"
Kevin mengangguk kecil, menyesap kopinya.
"Lo yakin dia nggak ke Lombok nyusul Deven?" Nada Shanna curiga, nyaris tajam.
"Lo kenal Marcha," jawab Kevin singkat.
"Itu kesempatan dia ngerebut Deven dari tangan gue," desis Shanna.
Kevin menatapnya lama. "Kapan, Shan, lo mau ngaku kalau lo kalah?" Ia menghela napas. "Lo udah kalah sama Marcha, bahkan waktu lo masih tunangan sama Deven. Sekarang? Dengan kasus Anneth? Lo makin nggak punya posisi."
"Gue nggak kalah!" Shanna menepis keras "Deven komit nikah sama gue. Kalau bukan karena Anneth dan keluarganya dan soal Anneth itu cuma salah paham. Keluarga Deven bakal ngerti."
"Kalau itu cuma salah paham," Kevin menatapnya lurus "Deven sama Anneth dulu nggak akan putus dan mereka pasti bakal balikan."
Shanna mendongak tajam. "Gue ngajak lo ke sini bukan buat lo ngebunuh harapan gue, Vin. Tapi buat nolongin gue."
Kevin menghela napas frustrasi "Gue kira lo ngajak gue cuma buat ngobrol."
"Sekarang lo tahu maksud gue," Shanna mendesak. "Lo—"
"Kalau soal balikan sama Deven," potong Kevin sambil mengangkat kedua tangannya "gue angkat tangan."
"Vin—" Shanna mendorong bahunya kesal.
"Gue nggak mau bantu lo nurutin ego lo," kata Kevin tegas "Ada hal yang harus digenggam, dan ada yang harus dilepas. Dan Deven itu—harus lo lepas."
"Gue nggak mau!" Shanna nyaris berteriak. "Bertahun-tahun gue ngarepin dia. Jadi istri Deven itu impian terbesar gue. Cinta dan impian gue itu satu. Mana mungkin gue ngelepas dua-duanya?"
"Impian terbesar lo... jadi istri Deven?" Kevin terdiam, kaget.
Shanna mengangguk mantap. "Impian masa kecil gue."
Kevin tertawa pelan, getir "Shan, lo bukan anak kecil. Lo orang dewasa." Ia menatap Shanna dalam-dalam. "Bedain antara impian, cinta, dan obsesi. Kalau Deven denger ini, dia bakal makin menjauh. Cinta itu nggak bisa dipaksa. Semakin lo paksa, semakin dia lari."
Shanna terdiam. Ia tahu Kevin benar. Ia tahu ini pemaksaan, Ia tahu Deven akan menjauh tapi Shanna tidak peduli. Pendapat orang lain tidak pernah sepenting keinginannya sendiri.
Karena bagi Shanna, Deven bukan pilihan. Deven adalah tujuan dan tujuan...tidak pernah ia lepaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
