Deven mengintip dari balik jendela kecil di pintu kamar rawat inap.
Di dalam, Marcha duduk sendirian di kursi dekat jendela, pensil di tangan, buku sketsa terbuka di pangkuannya. Wajahnya serius, lidahnya sedikit menjulur—kebiasaan lama setiap kali dia fokus. Deven tersenyum. Masih sama. Masih bikin dia susah napas.
Tok. Tok.
Marcha menoleh. Begitu melihat siapa yang berdiri di balik pintu, keningnya langsung berkerut. Deven masuk tanpa rasa bersalah, senyum lebarnya nyaris kayak iklan pasta gigi.
"Malem, Cha," sapa Deven santai.
Marcha cuma melirik sekilas, lalu kembali ke sketsanya. Seolah Deven itu cuma hiasan ruangan. Deven mendekat. Wangi parfum Marcha langsung nyamber—lavender, ringan, familiar. Bau yang selalu bikin kepalanya kosong. Ia menyodorkan satu gelas plastik.
"Apa ini?" tanya Marcha tanpa menoleh.
"Kopi."
"Gue nggak suka kopi."
Deven melirik meja di sampingnya. Beberapa gelas plastik kosong berjejer rapi. Semuanya... gelas kopi.
"Hmmm," Deven mengangguk pelan. "Berarti itu tadi lo minum apa? Air got rasa espresso?"
Marcha mendengus. "Gue suka kopi. Tapi lo nggak bakal tau kopi yang gue suka."
Deven nyengir. "Gue tau."
Marcha berhenti menggambar, menoleh dengan tatapan meremehkan. "Sotoy."
"Coba aja dulu. Kalau salah, gue siap disuruh keluar sambil nunduk."
Marcha menatap gelas itu beberapa detik... lalu menyesap. Bukan cuma seteguk. Hampir setengah gelas.
Deven langsung sumringah. "Bener kan gue?"
Marcha berdeham. "Gue haus."
"Oh... ya udah. Minum aja. Haus kan penyakit serius," kata Deven sok bijak.
Ia lalu berjalan ke sisi tempat tidur papi Marcha, mengecek monitor, mencatat sesuatu di tablet-nya. Profesional, tenang—versi dokter yang jarang Marcha lihat belakangan ini. Setelah selesai, Deven menoleh.
"Gue boleh duduk sini?"
"Nggak ada yang ngelarang," jawab Marcha datar.
Deven duduk tepat di depannya, memperhatikan setiap gerakan pensil Marcha. Garis-garis itu tegas, rapi, penuh keyakinan. Memang... jauh lebih menarik dari monitor detak jantung.
"Lo ngapain di sini, Dev?" tanya Marcha tanpa menoleh. "Lo nggak kerja?"
"Kerjaan beres. Shift belum," jawab Deven. "Boleh kan gue nemenin lo?"
Marcha berhenti menggambar, mendongak. "Boleh sih. Tapi gue nggak bisa kerja kalau lo di sini."
"Kenapa?"
"Masih nanya?" Marcha melipat tangan. "Gue nggak bisa konsen."
Deven mengangkat tangan. "Gue nggak ganggu kok. Gue diem. Kayak tanaman."
"Tanaman rese."
"Yang penting hidup," balas Deven ringan.
Marcha menghela napas. "Gue nggak butuh ditemenin."
"Iya, tapi gue boleh kan ada di sini?" Deven mencondongkan badan sedikit. "Gratis. Tanpa biaya admin."
Marcha menatapnya lama. "Kenapa sih lo masih perhatian gitu ke gue, Dev? Kalau Shanna tau gimana?"
"Kenapa emangnya?" Deven mengangkat bahu. "Gue perhatian sama sahabat gue sendiri. Shanna nggak bakal keberatan."
Marcha menggeleng pelan. "Terserah elo lah."
Ia kembali menggambar.
"Lo gambar apa?" tanya Deven.
"Desain baju musim panas. Untuk Paris."
"Wah," Deven mengangguk kagum. "Banyak?"
"Lumayan."
"Hmmm... lo desain baju nikahan juga nggak?"
Marcha langsung menoleh, satu alisnya naik. "Kenapa? Lo mau nikah sama Shannon?"
"Belum tentu," jawab Deven santai. "Siapa tau gue nikah sama orang lain."
"Cari aja di katalog online gue. Web M.S.R."
"Baju cowok ada?"
"Liat sendiri."
"Oke." Deven mengangguk. "Oh ya... gue mau minta maaf."
Marcha melirik. "Kenapa?"
"Karena gue marah-marah di kantor lo." Deven menghela napas. "Gue salah paham. Ingvar cerita semuanya."
Marcha diam.
"Lo maafin gue kan?"
"Gue nggak pernah marah sama elo," kata Marcha pelan. "Lo nggak perlu minta maaf."
"Tapi gue nge-judge lo."
Marcha berhenti menggambar. "Gue nggak terlalu peduli penilaian orang. Gue jalanin bisnis pake logika dan hati. Kalau menurut gue bener, gue lakuin. Kalau nggak, ya nggak. Sesimpel itu."
Deven menatapnya lama, cewek ini memang berubah ia bukan cuma cantik tapi dia juga kokoh.
"Dev," kata Marcha tiba-tiba. "Berhenti natap gue kayak mau nelen."
Deven nyengir. "Kalau lo makanan, lo udah jadi menu favorit gue."
"Dev."
"Kenapa?"
"Jangan gini."
"Gini gimana?" Deven benar-benar bingung.
Tok. Tok.
Suster Tatik muncul di pintu. "Permisi, Bu. Saya perlu Dokter Deven."
"Silakan," kata Marcha.
"Dok, pasien kamar 1751—"
"Iya," potong Deven. "Gue ke sana."
Ia berdiri. "Gue kerja dulu ya, Cha. Ntar balik lagi."
"Nggak usah," kata Marcha cepat. "Ada lo di sini aja gue nggak konsen."
Deven cuma nyengir puas, lalu keluar bersama suster Tatik. Marcha menatap pintu yang tertutup, menggeleng pelan... sambil tanpa sadar tersenyum tipis.
Malam itu Deven benar-benar sibuk. Beberapa pasien mendadak masuk dalam kondisi gawat. Jumlah dokter jaga malam terbatas, jadi mau tak mau Deven ikut menangani pasien dari dokter lain. Tangannya hampir tak berhenti bergerak, pikirannya dipaksa fokus penuh, dua setengah jam kemudian, semuanya sedikit lebih terkendali.
Deven akhirnya bisa menarik napas panjang. Ia punya waktu istirahat sebentar sebelum kembali ke ICU untuk mengecek pasien lain. Biasanya, di jeda seperti ini, Deven akan turun ke minimarket—beli camilan, kopi, apa pun yang bisa mengganjal kantuk tapi malam ini pikirannya hanya ke satu fokus
Ke Marcha.
Ke perempuan yang mungkin masih terjaga, duduk di kursi rumah sakit, memaksakan mata tetap terbuka demi menjaga papi-nya. Langkah Deven justru berbelok kembali ke kamar rawat inap papi Marcha dan ternyata... kekhawatirannya meleset dari balik pintu, Deven melihat Marcha tertidur pulas. Lengannya terjulur di atas meja, kepalanya terkulai di atas lipatan tangan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sudah seharian menahan lelah.
Deven masuk pelan. Langkahnya nyaris tak bersuara saat mendekat.
"Cha..." panggilnya lirih.
Tak ada jawaban. Napas Marcha terdengar teratur. Deven berjongkok di depannya, menatap wajah itu dari jarak dekat. Alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya—semuanya terasa terlalu sempurna untuk sekadar kebetulan. Kenapa Tuhan mengirim bidadari seperti ini ke hidupnya... tapi tak memberi hak untuk memilikinya?
"Cha," panggil Deven sekali lagi.
Marcha hanya menghela napas pelan. Deven tersenyum tipis, tangannya terangkat, mengusap pipi Marcha dengan gerakan hati-hati.
"Bangun," bisiknya. "Nggak enak tidur kayak gini."
Tak ada reaksi. Deven menggeleng pelan. Perempuan ini pasti kelelahan dan dengan hati-hati, ia menopang kepala Marcha, menyandarkannya ke dadanya, lalu mengangkat tubuhnya perlahan. tanpa sadar—atau mungkin setengah sadar—Marcha justru memeluk Deven, mencari posisi paling nyaman, seolah itu sudah naluriah.
Deven berhenti sesaat. Dadanya menghangat. Godaan yang terlalu berat... bahkan untuk seorang dokter yang baru dapat jatah istirahat di waktu subuh. Ia akhirnya melangkah menuju tempat tidur di samping meja tadi.
Bruuk. Sebuah tas jatuh ke lantai. Isinya berserakan.
"Nanti," gumam Deven pelan. "Nanti gue beresin."
Aroma parfum Marcha semakin terasa. Lembut, menenangkan—terlalu tidak adil bagi seseorang yang sedang berusaha bersikap waras.
Deven membaringkan Marcha perlahan di atas tempat tidur, menyelimutinya, lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.
Wajah itu, wajah yang pernah mengisi hidupnya bertahun-tahun lalu. Marcha sudah kembali... tapi tidak untuk mengisi kekosongan yang sama.
Deven menghela napas panjang. Ini salah. Ia tak boleh berpikir sejauh ini, tak boleh dan dengan berat hati, Deven berdiri dan berjalan ke arah tas Marcha. Ia memungut barang-barang yang berserakan, memasukkannya kembali satu per satu.
Sampai tangannya berhenti pada sebuah botol kecil berwarna putih. Ia membaca labelnya, obat tidur? Alis Deven berkerut. Dosisnya tidak kecil.
Marcha... susah tidur?, dadanya terasa mengencang.
Saat mengambil barang lain, Deven menemukan sesuatu yang lebih membuatnya terdiam, buku catatan miliknya, masih ada. Deven membuka halaman-halamannya. Isinya tak berubah sejak dulu—hingga beberapa halaman belakang.
Tulisan tangan Marcha : Don't believe those who tell you they love you, Believe those who show you they do.
Deven menoleh ke arah tempat tidur. Marcha tidur membelakangi dirinya. tenggorokannya terasa kering. Ia menutup buku itu pelan, mengembalikannya ke dalam tas dan tas itu ia letakkan kembali di kursi.
Saat hendak pergi—Ponsel Marcha berdering. Deven refleks menoleh. Ia tak berniat mengangkatnya, tapi nama di layar itu membuat langkahnya tertahan.
Dylan B.L
Siapa Dylan? Marcha punya pacar? Deven belum pernah menanyakan hal itu dan... wajah di layar itu terlalu familiar. Ganteng. Rapi. Terlalu dikenal. Jangan-jangan...Dylan Bradley Lex?Temannya Shannon? Dada Deven terasa semakin berat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
