Ketemu lagi (Kevin)

120 6 12
                                        

Suara alarm jam weker memekakkan telinga, memecah kesunyian pagi. Empat detik kemudian, suara itu mati. Sebuah tangan meraba asal bunyi, menekan tombolnya, lalu mengangkat jam tersebut.
Kevin Kahuni mengusap wajahnya pelan, matanya masih setengah terpejam saat menatap layar jam. Pukul tujuh. Hari ini tidak ada sidang, tapi ia punya janji dengan klien pukul sembilan. Kevin mendecih pelan. Jam weker itu ia taruh kembali di meja kecil di samping ranjang, tepat di sebelah sekotak rokok.
Tangannya otomatis meraih kotak itu. Sebatang rokok ia keluarkan, disulut, lalu diisap dalam-dalam. Kevin bangkit dari tepi ranjang dan melangkah ke arah balkon kamar. Pintu kaca dibukanya, udara pagi Jakarta langsung menyusup masuk. Setahun sudah Kevin kembali ke Indonesia, dipanggil pulang oleh papanya. Bukan tanpa alasan—teman dekat papanya terseret kasus pencucian uang, dan Kevin ikut ditarik masuk untuk membantu mengurus berbagai urusan hukum.
Kevin menatap kota Jakarta dari ketinggian, asap rokoknya perlahan terlepas ke udara. Jakarta sudah banyak berubah dan Kevin juga. Kini ia tinggal sendirian di sebuah apartemen, tidak lagi bersama keluarganya. Bukan karena apa-apa. Ia hanya merasa, sebagai lelaki dewasa, ia harus bisa berdiri dan menghidupi dirinya sendiri.
Ironisnya, lelaki dewasa itu justru belum punya pacar. Sebelum pikirannya tenggelam lebih jauh ke hidupnya yang terasa semakin berantakan, ponselnya berdering. Kevin masuk kembali ke kamar, mengambil ponsel di atas ranjang.
Marcha.
"Hallo, Cha," jawabnya.
"Vin, lo udah beres urusin brand LeMarch?" suara Marcha langsung to the point.
"Udah. Lagi proses," jawab Kevin singkat.
"Oke. Thanks."
Kevin mengernyit. "Loh, gitu doang?"
"Hm? Ya emang ada hal lain?" tanya Marcha datar. "Kan gue udah bayar DP lima puluh persen ke lo."
"Gue paham soal duit, Cha. Lo gak pernah meleset," kata Kevin. "Gue cuma... ngerasa, dulu kita kan temen. Masih bisa ngobrol hal lain."
"Kayak apa?" tanya Marcha tajam.
"Deven," Kevin nyengir kecil.
"Dia kan sama Shanna. Gue tahu," jawab Marcha cepat. "Terus?"
"Gue kira lo masih peduli sama Deven, dan—"
"Vin, please," potong Marcha dingin. "Kalau lo mau ngobrolin gosip atau hal-hal kayak gitu, stop sampai sini. Gue gak tertarik. Waktu gue sempit banget buat ngurusin hal yang gak penting."
"Okay, sorry," Kevin menghela napas. "Gue pikir lo masih ngerasain hal yang sama kayak gue."
"I don't have time," kata Marcha tegas. "Udah ya, gue mau meeting."
"Iya. Good luck, Cha."
"You too."
Telepon terputus.
Kevin menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang. Marcha yang sekarang... bukan Marcha yang dulu ia kenal waktu SMA. Marcha yang sekarang dingin, galak, kejam, bahkan terkesan sombong.
Banyak orang di dunia fashion juga bilang begitu dan bukan tanpa alasan. Marcha sangat terkenal. Pendapatnya sering kali menjadi standar—apa yang ia anggap benar, akan diikuti banyak orang. Setidaknya, itu yang Kevin dengar dari teman-temannya yang pernah bekerja dengannya, baik sebagai partner bisnis maupun karyawan. Bekerja dengan Marcha bukan perkara mudah. Padahal, sejujurnya Kevin dan Marcha tidak terlalu dekat. Mereka jarang berkirim pesan atau menelepon. Sampai dua tahun lalu, saat Marcha menghubunginya karena masalah besar dengan brand M.S.R.
Kevin yang mengurus semuanya—hingga urusan hak cipta dan paten—karena brand itu sempat diperebutkan oleh karyawan Marcha sendiri dan betapa terkejutnya Kevin saat bertemu kembali dengannya.
Gadis periang yang dulu suka bercanda dan tertawa itu... kini seolah menghilang. Digantikan oleh Marcha yang sama sekali asing.

Tepat pukul sembilan pagi, Kevin sudah duduk di salah satu kafe di Grand Indonesia.
Di depannya, seorang pria paruh baya—developer perumahan—tampak sibuk membuka berkas. Mereka sedang membahas sengketa sebuah rumah di Bogor, sementara kopi di meja mulai mendingin.
"Itu cuma panti asuhan," kata Eddy, klien Kevin, dengan nada meremehkan. "Dan hak tanahnya atas nama kakek saya."
Kevin menahan mulutnya yang hampir menguap, lalu menegakkan badan. "Kita tidak bisa mengambil alih bangunan itu kalau Bapak tidak punya hak waris atas tanahnya."
"Papa saya pasti dapat warisannya," balas Eddy cepat. "Dan dari papa saya, ujung-ujungnya ya ke saya."
"Saya mengerti," kata Kevin sabar. "Tapi secara hukum, selama tanah dan bangunan itu belum atas nama Anda, Anda belum bisa menjualnya. Beda ceritanya kalau panti asuhan itu sudah terdaftar atas nama Anda."
Eddy menyipitkan mata. "Jadi saya gak bisa jual?"
Kevin tersenyum tipis, nyaris seperti nyengir tertahan, lalu menggeleng. "Sayangnya tidak, Pak. Harus atas nama Anda."
"Saya ini keturunannya!" suara Eddy meninggi.
"Ya, saya tahu," jawab Kevin tetap tenang. "Tapi selama nama pemilik panti asuhan dan hak kepemilikan bangunan itu belum resmi jadi milik Anda, saya juga tidak bisa berbuat banyak."
"Dasar pengacara gak becus!" geram Eddy sambil berdiri dan meninggalkan meja begitu saja.
Kevin hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit, senyum miring yang dingin, lalu menggeleng pelan. Ia menyesap kopinya, seolah semua itu sudah terlalu biasa baginya.
"Kevin... Kevin Kahuni?"
Kevin menoleh. Wajah di hadapannya terasa sangat familiar.
"Gogo?" Kevin terkejut.
"Hei, bro!" Gogo tersenyum lebar. "Apa kabar, Vin?"
"Baik," jawab Kevin. "Lo gimana? Gila, lama banget gak ketemu. Lo ngapain di sini?"
"Baru aja ketemu penyanyi indie," kata Gogo antusias. "Mereka mau gue bikinin lagu."
"Waw," Kevin terkekeh. "Musisi kita satu ini."
"Lo sendiri ngapain?" tanya Gogo.
"Ketemu klien," jawab Kevin singkat. "Biasalah... kasus. Tapi ya, gak jadi."
"Sekarang lo udah jadi pengacara, Vin?" Gogo tampak kagum. "Terus lo tinggal di Indo? Kapan pulang? Kenapa gak pernah hubungin gue sama yang lain?"
"Gue balik setahun lalu," kata Kevin. "Sibuk, Go. Kerjaan numpuk. Lagi pula gue udah gak punya nomor kalian."
"Ya udah, sekarang kan ketemu," kata Gogo cepat. "Kita tukeran nomor."
"No problem," Kevin menyerahkan ponselnya.
Setelah menyimpan nomor Kevin, Gogo menatapnya penuh semangat. "Hari ini lo ada acara, Vin?"
"Hmm... gak ada yang penting sih," jawab Kevin ragu. "Kenapa, Go?"
"Kita ketemu anak-anak yuk," kata Gogo. "Gue telepon Deven, Friden, sama Steven. Mumpung Friden lagi di Indo."
"Boleh..." Kevin menjawab, tak benar-benar tahu cara menolak ajakan Gogo dengan halus.
Kevin memperhatikan Gogo yang langsung sibuk menelepon satu per satu—termasuk Deven. Beberapa menit kemudian, Gogo menutup telepon terakhirnya dengan senyum lebar.
"Semua bisa, Vin."
"Deven juga?" tanya Kevin, agak bingung.
"Bisa," jawab Gogo ringan. "Ayo, kita jalan sekarang. Anak-anak udah pada meluncur."
Kevin masih sedikit linglung, tapi tetap mengikuti langkah Gogo keluar dari kafe. Entah kenapa, pertemuan yang tadinya biasa saja... mendadak terasa berat.

Akhirnya mereka tiba di sebuah kafe kecil yang, menurut Gogo, makanannya enak dan harganya ramah di kantong. Kevin sempat tertegun begitu melihat siapa saja yang sudah duduk di sana.
Shanna ikut bersama Deven dan tangan Deven menggenggam tangan Shanna, terlihat natural—terlalu natural.
"Hei, Vin," sapa Deven dengan senyum lebarnya, bangkit sedikit dari kursi dan mengulurkan tangan.
"Hai, Dokter Deven," balas Kevin sambil menjabat tangan Deven, menepuk pundaknya ringan. Deven tersenyum.
Pandangan Kevin lalu bergeser ke arah Shanna. "Hai, Shan."
"Hai, Vin," jawab Shanna, suaranya terdengar agak kaku.
"Apa kabar kalian berdua?" tanya Kevin.
"Baik," jawab Deven cepat. "Oh iya, gue sama Shanna—"
"Eits," potong Kevin sambil nyengir. "Gue tahu kok. Selamat ya, kalian berdua."
Nada suaranya terdengar santai, tapi ada sesuatu yang ia paksa telan jauh-jauh di dalam dada. Shanna tersenyum tipis, lalu memalingkan wajahnya.
"Oke," kata Deven sambil duduk di depan Kevin. "Jadi, agenda kita hari ini apa?"
"Gue jujur aja ya," Friden ikut nimbrung. "Gue juga gak ngerti maksud Gogo ngajak ketemuan. Gue baru nyampe Indo kemarin."
"Lo dari mana aja, Den?" tanya Deven.
"Kemarin baru balik dari Abu Dhabi," jawab Friden santai. "Besok lusa lanjut ke Turki."
"Den," Shanna langsung menyambar, "kalau sempet, beliin gue kacang almond ya dari Turki."
"Kalau sempet ya, Shan. Gue gak janji," kata Friden. "Tempat oleh-olehnya jauh dari hotel gue. Lagian gue cuma nginep sehari, besoknya langsung otw ke Inggris."
"Ya kan gue bilang kalau sempet," balas Shanna cepat. "Gue gak maksa."
"Inggris?" Kevin mengulang. "Berapa lama lo di sana, Den?"
"Tiga hari, bro," jawab Friden. "Kenapa? Mau titip sesuatu?"
Kevin tertawa kecil. "Enggak. Gue cuma mau nanya... lo gak ke Paris?"
Friden mengernyit. "Bro, Inggris sama Prancis beda negara."
"Iya, gue tahu," kata Kevin santai. "Siapa tahu rute lo nyempet ke Paris."
"Minggu depan gue baru ke Paris," kata Friden. "Emang lo mau titip apa?"
"Titip surat."
"Cieee," Friden langsung ngakak. "Surat. Apa tuh? Surat cinta? Email kan bisa, bro."
"Gue tahu," jawab Kevin. "Tapi ribet. Gue butuh tanda tangan"
"Hah?" Friden bengong. "Surat apaan pakai tanda tangan segala?"
"Surat hak paten sama hak cipta," jelas Kevin. "Email bisa sih, tapi gak sejelas hard copy. Lagian lo kenal orang yang mau gue kasih surat ini."
Friden menatap Kevin beberapa detik, lalu tertawa kecil sambil melirik ke arah Deven "Jangan bilang... Marcha."
"Iya," jawab Kevin datar. "Marcha."
"Sh*t," gumam Friden refleks, menutup mulutnya.
"Woe," Kevin mengernyit. "Kenapa emangnya kalau Marcha?"
"Kok bisa lo masih kontak sama Marcha?" tanya Deven heran. "HP dia kan udah gak aktif. Sosmednya juga sepi."
"Aktif kok," jawab Kevin. "Gue masih komunikasi sama dia lewat sosmed."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, seolah ragu, "Hmm... atau gak usah ya, Den. Kata dia sih mau balik Indo."
"Marcha mau balik Indo?" tanya Deven spontan, suaranya terdengar terlalu antusias. "Kapan?"
Kevin melirik Shanna. Wajah Shanna terlihat cemberut, jelas tidak suka. Kevin tahu betul apa yang sedang ia lakukan. Ia sengaja menyebut nama Marcha. Kevin tahu Deven masih penasaran—dan mungkin masih menyimpan sesuatu untuk Marcha dan Kevin ingin Shanna melihatnya sendiri.
Melihat bagaimana ekspresi Deven berubah... hanya karena satu nama.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang