Deven membuka matanya perlahan, dengan perasaan yang... luar biasa hangat, bukan karena tempat tidur empuk, bukan juga karena tidurnya cukup tapi karena wanita yang tadi malam dengan tegas berkata "kamu tidur di kamar tamu, aku di kamar," kini justru meringkuk manis dalam pelukannya—di kamar tamu itu sendiri.
Malam tadi mereka bercerita panjang, tentang dua bulan yang terasa terlalu lama, tentang rindu yang ditahan, salah paham yang akhirnya ditertawakan, dan hal-hal kecil yang entah kenapa selalu terasa besar kalau dijalani tanpa satu sama lain.
Marcha tertawa duluan. Marcha cerita duluan. Marcha... ketiduran duluan.
Deven sampai sekarang masih belum bisa memutuskan, sebenarnya siapa yang lebih butuh tidur di sini—dia, atau Marcha, pacarnya itu masih sama seperti dulu. Workaholic, iya. Bos besar, betul tapi tetap konyol, cerewet, dan nyeleneh seperti anak SMA yang dulu suka ngeledek dia tanpa alasan jelas dan Deven sangat, sangat menyayanginya bahkan saat Marcha sempat menolak, menyusun alasan demi alasan—alasan yang Deven yakin, cepat atau lambat, akan mereka cari solusinya bersama.
Tubuh Marcha bergerak. Alisnya mengernyit sebentar sebelum matanya terbuka perlahan.
"Bonjour, mon cher," sapa Deven pelan sambil mencium keningnya.
Marcha menatapnya setengah sadar, lalu tersenyum.
"Sejak kapan sih kamu sok Prancis gini, Dev?" tanyanya sambil mencubit pipi Deven gemas.
"Sejak kamu ke Paris," jawab Deven santai. "Aku belajar dikit-dikit."
Marcha langsung tegak sedikit. "Kamu belajar bahasa Prancis?" nada suaranya campuran kaget dan nggak percaya. "Jadi kamu bisa ngomong?"
"Di... kit," kata Deven nyengir tanpa dosa "Bonjour, je t'aime... et tu me manques."
Marcha tertawa geli. "Ih, yang dipelajari malah kata-kata gombal."
"Lah iya," Deven mengangkat bahu "Aku belajarnya buat kamu doang. Ngapain hafalin kata lain kalau bukan kamu yang denger?"
Marcha mendengus kecil lalu balik memeluk Deven, menyelipkan wajahnya di dada pria itu "Kamu jangan pergi dulu ya," gumamnya malas. "Aku masih ngantuk."
Deven tersenyum. "Aku nggak pergi. Tapi kamu nggak kerja?"
"Aku bos," jawab Marcha cepat. "Aku bisa kerja kapan pun aku mau."
Deven nyengir, kalah telak. Ia kembali mencium kening Marcha, lalu memeluknya lebih erat—seolah dunia bisa menunggu sedikit lebih lama, selama mereka masih ada di sini.
Hari itu, Marcha tidak bekerja bukan karena sakit, bukan juga karena lupa jadwal. Ia sengaja mengambil libur—dan menghabiskan waktunya berkeliling Paris bersama Deven dan tujuan pertama mereka: Musée du Louvre.
"Davinci Code," seru Deven sambil nyengir, menatap wajah Monalisa dengan penuh curiga, seolah lukisan itu akan berkedip dan membocorkan rahasianya.
Marcha tertawa, menggandeng tangan Deven. "Aku tahu kamu lagi mikir apa, tapi dari jarak segini kamu nggak bakal nemu kodenya, Dev."
"Ya kan siapa tahu..." Deven mengangkat bahu. "Dia ngasih clue khusus buat dokter ganteng dari Indonesia."
"Kamu tuh," Marcha menggeleng geli. "Nggak bosen aku ajak ke museum?"
"Kemana aja," jawab Deven tanpa ragu, tersenyum lebar "Asal sama kamu, aku nggak bakal bosen, Cha."
Marcha hanya tertawa, tangannya menggenggam tangan Deven lebih erat.
Setelah keluar dari museum paling terkenal di Paris itu, mereka melanjutkan perjalanan ke salah satu restoran favorit Marcha—Le Train Bleu.
"Biasanya orang kalau ke Paris pasti bilang harus makan di 58 Tour Eiffel atau Bateaux Parisiens," kata Marcha sambil melihat menu. "tapi tempat ini paling oke, Dev. Makanannya enak banget."
"Aku percaya," kata Deven santai. "Kamu aja yang pesen."
Marcha mengernyit. "Lah, kamu mau makan apa?"
"Aku nggak ngerti bahasa Prancis," jawab Deven jujur "Kamu aja yang mutusin. Pokoknya... ayam."
Marcha terkekeh "Pagi tadi sok-sokan je t'aime, tu me manques."
"Itu kan buat kamu," balas Deven nyengir "Bukan buat pelayan restoran."
Marcha tertawa lagi, lalu memesan makanan dengan bahasa Prancis yang fasih. Setelah pelayan pergi, Deven meraih tangan Marcha, jemarinya saling mengait.
"Jadi... hari ini kamu libur demi aku. Sampai kapan?" tanyanya pelan.
"Hari ini full buat kamu," jawab Marcha. "Besok aku kerja."
Deven cemberut tipis. "Aku terlalu berharap ya?"
Marcha tersenyum kecil. "Besok aku kerja setengah hari aja kok. Ada yang nggak bisa ditunda."
"Iya, iya... aku ngerti," kata Deven sambil nyengir, lalu mencium punggung tangan Marcha.
"Ngomong-ngomong," Marcha menatapnya, "kamu ke sini katanya ada masalah sama rumah sakit?"
"Duh, mulutnya Kevin," keluh Deven sambil menggeleng "Nggak kok, Cha. Aku masih kerja di sana cuma emang tahun ini nggak boleh ambil cuti."
"Terus kamu bisa ke Paris gimana?" tanya Marcha bingung.
"Aku kenal dokter Louis, yang punya rumah sakit," jawab Deven santai. "Dia ngebolehin."
"Segampang itu?" alis Marcha terangkat.
"Nggak gampang, Cha," kata Deven dengan senyum percaya diri. "Susah nyari dokter sepintar aku."
Marcha mendengus tertawa.
"Dia nggak punya pilihan lain selain ngasih aku cuti," lanjut Deven, matanya berbinar "Kamu seneng kan punya pacar sepinter ini?"
Marcha mengelus pipi Deven lembut. "Aku nggak cuma seneng," katanya pelan. "Aku bangga."
Deven terdiam.
"Kamu nepatin janji kamu," lanjut Marcha. "Jadi dokter terbaik di Indonesia."
"Belum yang terbaik," sanggah Deven.
"Loh, kamu kerja di rumah sakit paling bagus di Jakarta, dan kamu salah satu dokter paling pintar di sana," ujar Marcha. "Kalau itu bukan yang terbaik, terus apa?"
Deven tersenyum kecil. "Aku udah yang terbaik nggak di hati kamu, Cha? Itu yang paling penting."
"Mulai deh gombalnya," Marcha nyengir. "Tapi... soal hati, aku nggak butuh yang terbaik."
"Hah?" Deven menatapnya bingung.
"Aku butuh yang menyempurnakan," kata Marcha lembut. "dan sama kamu... semuanya jadi sempurna."
Deven tersenyum, lalu kembali mencium tangan Marcha. Mereka makan bersama, dan Deven harus mengakui—selera Marcha memang sama dengannya. Makanannya luar biasa enak setelah selesai, mereka masih duduk berhadapan.
"Kita ke mana sekarang, Cha?" tanya Deven.
Marcha berpikir sebentar. "Hmm..."
"Ke Eiffel?" tebak Deven.
"Ngapain ke Eiffel?" Marcha mengangkat alis "Kamu mau makan lagi?"
Deven bingung. "Itu kan ikon Paris. Biasanya pasangan ke sana buat foto-foto."
"Eiffel itu cuma menara, Dev," kata Marcha "dan kalau sekarang dinginnya kebangetan. Lagian masih sore—bagusnya malam."
"Terus ke mana?" tanya Deven. "Sungai Seine?"
Marcha tertawa. "Kamu lihat Paris dari cerita orang-orang," katanya. "Aku ajak kamu ke tempat yang lebih bagus."
Deven makin bingung. "Hmm..."
"Kamu pengin ke Eiffel?" tanya Marcha.
"Iya sih... tapi ikut kamu aja. Eiffel bisa nanti."
"Kamu kok selalu nurut sama aku?" Marcha menatapnya. "Kalau kamu mau ke Eiffel sekarang juga nggak apa-apa."
"Nggak apa," kata Deven nyengir. "Aku kan nggak ngerti Paris."
"Nanti aja sore atau besok," putus Marcha. "Seine juga lebih cantik malam. Kita bisa makan di perahu, makanannya enak."
"Iya," Deven mencium pipi Marcha. "Aku percaya sama kamu, sayang. Ayo pergi."
Marcha memeluk Deven erat. "I love you."
"Love you too," balas Deven dengan senyum paling lebar
"Le Mur des Je t'aime."
Deven sempat mengira Marcha sedang—lagi-lagi—mengucapkan I love you padanya ternyata itu nama sebuah tempat, tempat wisata yang katanya paling romantis di Paris namun saat mereka tiba, Deven justru mengernyit bingung, di depannya hanya ada sebuah tembok besar penuh coretan.
"Ini... romantisnya di mana, Cha?" tanyanya jujur.
Mungkin karena Marcha seorang seniman, tembok penuh tulisan ini baginya indah tapi semua kebingungan Deven perlahan menghilang saat ia mendekat dan membaca tulisan-tulisan di sana.
"Totalnya ada 311 cara mengatakan je t'aime," kata Marcha pelan. "dari berbagai bahasa di seluruh dunia."
Deven tersenyum kecil. "Kalau aku cinta kamu... ada juga di sini?"
Marcha menatapnya lembut "Nggak perlu dicari di tembok ini," katanya "di hati kamu kan sudah ada cinta yang nggak tertulis—tapi juga nggak pernah hilang."
Deven tersenyum lebar, menatap Marcha penuh rasa. "Iya," katanya mantap. "Cintanya nyat dan itu cuma buat kamu."
Marcha membalas senyum itu.
"Ayo foto, Dev."
Mereka berfoto berkali-kali di depan tembok cinta itu—sebuah tembok yang mengungkapkan perasaan dengan jujur, dalam 311 bahasa, namun entah kenapa terasa sangat personal untuk mereka berdua.
Setelahnya, mereka berjalan santai di taman indah tak jauh dari sana, malamnya ditutup dengan makan malam romantis di Sungai Seine dan sebelum pulang, Marcha mengajak Deven ke Montparnasse Tower.
Awalnya Deven mengira mereka akan kembali ke kantor Marcha—gedungnya memang dekat dari sana tapi ternyata Marcha ingin mengajaknya naik, melihat Paris dari ketinggian, dengan Menara Eiffel berdiri anggun di kejauhan.
Deven memeluk Marcha dari belakang.
"Aku yakin kamu sering ke sini," bisiknya.
Marcha menoleh sedikit. "Kok kamu tahu?"
"Security di bawah kenal sama kamu," kata Deven sambil nyengir.
"Kamu perhatian banget, sih," gumam Marcha.
"Logikanya gini," lanjut Deven santai.
"Pengunjung ke sini tiap hari banyak. Nggak mungkin dia inget semua orang... kecuali orang itu sering datang."
Marcha terkekeh "Pantes dokter Louis nggak mau kamu resign. Pintar begini."
Deven terdiam sebentar, lalu cemberut tipis. "Terus... kamu biasanya ke sini sama siapa?"
Marcha tertawa kecil "Oh, diperhatiin gara-gara cemburu?"
"Kamu tahu," jawab Deven jujur, ikut tertawa pelan.
Marcha menghela napas, lalu tersenyum. "Aku ke sini sendirian, Dev. Biasanya kalau lagi capek... atau lagi banyak pikiran." Ia berhenti sejenak. "dan kebanyakan... aku mikirin kamu."
Deven terkejut. "Mikirin aku?"
"Iya," kata Marcha lembut.
"Aku mikir, kapan kamu bisa ke sini sama aku. Nikmatin semua keindahan ini... ditemani yang paling indah dari ciptaan Tuhan."
Deven tak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Marcha lebih erat, dalam hatinya, satu hal terasa sangat jelas—ia tak akan pernah lagi melepaskan wanita yang dicintainya sepenuh hati dan Deven tidak mengucapkannya karena ia tak ingin sekadar berjanji—ia ingin membuktikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
