Marcha menarik napas dalam-dalam, lalu membuka mata. Sebentar. Ini... tempat tidur? Ia berkedip beberapa kali. Setahunya, semalam ia ketiduran sambil menggambar di kursi bukan di kasur empuk.
Marcha menggaruk kepalanya—yang sama sekali tidak gatal—lalu matanya menangkap sesuatu di meja. Kopi. Sandwich. Marcha bangkit dari tempat tidur dan mendekat. Di samping makanan itu, ada selembar notes kecil dengan tulisan tangan yang sudah sangat ia kenal.
Semoga kamu suka ya. Aku beliin sandwich favorit kamu, isi tuna.— Dokter paling ganteng se-Indonesia,Deven C.P a.k.a Klepon Manis
Marcha tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Oke. Jelas," gumamnya. "Pelakunya ketangkep basah."
Si Deven manis. Cowok itu memang selalu punya cara bikin hatinya... lumer dikit, retak dikit, terus nyatu lagi nggak jelas. Kalau gini terus, gimana ceritanya Marcha nggak tergoda buat balikan? Marcha refleks menepuk dadanya sendiri "Dosa, Cha. Dosaaaa," bisiknya dramatis. Ia melirik papi-nya yang masih terlelap, lalu membuka plastik sandwich dan mulai makan. Dan... sial. Ini enak.
"Ini dia beli di mana sih?" gumam Marcha sambil mengunyah. "Kenapa semua yang asalnya dari Deven tuh selalu enak. Selalu."
Selesai makan, Marcha menyesap kopi sambil menatap sketsa-sketsa di depannya. masih banyak, terlalu banyak. Koleksi summer ini harus boom. Strategi marketing sudah siap. Produksi harus segera jalan. Artinya...Marcha harus cepat balik ke Paris dan itu cuma bisa terjadi kalau papi-nya segera pulih.
Marcha baru mau kembali menggambar ketika terdengar ketukan pintu.
Tok. Tok.
Ia mengintip lewat jendela kecil di pintu. Deven. Tersenyum lebar, melambaikan tangan, kelihatan terlalu segar untuk seseorang yang semalaman jaga di rumah sakit.
"Iya sih," gumam Marcha. "Mana mungkin Mami sama Ingvar datang sepagi ini, Masuk," katanya sambil nyengir.
Deven masuk. Rapi. Bersih. Wangi. Padahal jam tidurnya pasti kacau. Cowok ini tuh manusia apa patung etalase?
"Thanks ya, sandwich sama kopinya, Dev," kata Marcha.
"Suka?" tanya Deven.
"Udah dikasih gratis, mana mungkin nggak suka?" jawab Marcha ngeles.
Deven tertawa. "Yang penting lo makan."
Ia lalu berjalan ke arah papi Marcha, mengecek monitor sambil mencatat sesuatu di tablet.
"Sebenernya lo nggak perlu beliin gue sarapan," kata Marcha. "Gue bisa beli sendiri."
"Iya, tapi lo nggak tau yang enak di mana," sahut Deven santai. "Lagian jarang-jarang gue traktir sarapan. Kapan lagi?"
Marcha mengusap rambutnya ke belakang. "Dev... lo tuh kebangetan baiknya."
Deven menoleh. "Kenapa?"
"Kita harus punya batas."
Alis Deven terangkat. "Kenapa? Lo punya cowok? Takut cowok lo cemburu?"
"Gue nggak punya cowok," jawab Marcha cepat. "Tapi lo punya cewek. Dan cewek lo itu temen gue. Gue nggak mau bikin Shannon salah paham gara-gara lo kelewat perhatian."
Deven diam sejenak. Lalu bertanya, "Dylan itu bukan cowok lo?"
Marcha mengerutkan kening. "Dylan siapa?"
Topiknya... lompat jauh.
"Dylan B.L," kata Deven. "Dia nelepon lo subuh-subuh waktu lo tidur."
"Ooh," Marcha langsung paham. "Dylan. Shannon kenal kok sama dia. Kemarin Shannon juga ke birthday party-nya. Lo kenal juga kan?"
"Dylan Bradley Lex," kata Deven. "Jadi... dia siapa lo?"
"Dia mau jadi partner bisnis gue," jawab Marcha. Lalu berhenti, menatap Deven. "Wait... kenapa gue harus jelasin ini ke lo? Lo jealous?"
Deven mendengus. "Jealous? Hello. Gue punya cewek, Cha dan lo tau itu."
"Terus kenapa lo ribet nanya soal Dylan?" Marcha menyeringai. "Out of nowhere."
"Karena nggak ada temen yang nelepon temennya subuh-subuh kalau nggak punya hubungan spesial," jawab Deven ketus.
Marcha menyandarkan badan. "Kalau misalnya gue emang punya hubungan spesial sama Dylan, kenapa lo harus bingung kalau lo nggak jealous?"
Deven melangkah mendekat. "Satu hal. Gue nggak cemburu. Simpan ge-er lo itu."
Marcha mengangkat kedua alis. "Okay. Fine."
Ia kembali menggambar. "Jangan ganggu gue kerja, ya. Kayak gue juga nggak ganggu lo."
"Jadi lo nggak mau jawab soal Dylan?" tanya Deven.
"Gue nggak perlu jelasin hubungan gue sama siapa pun ke lo," jawab Marcha tanpa menoleh. "Lo bukan siapa-siapa gue."
Marcha bisa merasakan tatapan Deven yang tidak puas dan jujur saja... ia memang tidak punya kewajiban menjelaskan siapa pun yang mendekatinya. Deven seharusnya pergi setelah selesai mengecek papi-nya tapi ia malah duduk di depan Marcha.
"Cha, cowok yang nelepon lo subuh-subuh itu pasti bukan cowok baik," kata Deven. "Lo jangan deket-deket sama cowok kayak gitu."
Marcha berhenti menggambar, menatap Deven lama. "Dev. Itu urusan gue. Mau dia nelepon pagi, siang, malem, atau subuh sekalian—bukan urusan lo."
"Sebagai temen, gue peduli."
"Kepedulian lo itu kebanyakan kalau lo cuma temen," jawab Marcha tenang. "Please... gue mau kerja. Jangan ganggu."
Deven menatapnya beberapa detik.
"Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa," katanya pelan. "Nggak semua cowok sebaik gue."
Marcha diam. Deven akhirnya berdiri dan keluar dari kamar, pintu tertutup pelan. Marcha menatap pintu itu, lalu menyeringai sambil menggelengkan kepala "Dasar Deven."
Ponsel Marcha kembali bergetar. Ia melirik layar. Dylan.
"Hallo, Dy. Kenapa?" tanya Marcha.
Telepon itu langsung bergeser ke topik bisnis. Angka, konsep, timeline—semuanya dibahas singkat, padat, dan tanpa drama. Setelah menutup panggilan, Marcha menghembuskan napas panjang.
"Oke. Otak aman. Hati... nanti dulu," gumamnya.
⸻
Pagi itu Marcha pulang ke rumah. Ia tidur sampai agak siang—tidur versi balas dendam karena semalam kurang jam. Setelah itu, tanpa banyak basa-basi, ia langsung menuju kantor papi-nya untuk bertemu Kevin. Begitu duduk, Marcha langsung menembak.
"Vin, gue butuh izin bangun universitas desain secepat mungkin. Gue nggak peduli habis uang berapa."
Kevin menghela napas. "Cha, izin itu prosesnya panjang. Nggak bisa secepat kalau lo bangun di luar negeri."
"Ya gue maunya secepat itu," jawab Marcha santai tapi tegas.
Kevin mengernyit. "Kalau universitasnya di sini, berarti lo tinggal di Indo dong?"
Marcha mendengus. "Ya enggak lah, terus kerjaan gue di Paris mau gue titip ke satpam?, Univ ini kan ada manajemennya sendiri, udah gue bentuk."
"Hmmm..." Kevin memegang dagunya, mikir.
"Oh iya," Marcha menyambung cepat. "Izin resto gue gimana?"
"Masih proses," jawab Kevin. "Sabar, Bu Bos."
"Gue mau buka banyak cabang se-Indonesia," kata Marcha. "Gue butuh investor. Ada sih beberapa, tapi tanpa izin mereka ntar bilang gue omong kosong."
Kevin terkekeh. "Cha, lo itu pebisnis terkenal. Masa masih ada yang nggak percaya sama elo?"
"Ini uang gede, Vin," jawab Marcha. "Investor Indo itu mikirnya detail jadi gue harus gerak cepet, gue butuh investor agak banyak."
Kevin mengangguk pelan. "Ngomong-ngomong soal investor... gue denger Deven tertarik buka bisnis kuliner di Indo."
Marcha menatap Kevin datar. "Gue lagi nggak bercanda."
"Gue juga nggak bercanda," jawab Kevin. "Deven emang tertarik. Kalau nggak percaya, tanya aja."
"Lo tau dari siapa?" tanya Marcha curiga.
"Shanna."
Marcha mengangguk pelan. "Oke. Kalau dari Shanna, bisa dipercaya." Lalu ia menyandar di kursi. "Tapi Deven jadi partner bisnis lagi... aduh, gue bisa berabe."
Kevin menatapnya. "Kenapa?, lo kan pernah bisnis sama dia, ada masalah?"
"Enggak," jawab Marcha jujur. "Integritas Deven aman, yang bermasalah tuh... hati gue."
Kevin menaikkan alis.
"Ketemu dia sehari aja," lanjut Marcha, "kepala gue udah kayak ruang sidang, pikiran sama perasaan debat terus, pikiran gue tau Deven itu terlarang tapi hati gue... Vin, jujur aja, mana ada cewek yang nggak luluh diperhatiin terus sama cowok kayak dia?"
Kevin tersenyum kecil. "Deven masih perhatian sama elo?"
"Masih. Itu dia masalahnya." Marcha menghela napas. "Gue pulang ke Indo niatnya bisnis sama ngurus papi. Gue nggak mau bikin masalah—sama Shanna atau siapa pun."
Ia terdiam sejenak, lalu menatap Kevin.
"Tapi kalau gini terus... gue takut, takut nggak kuat nolak semua perhatian Deven."
Kevin menyandarkan badan. "Wah... ini bukan urusan izin sama investor lagi sih, Cha."
Marcha nyengir pahit. "Iya. Ini izin hati. Dan itu paling ribet."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
