Mr Right (Marcha)

84 10 6
                                        

Marcha baru saja menginjakkan kaki di Bali. Ia diantar oleh sahabat dekatnya, Kellysa Emma, ke salah satu hotel paling mewah—dan paling bikin minder dompet—di Bali: Hotel Ayana.
Hotel tempat ia menginap. Kellysa punya koneksi langsung dengan orang yang punya hotel ini, jadi Marcha—tanpa drama—langsung dapat ocean view suite. Hidup kadang kejam, kadang juga baik banget. Marcha sedang berbicara dengan resepsionis, membahas kamar dan ruang meeting yang akan ia gunakan besok. Ia bicara serius, nada profesional—versi Marcha yang jarang muncul.
Sampai sebuah suara memanggilnya dengan lantang.
"Marcha!!!"
Marcha refleks menoleh dan detik berikutnya, ia menarik napas panjang. Panjang banget. Versi napas orang yang lagi menyiapkan mental.
Deven berserta seluruh keluarganya.
Di Bali. Bukannya mereka di Lombok ya? atau ini Bali edisi Lombok pindahan?
"Hei, lo ngapain di sini, Cha?" tanya Amel penuh semangat.
Marcha melirik Deven, terlalu tampan untuk orang yang seharusnya sedang dihindari. Kemeja hitam dengan lengan digulung, celana putih—kombinasi tidak manusiawi. Maskulin level "tolong ini publik, bukan runway".
"Hei, Kak Amel," sapa Marcha sambil nyengir kaku. "A-aku... bisnis, Kak. Bisnis."
"Oh, nginep di sini juga?" tanya mama Deven dengan mata berbinar.
"Iya, Tante. Halo Om," kata Marcha sopan. Lalu... ia menoleh ke Deven "Dev..."
Deven melangkah mendekat. Tanpa aba-aba, lengan mereka bersentuhan dan Marcha langsung: panas dingin. Pipi memerah. Jantungnya lari maraton.
"Lo ke sini nyusul gue, Cha?" goda Deven sambil tersenyum lebar.
"Gue ke sini kerja, bukan ngejar mantan," balas Marcha cepat—lalu sadar. "...eh, bukan mantan. Maksud gue—aduh."
Amel tertawa. "Cha, lo belum kenal suami sama anak gue, kan?"
Marcha mengalihkan pandangan ke arah Prince dan Romeo kecil yang lagi digendong—imutnya nyerang tanpa permisi. Marcha menggeleng dan sebelum ia sempat mundur, Deven sudah menggenggam tangannya. Marcha refleks ingin menarik... tapi tidak jadi. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Dan kali ini—tidak ada rasa bersalah. Deven bebas. Dan jujur saja... tangannya hangat.
"Belum, Kak," kata Marcha sambil nyengir.
"Ini suami gue, Prince Gabriel" kata Amel bangga "Dan ini anak gue, Romeo Antholyn Gabriel." Lalu ia menunjuk Marcha sambil senyum lebar, "Dan ini... calon adik ipar gue. Marcha Sharapova Rusli."
"Kak!" protes Marcha dengan wajah merah total.
Deven malah tertawa. "Gue amin-in aja. Siapa tahu kejadian."
Marcha mendorong bahu Deven. "Lo nyebelin!"
"Good spirit, bro," kata Prince sambil ngasih jempol.
Keluarga Deven tertawa. Marcha bisa merasakannya—kehangatan itu. Cara mama Deven menatapnya. Cara Amel langsung menganggapnya keluarga. Tidak dibuat-buat tapi tetap saja...
"Ehm... ya udah, gue check-in dulu," kata Marcha buru-buru "Ntar kita ngobrol lagi ya, Tante, Om, Kak Amel, Kak Prince... Dev."
"Lo ikut kita makan?" tanya Deven. "Kita mau ke Jimbaran."
"Gak usah, Dev. Ntar gue ngerepotin," jawab Marcha cepat.
"Repot apaan? Lo kan calon istri gue," kata Deven sambil menahan tawa.
"Dev!" desis Marcha.
"Deven bener," sela mama Deven lembut. "Ikut aja, Marcha."
"Iya, Tante..." Marcha bingung setengah mati.
"Ikut, Cha," bujuk Amel. "Kemarin ketemunya bentar doang. Gue kangen."
Deven menatapnya—tatapan yang bikin logika Marcha ngambil cuti.
"Ya udah..." Marcha menyerah. "Gue ngomong sama Kellysa dulu. Terus gue masukin koper ke kamar."
"Oh, koper gampang," kata Deven santai. Ia langsung manggil bellboy dan nyelipin uang "Antar semua koper ibu ini ke kamarnya."
Beberapa langkah kemudian—
"Wah," Amel berhenti. "Kamar lo sebelahan sama kamar Deven."
Marcha yang lagi sibuk chat Kellysa berhenti mengetik "Serius?"
Deven nyengir. "Kalau emang jodoh, mau dijauhin juga susah..." Ia tiba-tiba berhenti "Oh... itu maksud Kevin tadi."
Marcha menoleh cepat. "Hah? Kevin kenapa?"
"Gak. Gak apa-apa," jawab Deven santai.
Marcha menaikkan alis, menatap wajah Deven yang sok polos lalu ia ikut nyengir. Bali ini... kayaknya gak bakal tenang.

Jimbaran.
Meja kayu panjang menghadap pantai, lilin-lilin kecil berkelip tertiup angin laut, suara ombak bersahutan dengan alunan jazz pelan yang mengalir dari sudut restoran. Marcha duduk di samping Deven—entah bagaimana bisa terasa begitu natural. Amel dan Prince duduk di seberang mereka, Romeo di kursi kecil di samping Amel, sementara mama dan papa Deven duduk di sisi Deven, membuat posisi Marcha tepat di tengah keluarga itu dan anehnya... Marcha tidak merasa asing sama sekali.
Obrolan mengalir hangat. Mereka membicarakan rencana liburan berikutnya setelah Bali—entah ke Jepang, Eropa, atau sekadar Lombok lagi tapi versi lebih santai.
"Deven ini kebanyakan kerja," kata mama Deven sambil menggeleng. "Jarang pulang ke Lombok."
"Iya, Ma," sambung Amel cepat. "Dokter satu ini kalau kerja lupa waktu. Pulang cuma buat ganti koper."
Prince ikut menimpali, "Kayaknya Deven perlu dimarahin massal."
Deven mendengus. "Kalian kompak banget ya nyerangnya. Gini aja, Kak—cepetan nambah momongan. Biar papa sama mama sibuk ngurus cucu, lupa marahin gue."
Amel melotot. "Lo kurang ajar ya."
"Realistis," balas Deven santai.
Meja itu langsung pecah oleh tawa. Marcha ikut tertawa—tawa yang lepas, tulus. Baru kali ini ia merasakan keluarga yang begitu apa adanya. Tempat orang bisa bercanda tanpa topeng, tanpa jaim, bahkan dengan obrolan receh yang sama sekali tidak penting... tapi hangat. Saat makanan laut datang dan piring-piring mulai terisi, Deven tiba-tiba bersuara dengan ekspresi super serius.
"Gue mau nanya," katanya. "Kuda laut sama kuda nil itu beda, kan?"
Amel menatapnya. "Beda, Dek. Lo nanya apaan sih?"
"Gue cuma nanya. Salah?" Deven defensif.
"Ini restoran seafood," Amel menunjuk meja. "Bukan kebun binatang."
"Justru itu," Deven manggut-manggut. "Kenapa ya kuda nil atau kuda laut gak dijadiin makanan?"
Marcha langsung nimbrung dengan wajah penuh keyakinan "Kuda laut bisa dimakan."
Semua mata tertuju padanya.
"Serius?" Deven menoleh.
"Iya. Gue pernah lihat di TV," kata Marcha santai. "Cuma... keras."
"Dagingnya?" tanya Deven penasaran.
"Keras. Tapi tergantung cara masaknya," jawab Marcha sok ahli.
Deven manggut-manggut lagi. "Kalau kuda nil?"
Marcha berpikir sebentar. "Kayaknya nggak bisa deh." Ia mengerutkan kening. "Kasihan. Hippo lucu gitu dimakan."
Deven terkekeh. "Cha, itu lucu di kartun. Aslinya mah serem. Bisa ngejar lo sambil buka mulut segede gerbang tol."
Amel ikut ketawa. "Kalau hippo lucu, lo mau pelihara kuda nil, Cha?"
Marcha melirik kakak-adik itu. Kompak banget nyebelin "ditaro mana, Kak? Garasi?" Ia menggeleng. "Gue masih lebih milih anjing."
"Oh iya," Deven menyela. "Waktu itu gue ke rumah lo, kok si Bubbles gak keliatan?"
Marcha menatap Deven datar "Dev... ini tahun berapa? Bubbles udah meninggal."
"Oh." Deven nyengir. "Gue pikir masih sehat."
"Dia udah tua, Dev," kata Marcha. "Lagipula kabar Nancy, Zuma, sama Mery gimana?"
"Ya sama aja," jawab Deven santai. "Tapi siapa tahu—"
"Jangan," potong Marcha. "Gue gak punya waktu ngurus anjing. Kerjaan gue banyak."
"Yaudah," Deven menyengir. "Nanti aja kalau kita nikah. Kita beli anjing."
"DEV—!" Marcha kaget setengah mati.
Pipinya langsung merah, apalagi karena celetukan itu keluar di depan seluruh keluarga Deven tapi bukannya hening canggung—meja malah pecah oleh tawa.
"Iya bercanda," kata Deven santai. "Tapi kalau lo mau serius... gue juga gak keberatan."
Marcha benar-benar kehabisan kata. Ia memilih fokus makan, demi kewarasan.
Seafood khas Bali itu memang enak—dan jelas favorit Deven. Marcha memperhatikan bagaimana Deven melahap makanan dengan penuh dedikasi, sampai ia melihat sesuatu yang... mengganggu.
"Dev," panggil Marcha sambil menunjuk pipinya sendiri.
Deven menoleh, alisnya terangkat bingung dan sebelum Marcha sempat bicara—Cup. Deven mencium pipi Marcha. Waktu seakan berhenti.
Marcha mendorong Deven refleks. "APAN SIH?"
Semua keluarga Deven melongo.
"Lo yang minta dicium pipinya," kata Deven polos.
"ENGGAK!" bantah Marcha. "Gue mau bilang di pipi lo ada nasi!"
"Oh." Deven nyengir lebar. "Gue kira kode."
Marcha menutup wajah berusaha menahan tawa
"Lo mau lagi?" goda Deven.
"DEV!"
"Iya, iya," Deven tertawa. "Gue bercanda. Dansa yuk."
"Dan—dansa?" ulang Marcha kaget.
Lagu Fly Me to the Moon mengalun lembut. Ombak berkilau di bawah cahaya bulan tanpa menunggu jawaban, Deven menggenggam tangan Marcha, menuntunnya ke pasir. Tangannya berpindah ke pinggang Marcha, hangat dan pasti.
Marcha menatap mata Deven—cahaya bulan memantul di sana.
"The light from the stars and the moon," bisik Deven di telinganya "can't replace your light in my heart... tonight."
Marcha terdiam.
Dalam dekapan itu, dunia seolah mengecil—menyisakan mereka berdua, pasir, laut, dan satu perasaan yang perlahan menemukan bentuknya untuk pertama kalinya, Marcha bertanya pada dirinya sendiri—Mungkin... selama ini Mr. Right itu bukan orang yang ia cari. Mungkin... ia sudah berdiri tepat di hadapannya.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang