Beberapa hari setelah berbicara dengan Kevin, Shanna akhirnya mengikuti sarannya. Ia datang berkunjung ke rumah Anneth. Saat itu mereka berada di kamar Anneth, pintu kamar sengaja dikunci dari dalam, Anneth tidak ingin ada anggota keluarga yang tiba-tiba masuk ketika mereka membicarakan sesuatu yang cukup sensitif. Di dalam kamar yang sunyi itu, Shanna duduk di tepi tempat tidur sambil menatap sepupunya. Wajah Anneth terlihat pucat, seolah pikirannya sedang penuh, Anneth menatap Shanna dengan ragu.
"Lo yakin, Shan? Kevin beneran bilang gitu?" tanyanya pelan.
Shanna mengangkat alis "Ya iyalah. Masa gue bohong?"
Anneth menghela napas panjang lalu mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar "Gue harus hubungi manajemen... terus ngomong sama Betrand tapi..."
Shanna langsung menatapnya "Tapi apa?"
Anneth berhenti berjalan. Ia terlihat ragu sebelum akhirnya berkata "Ini soal nyokap gue, Shan... Gue juga sebenarnya gak mau kayak gini."
Shanna mengernyit.
"Dia pengin gue balikan sama Deven."
Mata Shanna langsung melebar.
"Balikan sama Deven?!" suaranya hampir melonjak. "Lo gak salah, Neth? Gue aja batal tunangan sama Deven gara-gara elo... sekarang lo mau balikan sama dia?"
Anneth mengusap wajahnya pelan "Gue juga tau gue sama Deven udah gak mungkin tapi nyokap..."
"Bukannya nyokap lo dulu gak suka Deven?" potong Shanna, bingung.
Anneth tertawa kecil tapi terdengar pahit "Dulu iya, waktu Deven udah gak bisa berkarya lagi dan suara nyanyinya mulai rusak." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan "Tapi sekarang ceritanya beda, nyokap gue denger kalau Deven sekarang jadi dokter... sukses lagi."
Shanna langsung mengerti arah pembicaraan itu.
"Dan dibandingin sama Betrand yang 'cuma' nyanyi?" katanya sinis.
Anneth mengangguk kecil "Buat nyokap gue, karir Deven sekarang jauh lebih 'aman'."
Shanna mendecak kesal "Kenapa dulu gak mikir gitu waktu misahin lo sama Deven?"
Anneth tersenyum tipis "Karena dulu nyokap gue yakin Deven gak mungkin jadi dokter." Ia menggeleng pelan. "Buat dia, kalau jadi penyanyi aja Deven nyerah... berarti dia gak bakal sanggup jadi dokter."
Shanna langsung membantah. "Dia bukan nyerah, dia milih jadi dokter.... itu beda."
"Dulu gue juga bilang begitu," kata Anneth. "Tapi waktu itu nyokap gue cuma mikir satu hal—karir gue."
Kamar kembali hening beberapa detik.
Shanna akhirnya bertanya "Terus sekarang gimana?"
Anneth menghela napas. "Gue tetap harus ketemu Betrand dulu. Bahas kontrak, kerjaan... semuanya." Ia menatap Shanna "Dan gue juga harus ngomong sama Kak Rifan soal ini."
Shanna mengangguk "Menurut gue itu ide bagus."
Namun setelah itu Anneth malah terdiam. Wajahnya tampak muram, seperti ada sesuatu yang masih mengganjal, Shanna langsung menyadarinya.
"Kenapa lagi, Neth?"
Anneth duduk di kursi dekat meja riasnya "Sebenernya... gue sempat seneng waktu nyokap gue bilang pengin gue balikan sama Deven."
Shanna menatapnya tanpa bicara.
"Meskipun gue tau itu mustahil," lanjut Anneth lirih, "tetap aja gue sempat berharap... siapa tau ada keajaiban." Ia menunduk "Tapi Deven... dia udah gak tertarik buat baikan."
Shanna menyeringai kecil. "Karena dia udah ada Marcha."
Anneth langsung menatapnya kaget "Lo... bener-bener nerima kalau Deven sekarang sama Marcha?"
Shanna tertawa kecil tapi terdengar pahit "Awalnya enggak." Ia bersandar ke dinding "Apalagi setelah dia nelepon gue dan maki-makin gue."
Anneth mengerutkan kening.
Shanna melanjutkan "Dia bilang kalau gue berani nyentuh Marcha lagi... gue gak bakal aman." Ia tertawa hambar. "Gue belum pernah lihat Deven semarah itu sama siapa pun cuma gara-gara pacarnya... yang, ya... gue tampar."
Anneth menggeleng "Ya salah lo juga, Shan. Pake fisik sih." Ia menambahkan, "Deven itu cowok, tapi dia bahkan gak pernah mukul Mackie dulu... padahal waktu itu gue selingkuh."
Shanna menunduk. "Gue tau gue salah." Ia menarik napas. "Kevin juga udah ngomong gitu ke gue." Shanna mengangkat kepala lagi "Sebenernya gue pengin baikan sama Deven, minimal jadi temen lagi tapi gue gak tau caranya."
Anneth tersenyum tipis. "Kalau lo bener-bener niat, pasti ada jalan."
Shanna mengangguk kecil. "Tapi kayaknya gue harus baikan dulu sama Marcha."
"Ya jelas," kata Anneth. "Lo harus beresin itu dulu sebelum berharap Deven maafin lo."
Shanna menghela napas panjang "Masalahnya... Marcha gak mau ketemu gue."
"Ya minta tolong temen-temen lo."
Shanna langsung nyengir kecut. "Mereka juga lagi marah sama gue, katanya gue ngerusak momen hangout mereka."
Anneth tertawa kecil. "Apes juga hidup lo."
Shanna ikut tertawa "Untung masih ada Kevin, dia satu-satunya yang masih mau temenan sama gue." Ia tersenyum kecil. "Gue yakin Kevin bisa bantu gue baikan sama Deven sama Marcha."
Anneth memandangnya dengan tatapan penuh arti "Kevin itu suka sama lo, kan?"
Shanna hanya tersenyum sambil menundukkan kepala
Anneth menaikkan alis. "Lo suka juga sama dia?"
Shanna terdiam sebentar sebelum menjawab pelan. "Gue gak tau." Ia menghela napas. "Tapi dia tulus banget sama gue bahkan waktu gue lagi kayak gini... dia masih percaya sama gue."
Anneth tersenyum tipis "Lo beruntung ketemu cowok kayak Kevin." Ia bersandar di kursinya "Coba lihat gue. Putus baik-baik aja gak bisa... malah dituntut."
Shanna menatapnya serius "Makanya lo harus ngomong sama Betrand."
Anneth tertawa kecil. "Yang gue hadapi bukan cuma Betrand." Ia menatap Shanna "Ada keluarga Onsu juga. Lo lihat sendiri kan Om Ruben? Dia gak bakal gampang ngelepasin gue."
Shanna mengangguk pelan "Gue tau tapi lo tetap harus coba ngomong dulu sama Betrand." Ia menambahkan, "Betrand itu orangnya baik."
Anneth tersenyum samar. "Baik aja kadang gak cukup kalau situasinya kayak gini."
Shanna hanya berkata pendek "Nyokap lo."
Anneth mengangguk lemah "Iya, lo tau sendiri."
Shanna lalu menepuk bahu sepupunya pelan "Gue percaya lo bisa nyelesain semua ini, Neth."
Anneth tersenyum kecil. "Gue cuma gak mau ada Deven yang kedua."
Ia tertawa tipis, tapi di matanya masih tersisa kegelisahan
Shanna baru saja pulang dari rumah Anneth ketika mobilnya berhenti di depan rumah namun begitu melihat ke luar jendela, ia langsung terdiam, di depan rumahnya sudah dipenuhi orang. Lampu kamera menyala di mana-mana. Mikrofon, kamera video, wartawan berdesakan di depan gerbang.
Shanna menegakkan tubuhnya di kursi mobil.
"Loh... ini apa?" gumamnya.
Ia menoleh ke arah manajernya yang duduk di depan.
"Kak Dicky... ada apa ini?" tanya Shanna bingung sambil menutup sebagian wajahnya dengan tangan.
Dicky menarik napas pelan "Sebenernya tadi gue mau ajak lo muter dulu sebelum pulang," katanya. "Tapi lo bilang capek."
Shanna menatapnya tidak sabar. "Ya, tapi ini kenapa?"
Dicky menoleh ke belakang, menatapnya serius. "Ada yang rekam video waktu lo nampar Marcha."
Shanna langsung menegang.
"Video itu sekarang udah nyebar di media sosial," lanjut Dicky. "Dan lagi rame banget."
Mata Shanna melebar.
"Hah?!" Ia hampir berteriak. "Kok baru sekarang kesebarnya? Itu kejadian udah tiga hari yang lalu!"
Dicky mengangkat bahu "Yang nyebarin bukan netizen biasa," katanya. "Akun gosip." Ia menambahkan dengan nada datar. "Lo tau kan kalau akun gosip yang mulai... efeknya bakal segede apa."
Shanna langsung terdiam beberapa detik. "Terus sekarang gimana?" tanyanya akhirnya, suaranya mulai panik.
"Lo masuk rumah dulu aja," kata Dicky. "Biar gue yang urusin wartawan di depan."
Shanna menghela napas panjang "Duh... keluarga gue pasti kaget."
Dicky meliriknya lewat kaca spion "Lo belum cerita ke mereka kalau lo nampar Marcha?"
Shanna langsung menggeleng cepat. "Ya enggaklah! Mami gue bisa shock." Ia mengusap wajahnya "Selama ini dia taunya gue sama Marcha sahabatan, dia bakal bingung kalau tau gue nampar dia."
"Marcha juga kenal keluarga lo kan?"
Shanna mengangguk pelan "Iya..."
Dicky lalu membuka pintu mobil.
"Udah lo tenang aja, soal media gue yang hadapin tapi lo masuk dulu ke rumah, Shan."
Shanna mengangguk "Iya, kak."
Begitu pintu mobil terbuka, suara kamera langsung menyerbu.
Klik! Klik! Klik!
"Shanna! Shanna!"
"Shanna, benar Anda menampar Marcha?!"
"Shanna, ada komentar?!"
Puluhan mikrofon langsung diarahkan padanya, Dicky berusaha membuka jalan sementara Shanna berjalan cepat menuju gerbang rumahnya, Shanna sudah hampir merasa aman ketika tiba-tiba satu suara keras terdengar dari kerumunan wartawan.
"Shanna!"
Ia refleks menoleh, seorang wartawan pria menatapnya sambil menyeringai.
"Jadi Anda menampar Marcha Sharapova Rusli karena Anda kalah cantik..." ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada mengejek, "...atau karena Anda tidak bisa memuaskan Deven Christiandi Putra sebagai lelaki?"
Langkah Shanna langsung berhenti, wajahnya berubah dingin, ia menatap wartawan itu tajam.
"Apa lo bilang?" suaranya rendah tapi penuh amarah.
"Shan... tenang," bisik Dicky cepat.
Namun wartawan itu justru tertawa kecil "Pertanyaan biasa aja kok—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Shanna sudah melangkah maju dan dalam satu gerakan cepat ia merebut kamera wartawan itu—BRAK!
Kamera itu dibanting keras ke lantai, suara benda pecah langsung terdengar.
"Kalau ngomong dijaga ya!" bentak Shanna. "Sialan banget lo!"
Semua wartawan langsung heboh.
Klik! Klik! Klik!
Puluhan kamera langsung mengarah ke Shanna, beberapa bahkan merekam video, Shanna semakin emosi.
"Apa kalian foto-foto?!" teriaknya "Urusan gue sama Marcha itu urusan pribadi gue!, bukan urusan kalian!"
Untungnya tepat saat itu gerbang rumahnya terbuka, Dicky langsung mendorong Shanna masuk.
"Masuk! Cepet!"
Gerbang ditutup kembali, memisahkan mereka dari kerumunan media yang masih ribut di luar.
Begitu masuk halaman rumah, Dicky langsung menatap Shanna dengan wajah frustrasi.
"Lo apaan tadi, Shan?!"
"Mereka yang mulai duluan!" balas Shanna kesal.
"Lo diem aja harusnya!" kata Dicky. "Mau mereka nanya apa juga biarin!" Ia mengusap wajahnya "Sekarang habis Marcha, lo juga banting kamera wartawan. Gue jamin video tadi bakal naik ke medsos dan trending."
Shanna mengepalkan tangannya "Mereka keterlaluan, kak."
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari dalam rumah.
"Ada apa ini?"
Shanna menoleh, Mamanya berdiri di ruang tengah dengan wajah bingung.
"Kenapa di luar banyak wartawan, Shan?"
Shanna menghela napas panjang, Ia melirik Dicky dan Dicky menatapnya balik.
"Lo harus jujur sama nyokap lo."
Shanna terdiam sejenak, lalu akhirnya menggiring ibunya duduk di sofa.
"Ma... Shanna mau cerita sesuatu." Ia mulai menjelaskan semuanya, tentang pertengkarannya dengan Marcha, tentang tamparan itu.
Semakin lama wajah mamanya semakin tidak percaya.
"Kamu ini gimana sih, Shan?" kata mamanya akhirnya. "Kok bisa kamu nampar Marcha?" Ia menggeleng. "Mama sama keluarga Marcha itu kenal baik loh kalau begini mama jadi gak enak sama mereka."
Shanna menunduk. "Iya, ma... Shanna juga lagi usaha buat minta maaf sama Marcha." Ia menelan ludah "Tapi Marcha masih marah sama Shanna."
"Ya wajar dia marah," kata mamanya tegas. "Tiba-tiba kamu tampar dia begitu." Ia menunjuk ke arah Shanna "Sekarang kamu telepon Marcha, ajak dia ketemu terus kamu minta maaf."
"Ma... tapi Marcha masih marah dan—"
"Mama gak mau tau," potong mamanya "Kamu harus ketemu dia dan minta maaf."
Shanna hanya bisa menghela napas. Ia tahu... masalah ini tidak akan berhenti begitu saja bahkan kalaupun Marcha memaafkannya karena beberapa jam kemudian, kabar buruk lain datang, perusahaan media tempat wartawan itu bekerja menuntut Shanna karena merusak kamera mereka dan saat itulah Shanna sadar—Ia harus mencari Kevin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
