Dalam Frustasi (Deven)

86 4 6
                                        

"Pon, woe... lo dokter Pon atau apa?!" Gogo menatap Deven dengan ekspresi prihatin, mencoba merampas botol bir di tangannya. "Udah, jangan minum lagi, bro!"
"Diem lo, Go," Deven menoleh, setengah melotot, setengah tersenyum, sambil menarik botol berikutnya dari genggaman Gogo.
Friden menghela napas, menatap Deven dengan serius. "Marcha bener, Pon. Lo harusnya mikirin masa depan sama Shannon, bukan berharap ke Marcha. Marcha gak mungkin nerima lo sekarang... lo kan udah bareng Shanna."
Deven meneguk bir, menghela napas panjang. "Gue sanggup ngelepasin Shanna kalau dia bilang dia cinta sama gue."
Friden mendesah. "Marcha gak bakal nerima cara kayak gitu. Lo tau sendiri gimana persahabatan Shanna dan Marcha waktu SMA. Gue yakin Marcha gak mau nyakitin Shanna cuma karena lo galau."
Deven menoleh tajam ke Friden. "Jadi menurut lo gue harus nikah sama Shanna meskipun gue gak cinta sama dia?"
"Shanna tau lo cinta sama Marcha, tapi dia masih mau sama lo," kata Friden. "Seharusnya lo menghargai perasaan dia."
Gogo menimpali sambil mengangkat alis konyolnya. "Iya, lo sendiri juga bilang, yang penting Shanna baik, kan?"
Deven menatap Gogo, alisnya berkerut. "Tanpa cinta... ada pernikahan yang bahagia, nggak sih?"
Gogo dan Friden saling bertukar pandang, lalu diam. Jawaban mereka jelas: nggak.
Deven menelan ludah, matanya menatap pantulan dirinya di botol hijau. "Gue mabuk waktu bilang bisa mulai hubungan baru sama Shanna... tapi ujung-ujungnya gue bikin diri gue sendiri dan Shanna sakit," katanya lirih sambil nyengir perih. "Lebih parah lagi... gue rasa gue nyakitin cewek yang paling gue cintai di muka bumi ini, walaupun cintanya gak pernah balik ke gue."
"Dev..."
"Gue cuman punya dua jalan yang susah," kata Deven, menatap kosong. "Move forward atau step back."
Gogo nyengir sinis. "Pilihan lo bukan move forward atau step back... cuma move forward, Pon."
Deven memejamkan mata, membayangkan masa depan dengan Shanna. Shanna akan jadi istri baik, penuh cinta tulus tapi Marcha... Marcha akan pergi lagi. hati Deven perih, tapi ada secercah kebahagiaan
"Gue gak butuh matahari... kalau bulan aja bisa nerangi kegelapan hidup gue," gumamnya.
Tanpa menunggu, Deven meneguk bir hijau itu sampai habis.
"Dev... udah, stop minum!" Gogo mencoba merampas botolnya, tapi Deven menahannya dengan tangan kekar.
Beberapa menit kemudian, Deven sudah benar-benar mabuk dan tersandar tak sadarkan diri. Tapi dia tahu, Gogo dan Friden menuntunnya pulang ke apartemennya dengan hati-hati.
Friden terkekeh sambil menggeleng. "Lain kali, lo jangan jadi cowok ganteng, Pon... jadi ganteng itu nyusahin banyak orang."
Gogo tertawa terbahak-bahak. "Bener aden,, Anneth, Marcha, Shannon... siapa lagi ya?"
"Ah, cha... Cha!!" Deven mendengkur lirih, hanya menyebut nama Marcha.
Gogo menatap Friden sambil terkekeh. "Nih anak bukan budak cinta, tapi mabuk cinta!"
"Lo jangan ngawur, Go... jangan sampe Shanna denger kata-kata lo," Friden menahan pintu kamar Deven.
"Ya gue tau... tapi Shanna juga tau kan satu-satunya cewek di hati Deven bukan dia," kata Gogo sambil mendorong pintu dengan kaki.
Akhirnya mereka sampai di kamar. Gogo dan Friden melemparkan tubuh Deven ke tempat tidur.
"Kalau dia ada masalah cinta lagi, gue gak bakal nemenin lagi," Friden mengeluh. "Cukup sekali keringetan nganter dia pulang kayak gini."
"Ya, dia udah lama gak kayak gini ya," Gogo menimpali.
Friden terkekeh geli. "Deven mabuk cuma satu abad sekali... ayooo pulang, Go."
Gogo menoleh. "Kita nggak telepon Shannon?"
"Buat apa?" tanya Friden.
"Ya bilang aja pacarnya mabuk," kata Gogo.
Deven mendengkur sambil menggerakkan kening. "Cha... Cha!!!"
Gogo menghela napas. "Ya udah... mending kita pulang aja."

Deven menghela napas panjang.
Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada palu kecil yang memukul dari dalam. Pelan-pelan ia membuka mata. Cahaya membuatnya meringis. Ia menelan ludah sambil memegangi pelipisnya. Mabuk memang gak pernah enak. Banyak orang berharap mabuk bisa membuat mereka lupa masalah. Kenyataannya, begitu bangun, masalah itu masih ada—lengkap dengan bonus sakit kepala yang menyiksa. Belum selesai ia memutuskan mau minum obat, teh, atau kopi, ponselnya bergetar.
Deven meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala.
Rumah Sakit.
"Halo," sapa Deven pelan, suaranya serak.
Ia langsung meminta izin tidak masuk hari ini. Kepala sakit, wajah pasti berantakan. Mana mungkin ia bertemu pasien dalam kondisi seperti ini?
"Gue sakit. Gak enak badan. Perlu istirahat," katanya singkat.
Ia menutup telepon dan menatap langit-langit. Ia memang butuh waktu. Jauh dari rumah sakit. Jauh dari Shanna. Jauh dari Marcha. Dua nama itu berputar-putar di kepalanya seperti lorong labirin tanpa ujung. Salah langkah sedikit saja, ia bisa tersesat lebih jauh.
Deven meletakkan ponsel, bangkit dengan gerakan tergesa, lalu berjalan ke lemari. Ia mengambil baju dan masuk kamar mandi. Air dingin tak sepenuhnya membantu. Saat keluar, ponselnya kembali berdering. Deven melirik sekilas—tak peduli siapa.
Ia keluar kamar, membiarkan ponsel terus bergetar tanpa dijawab. Langkahnya cepat, gelisah. Ia menuju dapur, membuka kulkas, lalu memutuskan memasak.
Soto ayam. Rasanya lumayan. Tentu saja masih kalah jauh dari masakan mamanya—tapi ia hidup sendirian. Ia tak punya banyak pilihan untuk mengeluh. Setelah makan, Deven kembali ke kamar. Ia ingin tidur lagi. Kepalanya masih berat. Namun ponsel kembali berdering. Kali ini ia melirik layarnya lebih lama.
Ingvar.
Deven menghela napas kasar, lalu mengangkatnya.
"Halo, Var."
"Halo, Kak Dev," suara Ingvar terdengar cemas. "Kak Dev hari ini gak ke rumah sakit ya? Tadi gue nanya ke informasi, katanya Kak Dev sakit. Kak Dev gak apa-apa?"
Deven langsung duduk. Nada suaranya berubah cepat. "Ini yang nanya lo... atau Marcha?"
"Eh...," Ingvar ragu.
"Gue tau," potong Deven cepat. "Kakak lo yang nanya. Bilangin dia, kalau peduli jangan sok gengsi dan satu lagi—dia gak boleh pake elo buat nelpon gue. Sejak kapan dia jadi pengecut?"
"Gue bukan pengecut!" Suara Marcha tiba-tiba terdengar, tajam dan marah "Gue gak mau bikin masalah tambah besar!" lanjutnya cepat. "Gue suruh Ingvar nelpon karena hari ini bokap gue kemoterapi, dan lo dokter bokap gue tapi gak dateng! Jadi kalau lo sakit gak parah, harusnya lo tetep dateng!"
Deven bangkit berdiri. Emosinya meledak.
"Jadi lo gak peduli sama gue?" tanyanya cepat, nadanya meninggi.
"Ada orang yang udah peduli sama elo, kan," jawab Marcha dingin. "Jadi—"
"Jadi harusnya lo gak nelpon gue sekarang," potong Deven kasar. "Kalau lo cuma mau tau gue sakit apa, tapi sebenernya sama sekali gak peduli sama keadaan gue."
Klik.
Deven menutup telepon tanpa menunggu jawaban. Ia menggeleng kuat sambil menekan kepalanya dengan kedua tangan. Pusingnya semakin menjadi. Ia merebahkan diri di kasur, memejamkan mata—dan wajah Marcha justru muncul semakin jelas. Deven menarik napas dalam-dalam. Ia harus berhenti, Ia harus memilih, Ia harus melangkah maju. Menikah dengan Shanna... apakah itu jawabannya?
Bel apartemen berbunyi. Deven langsung membuka mata. Jantungnya berdebar. Marcha? Harapan kecil, bodoh, tapi nyata, Ia bangkit cepat dan berjalan ke pintu. Melihat lewat interkom—Shanna.
Sedikit kecewa. Sedikit... tapi nyata.
Shanna datang langsung. Bukan sekadar menelepon. Deven membuka pintu.
"Aku dari tadi nelepon gak kamu angkat," kata Shanna cemas. "Aku ke rumah sakit, katanya kamu izin sakit. Kamu kenapa?"
Shanna menyentuh dahi Deven.
Deven menangkap tangannya. "Aku kemarin mabuk," katanya sambil nyengir tipis. "Minum kebanyakan. Bukan sakit aneh-aneh."
"Kamu minum?" Shanna terkejut. "Kenapa?"
"Kumpul sama Gogo dan Iden," jawab Deven cepat. "Jarang ngumpul, jadi kebablasan."
"Kumpul gak apa-apa," kata Shanna lembut, "tapi gak perlu minum sebanyak itu."
Deven tersenyum lelah. "Iya... aku tau. Maaf ya, sayang."
Ia memeluk Shanna. Shanna membalas pelukannya tanpa ragu.
"Non," bisik Deven, tergesa, seolah takut pikirannya berubah. "Kamu beneran mau nikah sama aku?"
Shanna melepaskan pelukan, menatap mata Deven dengan tenang.
"Kalau kamu siap," katanya lembut, "aku mau."
Deven menatapnya lama. Meyakinkan dirinya sendiri—perasaannya, pilihannya. Ia menarik napas dalam.
"Ya udah," katanya cepat, hampir tanpa jeda berpikir "Kita nikah aja."

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang