"Jadi," Anneth membuka suara sambil terkekeh kecil, "lo suka sama Shannon?"
Mata Kevin langsung melebar. Ia menoleh cepat.
"Lo tau dari Shannon?" tanyanya refleks.
Anneth mendengus. "Menurut lo Shannon bakal ngomong, 'Neth, Kevin suka sama gue' gitu?"
Kevin mengangkat bahu. "I don't know... maybe."
"Ya jelas enggak," kata Anneth tenang. "Gue lihat dari cara lo ngeliatin dia. Cara lo ke dia."
Kevin mengernyit. "Sikap gue ke Shannon biasa aja."
"Biasa," ulang Anneth. "Kecuali fakta kalau dari tadi mata lo nggak pernah lepas dari dia." Anneth menatapnya lurus. "Lo pikir gue nggak merhatiin?"
Kevin menarik napas panjang. Anneth benar. Sejak sampai di pesta, meski mereka sempat berpencar, pandangannya selalu kembali ke satu titik yang sama: Shanna.
"Terus lo maunya apa?" tanya Kevin akhirnya.
"Nothing," jawab Anneth ringan. "Cuma satu—jangan ganggu hubungan Shannon sama Deven."
Kevin menoleh, sorot matanya berubah serius.
"Gue nggak akan ganggu," katanya pelan. "Gue mau Shannon bahagia. Kalau bukan gue yang bisa bikin dia bahagia, gue rela. Apalagi sama Deven. Dia temen gue." Lalu Kevin menatap Anneth. "Justru lo yang jangan ganggu."
"Gue sama Deven temenan," bantah Anneth cepat.
Kevin nyengir tipis. "Boleh aja lo bilang gitu. Tapi hati orang, siapa yang tau?"
Anneth tertawa kecil dan memukul pelan lengan Kevin. "Gue bercanda."
"Gue enggak," balas Kevin santai tapi tegas. "Kalau lo memang punya maksud, gue peringatkan dari sekarang—lo bukan lawannya Shannon."
Anneth terdiam sesaat, lalu tersenyum miring "Wow. Gue bukan lawan Shannon. Itu gue akuin. Lagian gue sama Deven udah nggak mungkin." Nada suaranya turun. "Tapi lawan Shannon itu bukan gue, Vin. Itu klien dan temen lo sendiri... Marcha."
"Marcha tau batas," jawab Kevin tanpa ragu. "Lo nggak perlu takut dia ngelawan Shannon."
Ia menatap Anneth. "Dan kalau lo sendiri ngerasa nggak pantes, mending mundur dari awal."
Anneth tertawa pelan. "Lo juga sebaiknya mundur. Deven jelas lebih baik."
Kevin tersenyum, entah menertawakan Anneth atau dirinya sendiri "Gue tau diri. Makasih peringatannya." Ia melirik ke arah keramaian pesta. "Kalau lo nggak keberatan, gue permisi dulu."
"Mau ke mana?" Anneth menyipitkan mata. "Kabur?"
Kevin terkekeh. "Gue pengacara. Banyak acara, tapi kabur bukan salah satunya." Ia melangkah pergi. "Gue mau ngerokok. Mulut gue pahit habis ngobrol sama elo."
Kevin berlalu, meninggalkan Anneth yang berdiri diam, menatap punggungnya sambil menghela napas pelan. Apa sih maksud tuh cewek? Jangan-jangan Anneth beneran nganggep serius omongan bercandanya Kevin di mobil. Kevin mondar-mandir di halaman rumah Dylan yang luas. Lampu pesta gemerlap, musik terdengar samar dari kejauhan. Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap perlahan sambil menghembuskan napas panjang.
Ia memilih bangku di sudut taman, jauh dari keramaian. Satu hal yang jelas: dia nggak mau Shanna tau kalau sekarang dia ngerokok. Baru duduk sebentar, ponselnya bergetar.
Papa.
"Hallo, Pa," sapa Kevin.
"Kamu di mana, Vin?" suara papanya terdengar hangat.
"Di pesta ulang tahun temen," jawab Kevin. "Kenapa, Pa?"
"Mama sama Michelle kangen. Kamu kapan pulang rumah?"
"Nanti, Pa. Kalau ada waktu. Lagi agak sibuk beberapa hari ini," kata Kevin sambil mengisap rokoknya.
"Kalau nunggu ada waktu, sampai kapan pun nggak bakal ada, Vin. Kamu yang harus nyempetin."
"Iya, Pa... tapi—"
"Sejak kapan kamu ngerokok?"
Kevin refleks menoleh. Shanna berdiri di depannya, melipat tangan, tatapannya tajam.
"Ssshhh!" Kevin menutup ujung ponsel.
"Siapa yang ngerokok, Vin?" suara papanya terdengar lagi.
"Bukan siapa-siapa, Pa. Nanti Kevin telepon lagi ya, ada temen mau ngobrol."
"Ya udah. Jangan ngerokok, jangan minum alkohol. Nggak baik buat kesehatan."
"Iya, Pa," jawab Kevin cepat—tepat saat Shanna hendak merampas rokoknya "Udah dulu ya, Pa."
Telepon ditutup. Kevin mendongak, menatap Shanna melotot "Lo mau apa, sih?"
"Rokok lo," kata Shanna datar. "Sini."
"Kenapa?"
"Mau gue buang."
"Enak aja," Kevin mendengus. "Ini rokok gue. Lo kalau mau buang, isep sendiri."
"Vin," Shanna menatapnya serius, "lo tau isi rokok itu apa, kan? Nikotin, zat kimia—"
"Lo siapa gue sih?" potong Kevin kesal. "Nyokap bukan, pacar juga bukan."
"Gue temen lo," balas Shanna. "Dan gue nggak bisa liat temen gue ngerokok. Rokok itu racun."
"Terus kenapa?" Kevin nyengir sinis. "Kalau mati juga gue sendiri, bukan lo."
Tanpa aba-aba, Shanna menarik rokok dari mulut Kevin, membuangnya ke tanah, lalu menginjaknya sampai hancur.
"Isep tuh," katanya.
Kevin berdiri. Matanya melotot "Lo udah kelewatan."
"Lo mau apa?" Shanna menantang.
"Lo—"
Kalimat Kevin terpotong saat ponselnya berdering lagi.
Marcha.
"Urusan kita belum selesai," kata Kevin dingin ke Shanna, lalu menjauh.
"Hallo, Cha," sapa Kevin, mencoba tenang—meski nadanya masih keras.
"Ngapain lo ngebentak gue?" suara Marcha langsung nyerang.
"Gue lagi kesel sama Shannon, bukan sama lo."
"Oh," kata Marcha. "Lo lagi sama Shannon? Ngapain?"
"Di pestanya Dylan. Lo juga diundang, kan."
"Gue punya urusan yang lebih penting daripada pesta ulang tahun," jawab Marcha santai.
"Bermalam di rumah sakit sama Deven?" Kevin terkekeh.
"Mulut dijaga, Vin," suara Marcha meninggi. "Ada Shannon di sana. Gue nggak mau ribut cuma gara-gara Deven."
Kevin melirik ke kejauhan. Shanna masih menatapnya tajam.
"Jauh dia, tenang," kata Kevin. "Jadi... gimana lo sama Deven?"
"VIN!" Marcha hampir teriak.
"Gue nelpon lo buat kerjaan, dan ini penting."
Kevin tertawa kecil. "Iya, Cha. Tau. Tapi jangan tegang banget juga. Gue kan bercanda."
"Deven bukan bahan bercandaan. Gue nggak mau bercanda pakai nama orang."
"Ya tapi Deven bukan orang lain—"
"Vin, gue nggak punya mood dan waktu buat bercanda," potong Marcha "Lo ke rumah sakit sekarang. Gue mau bahas kerjaan."
"Hah? Ngapain gue ke rumah sakit?"
"Gue lagi gantian jaga bokap. Ingvar sama mami," jelas Marcha.
"Cha, kerjaan ini nggak keburu, kan?" Kevin mencoba nego "Besok aja. Gue nggak enak ninggalin Dylan, terus nanti gue anterin Anneth sama Shannon pulang."
"Anneth?" ulang Marcha. "Ngapain lo anterin Anneth? Hayooo... lo kepincut ya."
"Sekarang lo yang omongannya nggak dijaga," Kevin terkekeh "Gue niatnya ngajak Shannon, eh Anneth juga diundang. Ya udah."
"Kalau lo suka Anneth juga nggak masalah, kan?"
"Sayangnya Anneth bukan tipe gue."
"Tipe lo Shannon," kata Marcha. "Anneth sama Shannon mirip kok."
"Mirip dari mana?" Kevin protes. "Beda. Shannon lebih lembut."
"Oh suka yang lembut-lembut," Marcha tertawa "Kapas juga lembut, Vin."
"Lo random," Kevin mendengus. "Gue random lo marah. Lo random gue nggak boleh?"
"Cewek selalu benar," jawab Marcha ringan. "Jangan lawan gue."
"Yaudah, whatever," Kevin menyerah.
"Besok, ya?"
"Ya," kata Marcha. "Gimana lagi, lo kan supir gue."
"Berani bayar berapa lo mau gue jadi supir?" Kevin menantang.
"Berapa pun," jawab Marcha santai.
Kevin tertawa. "Oke, gue kalah. Lupa, lo miliarder."
Marcha ikut tertawa. "Besok jam satu, di kantor bokap gue."
"Siang amat."
"Gue mau tidur," jawab Marcha. "Lo pikir gue robot?"
"Biasanya lo emang gitu," Kevin nyeletuk.
"Kerjaan penting," balas Marcha.
"Oke, udah," Kevin menghela napas. "Gue nggak kuat ngobrol sama lo."
"Jam satu. Jangan telat."
"Siap, Bu Boss."
Telepon ditutup. Kevin mendongak. Shanna sudah berdiri di depannya lagi.
"Lo nelpon siapa lama banget?" tanya Shanna.
Kevin menatapnya santai "Mau tau aja... atau mau tau banget?"
"Gue lagi nggak pengen bercanda sama lo."
Kevin mengernyit. Kenapa sih dari tadi Shanna bawannya ngajak ribut terus? Cemburu? Atau gue yang ke-PD-an?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
