"Cha."
"Marcha."
Marcha akhirnya menoleh ketika punggung tangannya disentuh.
Papi berdiri di samping kursinya sambil memperhatikan putrinya yang sejak tadi hanya duduk diam di depan meja makan.
"Ya, Pi?" tanya Marcha.
"Makan. Dari tadi makanan kamu nggak disentuh."
Marcha menunduk. Piring di depannya masih hampir utuh.
"Aku nggak terlalu lapar."
Mami yang duduk di seberangnya ikut memperhatikan wajah Marcha.
"Dari tadi kamu bengong. Kenapa?"
Marcha menarik napas pelan.
"Surat dari Deven belum datang."
"Belum?" Mami bertanya lembut.
"Biasanya pagi sudah sampai." Marcha melihat ke arah jam dinding. "Hari ini belum ada. Keluarganya juga belum terima."
"Mungkin terlambat," kata Papi. "Jangan langsung berpikir macam-macam."
Marcha mengangguk, meskipun wajahnya masih terlihat gelisah.
"Mungkin."
Ingvar yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.
"Tenang aja, Kak. Kak Deven baik-baik aja. Dia kan udah janji."
Marcha tersenyum kecil.
"Iya."
Ia mencoba mengambil makanan dan memasukkan beberapa suap ke mulutnya.
Tetapi rasanya seperti tidak ada.
⸻
Tiga hari berlalu.
Surat Deven tetap tidak datang.
Marcha mulai sering keluar rumah hanya untuk melihat kotak surat atau memastikan apakah petugas pos sudah datang.
Ia bahkan beberapa kali membuka pintu hanya karena mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Tidak ada apa-apa.
Pekerjaannya mulai berantakan.
Akhirnya ia menelepon Amel.
"Halo, Kak."
"Halo, Cha. Kenapa?"
"Kak Amel udah dapat surat dari Deven?"
Amel terdiam sebentar.
"Belum. Lo kan tadi pagi juga nanya."
Marcha mengembuskan napas.
"Iya. Gue tahu. Cuma..."
"Cha, mungkin memang terlambat. Kondisi di Pakistan juga lagi nggak bagus."
"Gue tahu."
"Deven juga pernah bilang kalau suratnya bisa telat."
"Iya."
"Jadi jangan panik dulu."
Marcha diam.
Kemudian suaranya terdengar lebih kecil.
"Gue cuma khawatir, Kak."
"Adik gue bisa jaga diri."
"Gue tahu. Tapi tetap aja."
Amel tertawa kecil.
"Lo masih sama aja dari dulu."
Marcha ikut tersenyum tipis.
"Oh iya," kata Amel. "Bulan depan gue sama Papa Mama mau ke Jakarta."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
