Deven menghela napas lega saat akhirnya benar-benar memastikan Marcha ada di dalam pelukannya.
Nyata. Hangat. Pulang.
Kemarin ia hampir kehilangan akal sehatnya sendiri, setelah Anneth datang dan ia memutuskan sambungan telepon dengan Marcha, tiba-tiba perempuan itu tidak bisa dihubungi sama sekali, telepon mati, pesan tidak dibalas dan Deven sempat berpikir Marcha marah.
Salah paham.
Pergi.
Ia kalut. Benar-benar kalut dan ternyata perempuan itu bukan menghilang, ia sedang berada di pesawat... terbang melintasi separuh dunia menuju dirinya. Marcha tidur begitu damai di pelukannya bahkan ketika Deven mencium keningnya berkali-kali, ia tidak bergerak sedikit pun, wajahnya tenang, napasnya lembut. Deven tahu wanita ini sangat lelah, banyak hal yang ingin ia bicarakan, banyak yang ingin ia jelaskan tapi ia tidak tega membangunkannya.
Akhirnya, sebelum berangkat ke rumah sakit, Deven mendaratkan satu ciuman terakhir di kening Marcha.
"Tidur yang nyenyak," gumamnya pelan.
⸻
Sepulang kerja, langkah pertama Deven langsung menuju kamar. Marcha masih tertidur, ia berdiri di sisi tempat tidur, menatapnya dengan bimbang, haruskah ia membangunkan? Marcha belum makan sejak pagi tapi ketika melihat mata itu tetap terpejam dan wajahnya begitu damai, hati Deven luluh.
"Lanjut mimpi aja, Bidadari," bisiknya.
Deven makan sendiri, masak seadanya dan beraktivitas seperti biasa, saat ia kembali ke kamar beberapa jam kemudian—Marcha masih tidur, Deven menghela napas panjang.
"Nih cewek kuat banget tidurnya... apa dia gak tidur berhari-hari sampai sekarang balas dendam tidur seharian?"
Ia naik ke tempat tidur dan berbaring di sampingnya, lengan Deven kembali melingkari tubuh Marcha, pikirannya mulai melayang ke mana-mana, ke arah yang seharusnya tidak ia pikirkan, Deven menelan ludah pelan, menatap wajah perempuan itu, ia sayang sekali pada wanita ini dan ia akan menjaga wanita ini bahkan dari dirinya sendiri. Deven mencium kening Marcha dengan lembut, lalu memejamkan mata dan ikut tertidur.
⸻
Tengah malam
Ia menggandeng tangan Marcha keluar kamar. Lampu dapur dinyalakan. Ruangan biru tua-putih itu terasa hangat di tengah sunyi malam, piano hitam di ruang tamu seakan menjadi saksi dua manusia setengah sadar yang kelaparan, Deven membuka kulkas.
"Mau makan apa, Nyonya Jet Lag?"
"Makan mie instan aja gak apa, Dev."
Deven langsung menoleh. "Kamu jangan makan begitu terus, kerja capek, gak ada gizinya."
"Tapi ini tengah malam. Aku yang penting makan."
"Pesan McD aja?" tanya Deven.
Marcha menggeleng. "Bosen Dev, di Paris, di Amerika makan McD terus."
Deven menghela napas kecil. "Aku masakin telur ya."
"Telur doang mana kenyang? Ayolah sama mie."
Deven menyipitkan mata. "Cha... kamu ngidam? Dari tadi mie melulu."
Marcha langsung menatap tajam. "Ngidam? Kamu pikir aku hamil?"
Deven tertawa pelan. "Siapa tau kan."
"Aku laper," kata Marcha sambil menggoyang-goyangkan lengannya manja.
Deven menyerah.
"Yaudah. Mie instan. Kuah atau goreng?"
"Kuah."
"Duduk yang manis."
Marcha tiba-tiba mengelus pipi Deven dengan lembut dan mencium bibirnya pelan.
"Makasih ya, sayangku."
Senyum Deven melebar tanpa bisa ia tahan.
"Sana duduk," katanya pura-pura tegas.
Marcha menurut. Duduk di meja makan, menopang dagu dan menatap Deven dengan mata berbinar seolah ia sedang menyaksikan chef profesional beraksi.
"Kenapa liatinnya begitu?" tanya Deven sambil membuka bungkus mie.
"Rasanya kayak mimpi," jawab Marcha pelan. "Kemarin aku masih di New York, sibuk kerja sekarang kamu di depan aku, lagi masak mie buat aku."
Deven nyengir. "Kalau kamu aja ngerasa kayak mimpi, aku gimana? aku pikir kamu prank apalagi bisnis kamu yang kemarin kamu bilang penting banget itu."
"Kerjaan itu penting," kata Marcha lembut. "Tapi gak ada yang lebih penting daripada kamu."
Deven tertawa kecil. "Kamu tambah lama ngomongnya tambah manis, gula aja kalah."
Marcha terkikik. "Iya dong. Marcha... pacarnya Klepon kalau kamu manis terus aku enggak, gimana?"
"Yaudah, aku Kleponnya," katanya santai. "Kamu isinya, cokelat Cha-Cha."
Marcha tertawa ngakak sampai hampir tersedak, tak lama kemudian mie kuah matang. Uap hangat naik dari mangkuk. Deven duduk di depan Marcha, memperhatikan wanita itu makan dengan lahap.
Di luar, dunia sunyi, di dapur kecil itu, ada dua orang yang tertawa pelan, saling menatap dengan mata mengantuk tapi penuh rasa dan bagi Deven—melihat Marcha duduk di hadapannya, makan mie instan tengah malam sambil tersenyum padanya, terasa jauh lebih mewah daripada apapun karena kali ini, perempuan itu tidak jauh, ia ada di sini, di rumahnya, di hatinya.
Mie kuah di mangkuk masih mengepul ketika Deven akhirnya menarik napas panjang.
"Jadi... aku mau ngomong serius soal Anneth," katanya hati-hati.
Marcha yang sedang mengangkat mie tinggi-tinggi supaya uap panasnya hilang, mendongak santai.
"Ada apa? Kamu kemarin juga kayak orang mau sidang, takut banget aku marah."
Deven menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu salah paham, waktu Anneth datang, aku langsung mutusin telepon kamu."
"Oh itu?" Marcha menyeruput mie pelan. "Enggaklah. Aku percaya kamu, Dev."
"Beneran percaya?" Deven menaikkan sebelah alis. "Kamu gak cemburu?"
Marcha berhenti sebentar. "Ada... sedikit." Ia mengangkat dua jari, jaraknya cuma sejengkal. "Tapi aku tahu kamu gak akan nyakitin aku, kita udah lewatin terlalu banyak hal buat rusak cuma gara-gara satu nama."
Jawaban itu seharusnya bikin Deven lega tapi masih ada yang mengganjal.
"Untuk masalah Anneth... kamu benar. Aku gak ada niat nyakitin kamu. Tapi—"
"Kamu ngapain sama Anneth kemarin?" potong Marcha tenang, masih fokus ke mie.
"Aku gak ngapa-ngapain tapi kamu gak lihat berita di medsos?"
Marcha menggeleng. "HP-ku mati dari kemarin. Begitu nyala, yang aku lihat cuma chat kamu, aku telepon kamu, terus tidur... kapan aku sempat lihat medsos? Kalau udah ada kamu, aku gak peduli sama dunia."
Deven nyengir tipis, hatinya meleleh sebentar, tapi topik berat tetap harus keluar.
"Di luar sana rame, mereka tahu aku batal nikah sama Shanna. Anneth itu sepupunya Shanna tapi yang lagi dibahas bukan itu." Deven menatap Marcha. "Kamu disebut jadi pihak ketiga."
Marcha berhenti mengunyah. "Jadi nitizen lebih percaya aku yang ngerusak pertunangan kamu daripada sepupunya sendiri yang bikin masalah? Gitu maksudnya?"
Deven mengangguk pelan. "Mereka bingung kenapa sepupu bisa jadi penyebab. Sedangkan kamu... kamu pacarku sekarang."
Marcha mendengus kecil. "Dan kamu takut aku marah karena berita itu?"
"Bukan cuma itu, nama kamu jelek lagi dan banyak yang ngehujat, ngebully... aku ngerasa salah."
Marcha meletakkan sendoknya. Matanya tajam, tapi bukan kejam—lebih ke tegas.
"Apa yang salah dari cinta, Dev? Gak ada." Ia bersandar di kursi. "Mereka bilang aku ngerebut kamu? So what? Bukti mereka apa?"
"Tapi nama kamu—"
"Itu pendapat mereka bukan kenyataan." Marcha menatap Deven lurus. "Kenyataannya cuma kamu, aku, dan Tuhan yang tahu, aku gak butuh semua orang setuju. Ini hubungan kita, bukan konsumsi publik."
Deven terdiam beberapa detik, lalu meraih punggung tangan Marcha.
"Thanks ya, Cha kamu gak marah."
Marcha tersenyum tipis. "Aku mana bisa marah sama kamu cuma karena gosip murahan?"
"Aku takut ini ngaruh ke kerjaan kamu."
Marcha malah nyengir "Bisnis itu tentang uang, Dev... pebisnis akan diam kalau kita punya uang." Ia mengaduk sisa mie pelan. "dan kalau aku mau jahat, aku bisa bikin karier Anneth dan Shanna tenggelam barengan."
Deven terdiam.
"Maksud kamu?"
"Kamu gak tahu bisnis apa aja yang aku pegang bahkan industri musik di Indonesia bisa aku sentuh kalau aku mau." Nada Marcha terdengar dingin—nyaris menyeramkan.
Deven menatapnya beberapa detik.
"Tapi kamu gak akan ngelakuin itu kan, Cha? Maksud gue... aku gak mau kamu jadi jahat."
Marcha menyipitkan mata. "Kenapa? Kasihan sama mantan?"
"Bukan! Aku cuma... gak mau kamu turun level."
Marcha tiba-tiba tertawa, ringan dan renyah "Kamu ini lucu banget." Ia menggeleng. "Tenang. Aku gak akan ngapa-ngapain dua mantanmu itu. Showbiz bukan hobi aku.... kebanyakan drama dan settingan, ngabisin energi cuma buat ngehancurin karier orang? rugi."
"Rugi?" Deven masih bingung.
"Iya. Waktu dan tenagaku mahal."
Deven akhirnya ikut tertawa kecil. Wanita ini memang... kadang terdengar kejam tapi justru itu yang bikin dia kuat. Marcha kembali makan seolah pembicaraan barusan cuma selingan sebelum mie dingin, sisa malam itu Deven tidak lagi menyebut nama Anneth atau Shanna bukan karena takut Marcha marah tapi karena ia tahu satu hal dengan jelas— Marcha punya kuasa, punya uang, punya akses dan Deven sudah pernah melihat sendiri bagaimana dunia bisa dibeli termasuk hati seseorang... salah satu mantannya dulu... adalah buktinya. Deven menatap Marcha yang sedang menghabiskan mie kuahnya dengan wajah puas, ia tersenyum kecil. Wanita ini mungkin bisa menghancurkan dunia orang lain kalau mau tapi malam ini—ia cuma ingin mie hangat, pelukan, dan tidur di sampingnya dan itu jauh lebih menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
