Marcha merasa perutnya penuh rasa tidak enak. Setelah telepon Ingvar ke Deven berdering di tangannya, ia buru-buru menuju apartemen Deven. Masalahnya, ia belum pernah ke sana dan sama sekali tidak tahu alamatnya. Dengan sedikit ragu, ia menghubungi Kevin.
"Kevin... apartemen Deven di mana, ya?" tanyanya.
Kevin memberitahunya, dan Marcha mengangguk dalam hati. Sebelum sampai, ia mampir sebentar membeli beberapa buah-buahan di toko dekat apartemen. Sebuah usaha kecil untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Sesampainya di koridor apartemen Deven, Marcha tersentak. Pintu unit itu terbuka sedikit—dan dari celah itu, ia mendengar suara yang membuat dadanya tercekat.
"Non," bisik Deven, tergesa, seolah takut pikirannya berubah. "Kamu beneran mau nikah sama aku?"
"Kalau kamu siap," jawab Shanna lembut, "aku mau."
Deven menarik napas dalam. "Ya udah... kita nikah aja."
Marcha menempel di tembok dingin koridor, tangan menekan dada seolah ingin menahan sakit yang tiba-tiba menusuk. Ia menatap langit-langit, berusaha menahan air mata yang mengalir pelan. Mungkin ini salahnya. Mungkin ia yang mendorong Deven untuk menikah dengan Shanna. Tapi... Deven tak seharusnya mengikuti keinginan orang lain jika hatinya tak ada di sana. Hatinya—hanya ada untuk Marcha. Sakit. Teramat sakit. Ia tak pernah merasakan sakit yang lebih menusuk daripada mendengar Deven, pria yang dicintainya, akan menikah dengan wanita lain.Namun Marcha tahu ia tidak bisa tetap di situ. Tak ada cinta di tangannya sekarang, tapi masih ada karier, impian, dan hidup yang menunggu.Dengan langkah berat, ia meletakkan buah-buahan yang tadi dibelinya—buah yang seharusnya jadi hadiah kecil—di koridor. Perlahan, ia menapaki lorong apartemen, menghapus sisa air mata, mencoba menenangkan diri.Sakitnya tetap ada, tapi hidup harus terus berjalan.
Marcha kembali ke kantornya, tapi pikirannya berserak ke mana-mana. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya, ia menghubungi Kevin—tapi ternyata Kevin sedang di Bogor. Marcha menatap layar ponselnya. Siapa yang bisa ia telepon untuk menghabiskan waktu bersama? Ia ingin minum. Ia ingin alkohol untuk meredakan rasa sakit ini. Clarice dan Anastasia? Tidak mungkin. Bagaimanapun, mereka teman Shanna juga.
Ia menelan ludahnya, lalu matanya tertumbuk pada nama Monique.Yah... teman lamanya di Paris. Monique dulu sering menjadi model untuk majalahnya, dan beberapa tahun lalu Monique kembali ke Indonesia untuk mengurus bisnis besar. Marcha tahu, Monique pernah sedikit mengetahui soal Deven—tidak banyak, tapi cukup. Tak ada pilihan lain. Ia menghubungi Monique.
Monique datang menjemput Marcha. Ia memberi tahu Penny bahwa hari itu ia off kerja dan pergi dengan Monique. Asistennya terlihat bingung, tapi tidak banyak bertanya.
Awalnya, mereka hanya minum dan berbincang soal bisnis. Marcha tidak langsung curhat. Biasa baginya, masalah pribadi bukan untuk diumbar. Tapi kali ini berbeda. Deven akan menikah.
Tak lama kemudian, Marcha mabuk sampai tidak sadar. Ia tidak ingat apakah sempat bercerita soal Deven dengan Monique atau tidak.
Ketika ia membuka mata perlahan, kepala masih sedikit pusing, pandangannya kabur... Deven.
Deven sedang memegang tangannya, kepala bersandar di ranjang Marcha. Marcha memejamkan mata. Ini pasti mimpi. Mana mungkin Deven ada di sini? Ia membuka mata lagi. Deven masih di sampingnya, memegang tangannya. Perutnya mulas melihatnya. Ia mencoba menggerakkan tubuh perlahan, dan Deven ikut bergerak.
"Eh... lo udah bangun, Cha?" tanya Deven kaget.
"Ya," jawab Marcha sambil memegangi kepala yang masih sakit.
Deven memberikan gelas yang berada di samping tempat tidurnya.
"Apa ini?" tanya Marcha bingung.
"Cuma air putih biasa buat ngilangin hangover," jawab Deven.
Marcha meneguk air itu sampai habis.
"Gimana? Udah enakan atau mau tambah airnya? Gue ambilin," kata Deven.
Marcha menatap Deven, menggeleng. "Gue bisa ambil sendiri," katanya, berusaha berdiri.
Tapi kakinya masih lemas. Hampir saja ia jatuh. Untung Deven sigap menangkapnya. Tanpa sadar, Marcha malah memeluk Deven meskipun sebentar, hangatnya pelukan itu begitu nyaman.
Marcha perlahan melepaskan pelukan. "Sorry," katanya pelan.
"Gak apa, gue temenin ke dapur," kata Deven, tetap memegang tangan dan pundaknya.
Setelah merasa cukup stabil, Marcha melepaskan pegangan. "Gue udah gak apa-apa," katanya.
Deven mengangguk, berjalan di sampingnya "Lo kenapa bisa di sini, Dev? Gue kan kemarin pergi sama Monique," kata Marcha sambil mengisi gelasnya dari dispenser.
"Gue ke rumah lo, tapi ketemu Kevin, bukan Monique," jawab Deven.
"Kevin??" ulang Marcha bingung.
"Iya, Kevin... dia bilang ditelepon sekertaris lo karena lo mabuk," kata Deven.
Marcha menghela napas.
"Lain kali, kalau lo kuat minum, gak masalah. Tapi kalau gak bisa... jangan deh. Untung Kevin ketemu lo, kalau orang jahat gimana?" kata Deven.
"Gue kemarin minum sama Monique," kata Marcha. "Gue gak berharap cowok yang nolongin gue."
Deven menahan napas melihat Marcha meneguk banyak air.
"Jadi... lo mau bilang gue mau nikah sama Shanna?" tanya Marcha tiba-tiba.
"Lo tau dari mana gue mau nikah sama Shanna?" tanya Deven.
"Gue ke apartemen lo... dan denger lo ngomong sama Shanna," jawab Marcha.
Deven menatapnya. "Jadi elo pengirim buah misterius di samping pintu apartemen gue?"
Marcha cuma tersenyum kecil, tanpa menjawab. Ia memang tidak bermaksud mengirim buah itu—hanya ingin membuangnya. Deven terdiam, menatapnya lama.
"Gue bener kan? Lo kesini mau kasih tau gue kalau lo mau nikah sama Shannon?" tanya Marcha lagi.
"How do you feel about that?" tanya Deven.
Alis Marcha terangkat bingung. "Maksud lo... gimana gue ngerasa soal lo nikah?" tanya Marcha. "Ya, gue seneng lah... lo akhirnya nikah, dan Shanna pasti bahagia banget."
"Lo beneran seneng?" tanya Deven.
Marcha memalingkan wajah. "Ya... gue gak ngerti maksud lo tanya terus-terusan," katanya. "Udah gue jawab."
"Kalau elo seneng, kenapa kemarin lo manggil nama gue?" tanya Deven.
"Gue manggil nama elo? Kapan?" kata Marcha bingung.
"Waktu lo mabuk," jawab Deven.
Marcha diam saja.
"Kalau lo masih cinta, masih sayang sama gue... lo mesti ngomong sama gue, Cha. Gue cinta sama elo, gue..." kata Deven.
"Ini jalan terbaik. Gue gak bisa ngebiarin lo mutusin Shannon dan jalan sama gue," kata Marcha pelan, hampir berbisik.
"Kenapa?" tanya Deven.
"Karena gue dan Shanna sahabat... dan meski sekarang udah gak sedekat dulu, gue tau dia... selama SMA, Shanna gak pernah dapat apa yang dia mau dan harapkan dan lo adalah hal yang paling dia inginkan... gue gak bisa nyalahin dia," kata Marcha, nadanya berat.
"Hanya karena lo kasihan sama Shanna, lo ngerelain cinta lo sendiri, Cha?" tanya Deven.
"Dev... gak semua hal di dunia ini bisa kita dapatkan. Kadang kita harus menerima," kata Marcha. "Waktu gue tau lo sama Shanna, gue tau gue gak akan bisa bareng sama elo lagi... ada tembok besar di hadapan kita. Namanya persahabatan."
"Gue bukan barang... gue bisa mutusin Shanna kalau gue cinta sama elo," kata Deven.
Marcha memegang tangan Deven. "Dev, jangan nyakitin Shanna. Lo udah bikin gue kecewa, jangan dia juga," kata Marcha. "Sekalipun lo putus sama Shanna, gue gak akan bisa terima lo lagi."
"Cha..." kata Deven.
"Gue gak mau egois karena cinta. Gue juga udah punya yang gue mau... karir, impian..." kata Marcha.
"Lo yakin cukup hidup cuma dengan itu?" tanya Deven.
Marcha menatapnya. Ia tau Deven akan jadi pelengkap yang paling membahagiakan. Tapi... ia tidak bisa.
"Gue yakin," kata Marcha, bohong. "Lo nikah sama Shanna... buat dia bahagia. Lo dapet restu gue Dev"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
