"Kenapa kamu, dek?" tanya mama pelan.
Deven yang sedari tadi duduk sambil menatap kosong ke arah meja makan akhirnya menoleh. Wajahnya kusut, rambutnya bahkan masih sedikit berantakan seperti orang yang tidur cuma numpang merem.
"Marcha..." katanya lirih. "Marcha minta break."
Mama langsung berhenti mengaduk teh nya.
"Marcha minta putus?" tanyanya kaget.
"Gak, ma bukan putus," jawab Deven cepat. "Dia cuma mau istirahat dulu. Dia nyuruh adek mikir lagi apa bener adek mau nikah sama dia... sementara dia balik ke Paris."
Amel yang duduk di sebelah papa langsung menatap Deven serius.
"Itu tanda-tanda putus kalau gak kamu kejar," katanya spontan.
"Kak!" protes Deven.
"Ya apaan? Cewek kalau udah bilang 'aku mau sendiri dulu' itu bahaya," kata Amel. "Besok-besok tau-tau upload foto di Eiffel sambil caption healing."
"MARCHA GAK GITU!" bantah Deven cepat.
Mama sampai menahan senyum melihat Deven yang langsung defensif.
"Marcha janji gak bakal putus," kata Deven lebih pelan.
"Ya tetap aja kamu harus kejar," kata Amel santai sambil menyeruput kopi.
"Tapi papa..." gumam Deven sambil melirik ke arah papanya.
Sedari tadi papa hanya diam sambil sarapan, seolah sedang memikirkan sesuatu lalu lelaki itu akhirnya bicara.
"Kalau dia mau putus ya putus," katanya tenang. "Cewek di luar juga banyak, dek."
"Adek cuma mau sama Marcha, pa," jawab Deven cepat tanpa ragu.
Papa menghela napas pelan "Kamu ini susah dibilangin," katanya. "Papa gak mau masa depan kamu susah."
"Pa..."
"Kamu tau kan perusahaan keluarga Marcha itu besar," lanjut papa. "Dan keluarga besar mereka sering kena gosip gak enak di dunia bisnis. Om sama tante nya, sepupu-sepupunya... papa udah tunjukin semua artikel itu ke kamu."
Deven mengepalkan tangannya pelan. Ia tahu maksud papanya.Beberapa artikel media memang pernah menulis gosip tentang perusahaan keluarga Marcha. Mulai dari permainan pajak sampai isu pencucian uang tapi Deven tidak pernah benar-benar percaya.
"Deven nikah sama Marcha, pa," katanya pelan. "Bukan sama semua keluarganya."
Papa langsung menatap tajam ke arahnya.
"Tapi nama kamu masuk di saham keluarga mereka," katanya. "Kamu dapat lima belas persen. Kalau suatu hari ada masalah hukum, nama kamu juga bisa ikut kebawa."
"Adek siap sama resikonya."
"Kamu yakin?"
"Adek yakin itu cuma hoax," jawab Deven mantap. "Marcha gak akan ngelakuin hal yang melanggar hukum. Semua yang dia kerjain selalu diskusi dulu sama Kevin."
Papa menggeleng kecil "Itu bisnis Marcha pribadi," katanya. "Ini beda. Ini perusahaan keluarga."
"Pa, nanti yang pegang perusahaan itu Ingvar," jawab Deven. "Dan adek percaya Ingvar juga gak sembarangan ambil keputusan."
Meski begitu...Di dalam hati kecilnya, Deven sadar ia memang harus bicara lagi dengan Marcha soal ini karena selama beberapa bulan terakhir justru Marcha yang paling banyak mengurus bisnis keluarga mereka dan kalaupun Deven percaya sepenuhnya pada Marcha... tetap saja, rasa takut papanya bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
"Sudahlah pa," sela Amel tiba-tiba. "Adek kan udah dewasa. Dia juga udah tau resikonya."
Papa diam.
"Selain itu," lanjut Amel sambil menatap papanya, "Amel juga kenal Marcha. Dia cewek baik."
Mama langsung mengangguk kecil setuju.
"Beda sama mantan-mantan adek dulu," tambah Amel santai.
"Kak..." gerutu Deven malu.
"Ya emang iya," kata Amel tanpa dosa. "Yang satu drama terus, yang satu lagi selingkuh, yang satu lagi bikin adek nangis mabok-mabokan di karaoke sampe nyanyi lagu Dewa tujuh kali."
"Itu sekali!" protes Deven.
"Tujuh lagu beda."
Mama sampai tertawa kecil sementara Deven memijat pelipisnya malu.
"Pokoknya," lanjut Amel, "Marcha itu paling cocok buat adek. Papa yakin mau ngelepas calon menantu kayak gitu?"
Papa terdiam cukup lama. Ruangan mendadak sunyi. Deven sampai menahan napas menunggu jawaban papanya lalu akhirnya papa menatap ke arah Deven.
"Kalau memang kamu yakin ini yang terbaik..." katanya pelan, "papa gak bisa larang."
Mata Deven langsung melebar.
"Tapi papa ingetin satu hal," lanjut papa. "Kalau nanti ada masalah hukum atau masalah keluarga..."
"Adek udah punya pengacara hebat buat ngurus begituan," potong Deven cepat sambil langsung teringat Kevin.
Amel langsung tertawa "Itu pengacara apa bodyguard kehidupan sih?"
"Semua dia urus," gumam Deven.
Papa akhirnya tersenyum tipis melihat ekspresi anaknya yang sejak tadi tegang.
"Ya udah," katanya mengangguk kecil. "Kalau kamu yakin dan kamu bahagia... papa setuju."
Deven seperti baru bisa bernapas lagi, wajahnya langsung berubah cerah.
"Serius pa?" tanyanya hampir gak percaya.
Papa mengangguk pelan "Asal adek bahagia."
Senyum Deven langsung melebar begitu saja "Makasi pa..."
Papa hanya mengangguk kecil, tapi kali ini sorot matanya jauh lebih lembut dari sebelumnya. Deven menelepon Marcha saat mobil yang membawanya melaju menuju bandara Lombok namun panggilannya tidak diangkat. Deven menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum tertawa kecil pahit.Ya sudahlah... mereka memang sedang break.Dia berharap apa?Deven akhirnya mengetik pesan.
Deven
Cha, kita ketemu dulu yaa... ada yang penting mau aku omongin
Pesannya belum dibaca. Deven mulai gelisah, jangan-jangan Marcha benar-benar sudah berangkat? Baru saat Deven sampai di bandara Lombok, balasan itu masuk.
My Cha
Dev, sorry... aku mesti berangkat sekarang, ada kontrak kerja lain yang harus aku tanda tangan
Deven
sebentar aja Cha, tungguin
My Cha
aku udah di pesawat, mau take off
Deven menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi bandara. Kecewa? Jelas tapi dia juga tidak bisa memaksa Marcha turun lagi dari pesawat hanya demi mendengarkan dirinya bicara.
Deven
ya udah, hati-hati ya... nanti sampai Paris kabarin
My Cha
okay, maaf ya Dev
"Kenapa dek?"
Deven menoleh ke arah kakaknya yang duduk di sebelahnya.
"Marcha udah di pesawat balik ke Paris, kak," katanya pelan.
"Loh? Jadwalnya maju?" tanya Amel heran.
Deven tersenyum kecil. "Dia ada meeting sama investor, jadi balik lebih pagi."
Amel menepuk pundaknya pelan "Sabar ya dek."
Deven mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.
"Kapan Marcha balik Indonesia?" tanya mama.
"Katanya sih sebulan," jawab Deven. "Tapi adek yakin lebih dari itu. Kerjaan Marcha banyak banget, ma. Dia aja kemarin di Indo hampir dua bulan."
"Kamu susul aja ke Paris," kata Amel santai.
Deven terkekeh kecil "Aku gak enak cuti terus sama rumah sakit, kak. Pasienku udah ada jadwal operasi semua. Belum nanti seminar neurologi di Abu Dhabi bulan depan."
Mama mengusap lengan Deven lembut "Sabar aja ya dek."
Deven hanya mengangguk pelan.
Beberapa jam kemudian...Deven akhirnya sampai di bandara Soekarno-Hatta dan seperti biasa—
"Kalian ngapain di sini?" tanya Deven begitu melihat Gogo dan Friden berdiri di depan pintu kedatangan.
"Jemput lo lah," jawab Gogo santai.
"Gue gak minta dijemput."
"Marcha yang nyuruh," sahut Friden.
Deven langsung menoleh "Kalian ketemu Marcha?"
"Enggak," jawab Gogo. "Dia udah cabut dari tadi tapi dia nitip ini buat lo."
Gogo menyerahkan sebuah kotak kecil.
Deven menerimanya sambil mengernyit bingung "Apa ini?"
"Mana gue tau," jawab Gogo. "Kemarin dia dateng ke studio, nitip itu sambil nyuruh gue jemput lo."
Deven membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya ada sebuah notebook hardcover warna hitam, di sampul depannya tertulis:
Deven & Marcha
Dan di halaman pertama ada foto kecil mereka berdua bersama Devemon, lengkap dengan tulisan tangan kecil: wait us back
Deven langsung nyengir sendiri, dadanya yang sejak tadi sesak mendadak terasa sedikit lega. Setidaknya... Marcha tidak benar-benar ingin mengakhiri hubungan mereka.
"Cih," Friden melirik jijik pura-pura. "Senyam-senyum sendiri. Umur berapa lo, bro? Masih kasmaran banget."
"Diem lo," balas Deven cepat sambil menutup notebook itu. "Nih, bawain koper gue."
"Bawa sendiri lah," kata Friden. "Gue yang nyetir tau."
"Sini gue aja," kata Gogo sambil mengambil tas ransel Deven.
"Heh Go, itu mah gampang... koper gue yang bawain."
"Lo gak bisa bawa koper?" tanya Gogo polos.
Deven melotot kesal. Akhirnya dengan wajah jutek ia menarik kopernya sendiri mengikuti Gogo dan Friden menuju parkiran.
Sesampainya di apartemen, Gogo dan Friden langsung menjatuhkan diri ke sofa ruang tamu seperti penghuni tetap.
"Kalian kalau mau di sini gak apa," kata Deven sambil mengambil jasnya. "Tapi gue harus ke rumah sakit sekarang."
"Loh? Lo kerja?" tanya Gogo.
"Gue ada jadwal operasi penting."
"Gak capek lo habis dari Lombok?" tanya Friden.
"Kerjaan, Den," jawab Deven sambil merapikan jam tangannya. "Ini nyangkut nyawa orang. Gue gak bisa bilang capek."
"Ya udah," kata Gogo sambil rebahan makin nyaman. "Kita di sini dulu. Gue semalem tidur subuh gara-gara manggung."
"Gue juga capek," sambung Friden. "Flight gue tadi mepet sama kedatangan lo."
Pantas saja Friden masih pakai seragam pilot.
"Ya udah gue pergi dulu. By the way, ntar pesenin makan ya Go, gue—"
"Ntar gue masak," potong Gogo.
Deven berhenti "Masak?"
"Marcha yang nyuruh."
Deven mengernyit.
"Dia bilang sejak lo ngilang ke Lombok, dia isi kulkas lo banyak banget bahan makanan. Katanya lo pasti makan sembarangan."
Deven terdiam beberapa detik. Marcha lagi bahkan saat mereka sedang break, cewek itu masih sibuk ngurus hidupnya.
"Udahlah," kata Gogo sambil melambaikan tangan. "Cepet pergi sana, ntar pasien lo keburu sembuh sendiri."
"Bacot."
Deven akhirnya pergi ke rumah sakit.
Malamnya...Deven sudah kembali ke apartemen. Sudah mandi. Sudah makan masakan Gogo. Bahkan sempat istirahat sebentar dan seharusnya sekarang Marcha sudah sampai Paris tapi tidak ada kabar padahal chat Deven sudah dibaca. Deven menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya menghela napas. Apa dia harus telepon duluan? Sebenarnya Deven tidak mau mengganggu Marcha bekerja. Apalagi kalau sedang meeting investor, biasanya Marcha benar-benar fokus dan sulit dihubungi tapi...Deven tetap menelepon dan panggilannya diangkat.
"Hallo," sapa Deven lembut.
"Hallo Dev," jawab Marcha dari seberang sana.
"Kamu udah nyampe Paris?"
"Iya, udah," jawab Marcha. "Kenapa?"
Deven terdiam sebentar "Kamu kok gak hubungi aku?"
"Aku lupa," jawab Marcha cepat.
Deven langsung duduk tegak.
"Lupa?" ulangnya tidak percaya. "Aku nungguin dari tadi terus kamu jawab lupa?"
"Dev, tadi file kontrak kerja yang dibuat Deca bermasalah," jelas Marcha lelah. "Aku fokus ngurus itu dan—"
"Jadi habis kerja terus lupa sama aku gitu?"
"Bukan gitu," kata Marcha mulai terdengar kesal. "Aku lupa karena tadi hectic banget dan gak sempat buka hp."
"Kalau gak aku telepon, kamu gak bakal kabarin aku kan?"
"Ya udah, aku minta maaf."
Entah kenapa nada minta maaf itu justru membuat Deven makin kesal "Nada kamu minta maaf gak tulus banget ya," katanya dingin. "Padahal kamu memang harus minta maaf."
"Mau kamu apa sih Dev?" suara Marcha mulai naik. "Aku udah minta maaf tapi kamu masih marah. Kerjaanku banyak, kamu bisa gak ngertiin aku sedikit aja?"
"Itu cuma kerjaan."
Sunyi, lalu suara Marcha terdengar jauh lebih tajam.
"Cuma kerjaan?"
"Iya," jawab Deven keras kepala. "Kerjaanku juga penting tapi aku gak lebay kayak kamu."
"Kerjaanku menyangkut hidup banyak orang, Dev."
"Kerjaanku lebih penting."
Dan detik berikutnya—Tut. Teleponnya diputus. Deven menatap layar ponselnya kaku, dadanya langsung terasa tidak enak "...kayaknya gue tadi keterlaluan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
