"Sejak kapan kamu pakai kacamata?"
Deven langsung mencondongkan wajahnya ke layar video call begitu melihat Marcha memakai kacamata tipis sambil menatap laptop. Marcha yang sedang mengetik sesuatu langsung melepas kacamatanya.
"Baru," jawabnya santai. "Mata aku gak enak kalau lihat laptop kelamaan, jadi aku periksa ke dokter. Katanya harus pakai kacamata."
Wajah Deven langsung berubah serius "Gak enak gimana? Sakit? Perih? Pusing?"
Marcha menahan tawa melihat ekspresi panik Deven "Dev, aku bukan mau operasi otak," katanya geli. "Cuma capek aja matanya."
"Aku kan udah bilang jangan terlalu capek kerja," omel Deven sambil menghela napas. "Kerja boleh, tapi kesehatan nomor satu, sayang."
"Iya, Dokter Deven," jawab Marcha sambil mengangguk patuh berlebihan.
Deven menyipitkan mata "Kamu ngeledek aku ya?"
"Enggak," jawab Marcha polos lalu tertawa kecil.
Deven ikut tersenyum sebelum mengubah posisi duduknya di kursi bandara "Aku satu jam lagi boarding," katanya. "Mau titip oleh-oleh apa?"
Marcha langsung tertawa "Oleh-oleh lagi?"
"Ya siapa tau calon istri aku manja."
"Calon istri?" ulang Marcha sambil mengangkat alis.
"Iya dong." Deven nyengir. "Atau aku salah orang?"
Marcha menggeleng sambil tersenyum tipis "Emang kamu kapan mau ketemu aku?"
"Nah itu." Deven langsung menunjuk layar. "Aku tuh lagi berusaha menggiring pembicaraan ke sana."
Marcha tertawa pelan.
"Ya kan gak lama lagi kamu pulang," lanjut Deven. "Boleh dong aku berharap?"
"Boleh..." jawab Marcha lebih lembut. "Aku juga pengen cepat pulang terus ketemu kamu."
Senyum Deven langsung lebar "Tuh kan," katanya puas sendiri.
Marcha menggeleng geli melihat tingkah pacarnya itu.
"Oh iya," katanya tiba-tiba sambil kembali memakai kacamatanya. "Aku lihat di internet Shannon kabur dari rumah."
"Iya."
"Dia tinggal di mana sekarang?"
"Di apart Kevin."
Mata Marcha langsung melebar "Hah? Di apart Kevin?" ulangnya cepat. "Gak salah nih?"
"Kenapa?" Deven malah tertawa. "Takut Kevin dirampok?"
"Bukan!" Marcha spontan memprotes. "Ya aku bukan gak percaya sama Kevin tapi... mereka kan dulu cuma temenan."
"Dulu," tekan Deven sambil nyengir. "Sekarang mereka bucin banget bahkan kayaknya lebih bucin dari kita."
Marcha langsung membeku beberapa detik "Mereka jadian?!"
Deven mengangguk sambil tertawa kecil melihat ekspresi excited Marcha "Iya. Kevin bahkan bilang traktirannya nunggu kamu pulang Indonesia."
"Ya ampun akhirnya!" Marcha ikut tertawa senang. "Aku cepet pulang deh biar kita double date."
"Double date," ulang Deven sambil geleng-geleng kepala geli.
Namun beberapa detik kemudian Marcha kembali menatap Deven "Tapi Dev..."
"Hm?"
"Kemarin habis kabur dari rumah itu... Shannon gak nyari kamu dulu ya?"
Senyum Deven perlahan memudar "Maksud kamu nanya gitu apa?"
Marcha mengerutkan kening "Ya gak maksud apa-apa," jawabnya santai. "Sebelumnya kan kamu yang nemenin dia curhat."
"Ya tapi aku sama Shannon cuma temen," kata Deven cepat. "Wajar kalau dia sesekali cerita sama aku, kamu gak percaya sama aku?"
Marcha langsung menatapnya tidak percaya "Aku cuma tanya, Dev."
"Cara kamu nanya tuh kayak gak percaya sama aku."
Marcha mulai kesal "Ya terus kalau aku tanya harus pakai surat izin dulu?"
"Aku cuma gak mau kamu mikir aneh-aneh lagi."
"Aku belum mikir aneh-aneh sampai kamu nuduh aku mikir aneh-aneh," balas Marcha cepat.
Deven menghela napas kasar "Kemarin aku udah minta maaf soal Shannon."
"Iya."
"Terus sekarang kenapa dibahas lagi?"
"Karena aku lagi ngomongin Shannon yang kabur dari rumah!" jawab Marcha mulai emosi. "Bukan lagi interogasi kamu."
"Ya jelas sekarang dia sama Kevin," kata Deven. "Apalagi yang harus aku jelasin?"
Marcha langsung diam beberapa detik "Kamu gak jawab pertanyaanku."
Deven mengusap wajahnya frustasi "Ap—"
"Udahlah," potong Marcha cepat. "Kalau gak mau jawab juga gak apa-apa."
"Kamu tiap ada masalah selalu kabur ke kerjaan," kata Deven tiba-tiba.
Marcha langsung menatap tajam.
"Tameng lagi?" tanyanya pelan.
"Iya, tiap kita tengkar kamu selalu bilang sibuk terus gak mau ngomong."
Marcha tertawa kecil saking kesalnya "Aku bukan gak mau ngomong, Dev. Kamu yang gak bisa diajak ngomong."
"Maksud kamu?"
"Aku cuma tanya Shannon hubungi kamu atau enggak setelah dia kabur," kata Marcha sambil menahan emosi. "Tapi kamu malah muter-muter ngomong aku gak percaya sama kamu."
Deven terdiam.
"Aku cuma nanya," lanjut Marcha lebih pelan. "Bukan nuduh."
Beberapa detik hening.
Akhirnya Deven menghela napas "Shannon gak hubungi aku," jawabnya pelan.
"Nah udah," kata Marcha langsung. "Aku cuma mau tau itu doang."
"Aku gak nyangka pertanyaan sesimpel itu bisa jadi ribut."
"Karena aku takut kamu masih gak percaya sama aku," gumam Deven.
Marcha menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya bicara lebih lembut "Aku percaya sama kamu, Dev tapi kamu juga harus ngerti... habis kamu bohong kemarin, wajar kalau aku jadi lebih sensitif."
Deven menunduk sebentar "Aku udah minta maaf."
Marcha tersenyum tipis, tapi matanya terlihat lelah "Kamu tau kan kalau maaf aja gak cukup?" katanya pelan. "Kalau kesalahannya terus diulang."
Deven langsung terdiam.
"Kamu bilang mau berubah," lanjut Marcha. "Ya tunjukin lewat sikap, bukan cuma lewat kata maaf."
"Aku setidaknya udah minta maaf," kata Deven mulai terpancing emosi lagi. "Kalau kamu gak mau denger ya udah."
Marcha langsung menghela napas panjang "Nah kan..." gumamnya lirih. "Kita baru baikan bentar."
Deven yang juga sedang capek, kurang tidur, dan emosinya berantakan akhirnya kehilangan kesabaran "Ya udah kalau gitu!" katanya kesal.
Dan sambungan video call itu tiba-tiba terputus. Marcha langsung menatap layar ponselnya tidak percaya, beberapa detik ia hanya diam.
"Apaan sih..." gumamnya pelan.
Dia yang salah, dia juga yang marah. Marcha menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya, baru juga hubungan mereka mulai membaik...Sekarang tengkar lagi, perlahan Marcha memejamkan matanya lalu meletakkan ponsel di atas meja.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—Ia benar-benar merasa lelah menghadapi Deven.
Marcha menatap layar laptopnya lama. Jadwal kerjanya padat sampai dua bulan ke depan. Meeting, inspeksi, presentasi, perjalanan bisnis—semuanya menumpuk tanpa ampun. Bahkan kalender digitalnya terlihat menyeramkan. Hampir semua tanggal penuh warna. Ia menghela napas pelan lalu melirik ponselnya, sudah sejak kemarin Deven tidak memberi kabar dan Marcha tahu, kalau ia bilang belum bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat, Deven pasti kecewa lagi. Mungkin marah. Mungkin mereka akan bertengkar lagi.
Jujur saja, Marcha lelah.
Lelah dengan LDR mereka yang seperti roller coaster rusak. Baru naik sebentar, langsung jungkir balik lagi.
Tangannya bergerak pelan mengetik pesan.
Marcha :
Dev, ak capek sama keadaan kita... ak rasa kita sekarang temenan aja dulu.
Setelah pesan itu terkirim, dada Marcha justru terasa makin sesak.
"Astaga..." gumamnya pelan. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Matanya mulai panas. Padahal tadi ia merasa yakin, kenapa sekarang malah sakit begini?
Ponselnya tiba-tiba berdering, nama Deven muncul di layar... cepat sekali. Marcha menarik napas panjang sebelum mengangkat telepon itu.
"Halo..." sapa Marcha lirih sambil buru-buru mengusap air mata di sudut matanya.
Di seberang sana, suara Deven terdengar tenang. Terlalu tenang malah, sampai bikin Marcha makin gak enak hati.
"Maksud chat kamu apa, Cha?" tanyanya pelan. "Temenan?"
Marcha memejamkan mata sejenak.
"Sorry, Dev... aku... aku gak yakin bisa tahan sama hubungan kita."
"Kamu marah sama aku cuma karena masalah Shannon?"
"Bukan... bukan itu..." Marcha bingung sendiri menjelaskan isi kepalanya. "Kita bakal terus LDR. Bahkan kalau nikah nanti juga kemungkinan tetap LDR. Aku capek, Dev..."
Beberapa detik hening.
"Kamu gak bisa pulang Indo?" tanya Deven pelan.
Marcha menggigit bibir bawahnya "Aku harus stay di Paris sekitar dua bulan lagi..."
"Kamu sibuk sama kerjaan kamu. Aku gak marah."
"Dev..." suara Marcha mulai melemah. "Kamu gak capek? Masalah kita aja belum selesai. Kita masih jauh-jauhan terus."
Deven tertawa kecil. Lelah, tapi hangat "Enggak."
Marcha diam.
"Aku cinta kamu," lanjut Deven pelan. "Aku gak pernah capek buat cinta sama kamu."
Kalimat itu langsung bikin dada Marcha nyeri lagi.
"Jarak, waktu, negara beda... selama di hati aku masih ada kamu, aku gak capek."
"Tapi masalah kita?"
"Semua orang punya masalah, Cha," jawab Deven lembut. "Dan semua orang punya pilihan: nyelesaiin atau nyerah."
Marcha terdiam.
"Kamu sendiri yang pernah bilang komunikasi itu penting," lanjut Deven. "Kalau ada masalah ya dibenerin, bukan kabur."
"Tapi Dev..."
"Gini deh," potong Deven pelan. "Aku tau sekarang kamu susah percaya sama aku gara-gara aku pernah bohong soal Shannon. Aku salah. Aku akuin tapi kamu yakin... cuma karena satu kebohongan bodoh yang aku lakuin demi menghindari ribut... kamu mau nyerah sama semua yang udah kita lewatin?"
Marcha menunduk, ia benci saat Deven bicara selembut ini karena tiap kali begitu, hati Marcha langsung goyah.
"Kalau menurut kamu putus itu solusi terbaik," kata Deven lagi, kali ini lebih pelan, "aku bakal ikut apa maunya kamu tapi jujur... aku gak pernah nganggep LDR kita sebagai alasan buat berhenti."
Marcha menutup matanya "Kasih aku waktu mikir ya..." bisiknya. "Aku... aku gak tau aku bisa jalanin hubungan kayak gini atau enggak."
Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana "Ya udah," jawab Deven akhirnya. "Aku gak apa kalau kamu mau mikir." lalu ia tertawa kecil "Aku cuma pengen kamu bahagia. Itu doang."
Hati Marcha makin gak karuan "Iya... aku tau."
"Hhmm... ya udah kalau gitu," kata Deven. "Aku tadi keluar seminar cuma gara-gara lihat chat kamu. Sekarang dosennya mungkin udah ngira aku kabur buat nikah."
Marcha tanpa sadar tertawa kecil di tengah air matanya "Maaf ya ganggu."
"No problem." Suara Deven ikut terdengar lebih ringan. "Bye, Cha."
"Bye, Dev..."
Telepon terputus. Marcha menatap layar ponselnya lama sekali, ia baru sadar...Mereka gak jadi putus padahal tadi niatnya sudah bulat.
"Kenapa sih dia kalau ngomong selalu bikin aku gagal mutusin dia..." gumam Marcha frustasi sendiri.
Ia merebahkan kepala ke sandaran kursi.
Hubungan mereka memang terasa rapuh sekarang. Seperti tinggal menunggu waktu untuk jatuh tapi...Apa Marcha benar-benar sanggup melepaskan Deven? Setelah semua yang mereka lalui sejak SMA. Setelah semua salah paham, perpisahan, dan pertemuan lagi.
Marcha menghela napas panjang lalu menaruh ponselnya di meja.
"Ya udahlah... jalanin aja dulu."
Selama Deven di Abu Dhabi, lelaki itu tetap mengabarinya. Tapi tidak sesering biasanya.
Kadang seminar.
Kadang meeting.
Kadang konferensi kedokteran di Dubai.
Kadang hilang seharian kayak agen rahasia internasional dan yang paling ngeselin, tiap ditelepon jawabannya selalu "Nanti aku telepon balik ya sayang."
Lalu hilang lagi, sampai akhirnya Deven benar-benar gak bisa dihubungi.
Setahu Marcha, hari itu Deven sudah harus balik ke Indonesia tapi Kevin bilang ada seminar tambahan di Dubai. Marcha berdiri di dekat kaca besar Montparnasse Tower sambil memandang kota Paris yang mulai dipenuhi cahaya malam.
Tempat ini selalu jadi tempat favoritnya dan anehnya...Setiap datang ke sini, Marcha selalu berharap Deven ada bersamanya, mungkin karena dulu Deven pernah bilang "Nanti aku nemenin kamu kesini lagi."
Marcha tersenyum kecil mengingat itu.
"Tapi kapan..." gumamnya pelan.
Deven mana mungkin gampang cuti lagi, rumah sakit aja rasanya udah nyulik hidup cowok itu setengah permanen. Marcha sedang melamun ketika tiba-tiba ada sepasang tangan memeluknya dari belakang, tubuh Marcha langsung menegang lalu suara familiar itu terdengar dekat di telinganya.
"Kangen aku?"
Mata Marcha langsung melebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Hayran KurguBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
