LDR (Marcha)

88 9 7
                                        

Marcha menghela napas sambil menatap layar ponselnya. Wajah Deven masih terhubung di video call—atau lebih tepatnya, belum juga diangkat. Deven ke mana sih...
Sejak kemarin dihubungi susah sekali. Kemarin malam sih dia sempat bilang akan ada operasi dan bakal sibuk berjam-jam. Marcha paham. Dia tahu dunia Deven bukan dunia yang bisa ditinggal setengah-setengah tapi ini sudah satu hari penuh, masa iya operasi sampai seharian?Marcha mendengus pelan, jarinya sudah hampir menekan tombol putus namun tepat saat itu, layar ponselnya berubah.
Deven muncul dengan mata panda yang dramatis dan rambut yang jelas belum kenal sisir, background di belakangnya... membuat Marcha terpaku.
"Kamu... di mana?" tanya Marcha, keningnya berkerut.
"Di rumah kamu," jawab Deven sambil mengusap matanya, setengah mengantuk.
"Hah?" Marcha mendongak. "Ngapain kamu di rumahku, Dev?"
"Kemarin tengah malam, pas mau pulang, Ingvar nelepon katanya papi kamu kambuh lagi," jelas Deven. "Jadi aku mampir, kasih suntikan ke papi kamu."
Marcha terdiam.
"HP-ku habis baterai," lanjut Deven santai. "Terus Ingvar minjemin charger. Habis itu... mami kamu nyuruh aku tidur di kamar kamu."
Wajah Marcha langsung memanas. "Kok di kamar aku sih?! Kan ada kamar tamu!"
Deven menguap lebar, sama sekali nggak merasa bersalah. "Mami kamu nggak tahu selimut disimpen di mana terus katanya kasihan lihat aku kecapekan." dia nyengir. "Jadi ya... gitu."
"Mami aku tahu kita pacaran?" tanya Marcha panik setengah malu.
"Ingvar tahu," jawab Deven polos.
"Ingvar tahu karena aku yang bilang," protes Marcha. "Tapi mami—"
"Mami tahu kok."
Marcha membeku.
"Dikasih tahu Ingvar," lanjut suara itu.
Di layar, tiba-tiba muncul wajah mami Marcha di belakang Deven.
"Pagi, Deven," sapa mami Marcha cerah.
"Pagi, Tante," jawab Deven sopan seketika—mode dokter baik hati langsung aktif.
"Halo, Mi..." sapa Marcha sambil nyengir canggung, lalu menjulurkan lidah ke arah kamera.
"Kamu kapan pulang?" tanya mami Marcha. "Deven bilang seminggu lagi, itu bener?"
"Ehm..." Marcha menggaruk kepala. "Kayaknya mundur, Mi. Kerjaan Acha banyak banget."
"Mundur?" ulang Deven refleks, matanya langsung terbuka penuh.
Marcha bisa melihatnya, raut kecewa itu—cepat tapi nyata.
"Iya, sorry, Dev," kata Marcha lembut. "Aku harus ke New York minggu depan. Ada kerja sama baru sama investor, jadi—" Marcha menjelaskan panjang lebar, tentang bisnis, tentang jadwal, tentang rencana, tentang semua hal yang masuk akal... tapi terdengar makin jauh.
"Oh begitu," kata mami Marcha akhirnya. "Ya sudah. Kalau kamu sibuk, jangan lupa telepon mami juga ya, masa nelpon Deven doang? Mami tahu kamu punya pacar aja dari Ingvar."
Marcha tertawa kecil. "Iya, Mi."
Matanya kembali ke layar—ke Deven, yang berusaha tersenyum tapi senyumnya tipis, terlalu tipis.
"Oh iya," mami Marcha menepuk bahu Deven. "Sarapan ada di luar, kamu minum kopi, kan?"
"Iya, Tante. Terima kasih," jawab Deven ramah.
"Kalau gitu, tante keluar dulu. Kalian lanjut ngobrol."
Layar kembali hanya berisi wajah Deven, beberapa detik pertama, ia masih tersenyum lalu... senyum itu hilang, wajahnya berubah dingin, datar.
"Ya udah," kata Deven singkat. "Kalau gitu... dah."
"Eh, tunggu," Marcha buru-buru. "Kamu nggak mau nanya apa-apa? Aku ke Indo kapan?"
"Kamu bisa ngasih tahu tanpa aku tanya," jawab Deven. "Dan dengan kerjaan sebanyak itu... paling baru kelar sebulan lagi."
"Kamu marah?" suara Marcha melembut.
Deven menggeleng pelan. "Nggak." ia menatap kamera lama. "Cuma harapanku ke kamu yang terlalu tinggi."
Marcha terdiam.
"Akhirnya aku sendiri yang kecewa," lanjut Deven. "Marah juga nggak ada gunanya."
"Dev—"
"Ya udah ya," potong Deven. "Bye."
"Deven," suara Marcha nyaris memohon. "Kemarin kamu seharian nggak bisa ditelepon, kita ngobrol dong."
"Mau ngobrol apa?" tanya Deven datar. "Kerjaan kamu? Tadi kamu udah jelasin panjang lebar."
"Jangan gitu dong, Dev..."
Deven menghela napas. "Gue lagi nggak mood. Nanti aja telepon lagi, Cha."
"Dev—"
"Bye."
Layar mendadak gelap. Marcha menatap ponselnya lama, kali ini, yang sibuk bukan cuma jadwal mereka—tapi perasaan yang mulai salah langkah
Marcha sebenarnya nggak bisa sepenuhnya nyalahin Deven, dia tahu betul, ia mengabari Deven soal penundaan pulang itu terlalu mepet—hanya seminggu sebelum jadwal kepulangannya sendiri padahal mereka berdua sama-sama semangat, sama-sama menghitung hari.Deven bahkan sudah merencanakan reservasi restoran favorit Marcha dan sekarang... semua itu cuma jadi wacana.
Marcha ngerasa nggak enak banget, ia menatap layar ponselnya lama, lalu akhirnya mengetik.
Marcha:
Sorry ya, sayang... aku tunda dulu balik Indo-nya 🙏
Pesan itu terbaca tapi gak dibalas. Marcha sudah mau mengetik lagi, jari-jarinya menggantung di atas layar tapi mau bilang apa lagi? Kata maaf rasanya sudah terlalu kecil, terlalu tipis atau didiemin dulu aja, ya? Marcha tahu mood Deven pasti lagi jelek banget jadi Marcha memilih kembali ke pekerjaannya, mencoba fokus sambil membiarkan Deven diam namun bahkan setelah pekerjaannya selesai, tak ada satu pun balasan masuk.
Sampai Marcha tiba di rumah. Ia menelepon Deven, tak diangkat. Marcha mandi, lalu menelepon lagi, masih tak diangkat. Akhirnya, sambil berbaring di tempat tidur, Marcha menyerah dan memilih mengetik.
Marcha:
Mau ngambek sampai kapan?
Tak lama, balasan masuk.
Deven:
Besok aja kita ngobrol. Aku capek.
Marcha mendengus pelan. Apa-apaan? Kemarin seharian nggak ada kabar, sekarang alasannya capek?
Marcha:
Marah ya marah. Harus ya aku didiemin kayak patung gini?
Deven:
Aku lagi nggak mau tengkar sama kamu.
Marcha:
Aku juga nggak mau tengkar, kamu jangan mulai ngajak tengkar.
Deven:
Yang mulai kamu ini!!!
Marcha:
Aku cuma mau nelepon buat tahu kabarmu bentar. Itu ngajak tengkar?
Deven:
Aku nggak mood.
Marcha:
Telepon bentar aja.
Pesan itu tak dibalas tapi ponsel Marcha bergetar. Deven menelepon dan tidak seperti biasanya—bukan video call cuman voice call. Marcha menghela napas lega kecil, masih ditelepon jauh lebih baik daripada tidak ada kabar sama sekali.
Ia mengangkat.
"Halo," sapa Deven.
"Lain kali jangan gini ya," kata Marcha lembut tapi mengeluh. "Aku kan sudah minta maaf."
"Iya," jawab Deven datar. "Lain kali batalin aja semua janjinya, nggak apa-apa."
"Bukan gitu," Marcha cepat menyela. "Marah nggak apa-apa tapi kita ini LDR, Dev. Masa iya kamu marahnya sampai nggak ngabarin aku sama sekali?"
Deven terdiam sebentar.
"Iya deh... lain kali—uhuk," ia terbatuk. "Lain kali nggak lagi."
"Kamu di mana sekarang?" tanya Marcha langsung waspada.
"Di apartemen."
"Kamu nggak kerja?" suara Marcha meninggi.
"Nggak. Aku nggak enak badan hari ini," jawab Deven. "Kemarin ke rumah kamu kehujanan."
"Udah minum obat?"
"Udah."
"Coba sini, aku lihat dulu," pinta Marcha refleks.
Deven menuruti, kamera menyala, menampilkan wajahnya yang pucat, rambut acak-acakan, tubuhnya terbaring lemas.
"Kamu butuh apa?" Marcha panik kecil. "Nanti aku minta tolong Kevin atau Gogo ke apartemen kamu."
"Nggak usah," Deven tersenyum tipis. "Aku cuma butuh tidur." ia berhenti sebentar, lalu menambahkan pelan, "Sebenernya aku butuh sesuatu... tapi aku yakin kamu nggak bisa nurutin."
"Apa?" tanya Marcha tanpa mikir panjang.
"Kamu."
Marcha terdiam.
"Dev..."
Deven tertawa kecil. "Aku tahu kok kamu nggak bisa."
"Ya udah," Marcha mengalah sambil tersenyum sedih. "Kamu tidur sana."
"Eh, tunggu, kamu mau ngapain?" tanya Deven.
"Mau siap-siap tidur juga," jawab Marcha. "Kamu kan yang bilang aku nggak boleh tidur terlalu malam."
"Nurut banget," Deven nyengir.
"Aku nggak mau bikin kamu tambah marah."
"Aku udah nggak marah," kata Deven.
"Beneran?"
Deven menggeleng pelan. "Kalau aku marah, nanti kamu malah nggak pulang, aku tambah kecewa."
"Ya nggak mungkin," kata Marcha cepat. "Aku pasti pulang, Dev cuma sekarang kerjaanku memang lagi penting banget, kamu ngerti ya."
Deven menghela napas, lalu tersenyum. "Iya, iya, tadi aku juga udah bilang aku udah nggak marah, kan?"
"Hm," Marcha ikut tersenyum. "Kalau gitu... aku minta maaf ya, sayang."
"Nggak ada kata maaf di antara kita sampai kamu balik ke Indo," kata Deven ringan. "Aku maafin semuanya."
"Iya," Marcha mengangguk walau Deven tak bisa melihat. "Istirahat ya."
"Kamu juga."
Telepon ditutup.
Marcha memandang layar ponselnya lama, sebagai pacar, di saat Deven sakit seperti ini, ia seharusnya ada di sampingnya, merawat, menjaga, bikin sup hangat, ngomel kalau Deven bandel tapi sekarang, ia ada di belahan dunia lain. LDR memang kejam—bukan karena kurang cinta tapi karena terlalu banyak jarak. Marcha juga ingin pulang kalau  saja bukan karena urusan mendadak yang tak bisa ditunda. Pekerjaan ini seharusnya selesai setengah tahun lalu. Dan sekarang, ia terjebak di antara tanggung jawab dan rindu tapi satu hal pasti.
Ia nggak bisa membiarkan Deven sendirian di apartemen, sakit, tanpa ada yang menjaga. Marcha mengambil ponselnya lagi, ia menghubungi satu orang—seseorang yang ia percaya sepenuhnya. Seseorang yang ia yakin...tidak akan mengecewakan permintaan kecilnya.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang