Power moves (Marcha)

92 8 9
                                        

"Damn it!" Marcha membanting map tebal di tangannya, lalu—tanpa aba-aba—melempar ribuan lembar kertas ke udara. Kertas-kertas itu beterbangan dan mendarat tepat di wajah Clara, asisten kepercayaan papinya "Are you crazy?!" bentak Marcha. "Lo kasih gue laporan apaan ini? Your corruption résumé? Mau pamer dosa?"
Wajah Clara memerah. Ia menunduk, tangannya gemetar.
"Keluar," kata Marcha dingin. "Gue tunggu surat pengunduran diri lo dalam satu kali dua puluh empat jam. Kalau nggak ada, jangan masuk kantor besok. Gue pecat lo resmi, pake pita."
"T-tolong jangan pecat saya, Bu Marcha," suara Clara bergetar. "Saya masih punya keluarga yang harus saya hidupi."
Marcha menyeringai tipis—senyum yang sama sekali nggak menenangkan "Bodoh amat. Lo punya keluarga atau kolam ikan, itu bukan urusan gue. Harusnya lo bersyukur gue nggak langsung laporin lo ke polisi." Marcha lalu menoleh ke jajaran manajer yang berdiri kaku seperti patung lilin. "Kalian juga. Gue tunggu surat pengunduran diri kalian. Waktu mulai sekarang."
Ruangan itu langsung senyap. Terlalu senyap. Tiba-tiba jaket Marcha ditarik pelan dari belakang.
"Kak," bisik Ingvar, adiknya. "Mereka itu orang-orang yang kerja sama papi udah puluhan tahun."
Marcha menoleh perlahan, tatapannya tajam "Dan itu justru masalahnya."
Ia mendekat ke Ingvar "Lo sendiri yang nyuruh gue nge-handle perusahaan papi. Dan orang-orang ini nggak becus. Kalau nggak gue berhentiin sekarang, bukan cuma reputasi—perusahaan papi bisa bangkrut berjamaah."
"Saya minta maaf, Bu, tapi—"
"NO MORE TAPI!" potong Marcha. "Gue bukan perusahaan 'tapi-tapi'! Kalian gelapin pajak bertahun-tahun, dan lo pikir gue mau bangun bisnis gede dari hasil nyuri uang negara? Nice joke."
Tak satu pun berani bersuara.
Marcha meraih ponselnya "Gue telepon pengacara gue sekarang. Kita beresin pajak, laporan, dan semua kotoran ini."
Ia hendak menekan nomor Kevin—namun ponselnya bergetar.
Nomor Jakarta. 021. Cantik. Terlalu cantik.
Marcha mengangkat telepon "Halo?"
"Halo, Cha."
Deg.
Suara itu. Lembut. Tenang dan sukses menyiram amarah Marcha dengan satu ember es plus es batu tambahan.
"Kenapa, Dev?" jawab Marcha datar.
"Hasil lab papi lo udah keluar. Lo ntar ke rumah sakit, kan?"
"Iya. Sore," jawab Marcha singkat. "Gue masih kerja."
"Oh... iya. Gue tau dari Ingvar lo lagi ngurus perusahaan papi sampe beliau sembuh."
Marcha melirik Ingvar tajam. Bocor banget sih, bocor kayak pipa PDAM.
"Dev," kata Marcha ketus. "Isn't even your problem."
"Okay, sorry," ujar Deven lembut. "Gue cuma mau mastiin lo beneran ke sini nanti."
"Iya. Itu doang kan?"
"Dan satu lagi," lanjut Deven. "Lo jaga makan, jangan kecapekan, tidur yang cukup, minum vitamin."
Marcha terdiam. Nih cowok... Udah punya pacar, tapi perhatian level husband material, dia bahkan hampir lupa rasanya diperhatiin kayak gitu. Seminggu di Indonesia. Ngurus dua perusahaan besar dan nggak satu pun anggota keluarganya nanya dia capek atau enggak.
"Maksud lo ngomong gitu ke gue apa?" tanya Marcha. "Gue nggak mau ribut sama Shannon gara-gara elo."
"Gue cuma ngerasa lo nggak pernah istirahat," jawab Deven. "Suster bilang lo hampir tiap malam ke rumah sakit. Pagi sampe sore kerja."
"Terus?"
"Ya... jangan sampe lo sakit, Cha. Kasian keluarga lo."
Marcha memejamkan mata. Kenapa sih Deven masih sebaik ini?
"Ya udah," katanya akhirnya. "Itu doang, kan?"
"Boleh gue minta nomor chat lo?" tanya Deven ragu.
"Lo kan udah punya," jawab Marcha. "Ini lo bisa nelepon gue."
"Oh... berarti lo nge-block gue?"
"Gue kurang kerjaan apa nge-block elo?" bentak Marcha. "Lo kali yang nge-block gue."
"Gue nggak nge-block. Tapi gue nggak bisa hubungi lo."
Marcha mendengus "Dev, ini bukan board game. Kita nggak main bohong-bohongan."
"Gue nelepon lo pake nomor rumah sakit," jelas Deven. "HP gue nggak bisa."
Marcha menoleh ke Ingvar. "Seriusan?"
Ingvar mengangkat bahu.
"Udah," kata Marcha. "Masalah itu ntar aja."
"Oke. Jangan lupa ke sini sore," kata Deven.
"Iya. Lo nanya udah kayak absensi."
"Aku cuma mau mastiin," kata Deven. "Bye, Cha."
"Bye."
Marcha menutup telepon.
"Siapa, Kak?" tanya Ingvar polos.
"Deven."
"Wow," Ingvar nyengir. "Udah telepon-teleponan sekarang?"
"Lo jangan ngawur," bentak Marcha. "Dia udah punya cewek. Dan ceweknya temen gue."
"Temen?" Ingvar menaikkan alis. "Bukannya dulu sahabat?"
"Kita udah nggak pernah ketemu," kata Marcha kesal. "Dan selama gue di Indo, gue cuma ketemu dia sekali. Itu pun pas jenguk bokap. Jadi kalau sekarang dia nganggep gue musuh, itu gara-gara lo kebanyakan ngoceh ke Deven."
"Well, dia dokter papi," Ingvar membela diri. "Masa gue diem aja? Oh iya... Deven perhatian sama kakak ya? Wah, percikan api asmara masih nyala dong."
"VAR!"
"Iya, iya," Ingvar terkekeh. "Terus... nasib para manajer papi?"
Marcha melirik deretan orang yang masih berdiri pucat "Surat pengunduran diri. Final."
"Kak—"
"Udah," potong Marcha. "Gue harus telepon pengacara. Banyak yang harus dibersihin."
Marcha menekan nomor Kevin dan berjalan menjauh, meninggalkan ruangan yang masih beku—dan puluhan orang yang baru sadar: Marcha bukan cuma galak. Dia mematikan

Marcha datang lebih pagi dari yang ia rencanakan. Terlalu pagi, malah. Lorong rumah sakit masih setengah sepi. Deven belum muncul di kamar kantor kecilnya, jadi Marcha memutuskan langsung ke kamar papinya.
Papinya sudah sadar. Sayangnya, bicara masih tersendat—kata-katanya patah, nggak utuh, seolah otaknya berlari lebih cepat dari lidahnya dan itu bikin Marcha makin yakin.
Nggak mungkin ini cuma meningitis. Semalaman Marcha googling. Meningitis memang bukan penyakit ringan, tapi... juga bukan yang bikin kondisi papinya begini. Sebelum pikirannya makin liar, Marcha keluar dari kamar. Perdebatan panas dengan maminya—plus penjelasan terbata-bata dari papinya soal pemecatan seluruh manajer perusahaan—cukup bikin kepalanya berasap.
Dia nggak mau berdebat. Apalagi di kondisi papinya yang seperti ini. Marcha melangkah keluar, entah mau ke mana. Otaknya kosong. Kakinya jalan sendiri. Ia baru sadar ketika sampai di depan ruang bayi.
Marcha mengerjap "Ini... gue mau ngapain, sih?"
Untung nggak nyasar ke kamar jenazah. Kalau iya, mungkin dia udah ikut rebahan sekalian. Saat hendak berbalik, pintu salah satu kamar pasien terbuka.
Deven keluar.
"Terima kasih banyak, Dok," kata seorang nenek tua dengan mata berkaca-kaca.
Marcha berhenti. Ia melihat ekspresi Deven berubah. Lembut. Hangat. Bukan Deven yang kaku dan formal.
"Sama-sama, Nek," kata Deven sambil memegang punggung tangan nenek itu. "Semoga cucu nenek cepat pulih, ya."
"Dokter itu malaikat," lirih sang nenek. "Saya kira cucu saya nggak bisa hidup."
Deven menggeleng pelan "Cucu nenek mau berjuang. Itu sebabnya dia hidup. Bukan karena saya," katanya. "Nenek harus bersyukur."
Setelah anak saya meninggal, cucu saya satu-satunya harapan," suara nenek itu bergetar. "Terima kasih, Dok."
Deven hanya tersenyum dan mengangguk. Ia lalu menoleh ke salah satu suster, membisikkan sesuatu—entah instruksi, entah permintaan bantuan.
Selesai berbicara, Deven memasukkan kedua tangannya ke saku jas putihnya. Ia mendongak. Tatapan mereka bertemu. Deven tersenyum lebar. Mata itu... menghilang, menyisakan lengkungan hangat.
Dan jantung Marcha? Ya Tuhan. Berdetaknya seperti genderang perang. Kencang. Ribut. Berisik banget sampai Marcha takut Deven bisa dengar.
"Halo, Cha," sapa Deven ceria.
"Hai," jawab Marcha cepat, berusaha terdengar normal—padahal wajahnya panas, seperti gunung berapi yang siap erupsi tanpa aba-aba.
Efek senyum Deven memang nggak masuk akal. Lebih dahsyat dari acara Dahsyat—dan itu tayang tiap hari.
"Lo nyariin gue?" tanya Deven.
"Enggak," jawab Marcha cepat. "Gue nyasar."
Deven tertawa kecil "Nyasar di rumah sakit?"
"Iya," Marcha mengangguk serius. "Bakat."
"Oh," Deven tersenyum. "Mau ke mana? Gue anterin."
"Gue nggak ke mana-mana," jawab Marcha. "Bosen di kamar bokap, jadi keluar cari angin. AC rumah sakit dingin banget."
Deven mengangguk "Gue ke lab ambil hasil pemeriksaan bokap lo. Lo mau bareng atau...?"
"Nggak usah," potong Marcha. "Gue balik ke kamar bokap. Mau ngomong sama Ingvar sama mami, suruh ke kantor lo."
"Oke," kata Deven. "See you, Cha."
Marcha mengangguk lalu melangkah melewati Deven. Ia tahu—tanpa perlu menoleh—Deven sedang menatap punggungnya. Marcha bisa merasakannya. Tapi menoleh? Bukan ide cerdas. Ia takut perasaan yang sudah ia kubur rapi itu mendadak hidup lagi. Takut kehilangan kendali setiap kali berhadapan dengan Deven. Namun ternyata, ada satu hal lain yang sama sekali tak bisa ia kendalikan.
Hidup dan penyakit papinya.
"Apa?!"Marcha berdiri dari kursinya, wajahnya pucat, suaranya pecah "Papi gue kena kanker sumsum tulang belakang?!"
Deven berdiri di hadapannya—wajahnya sama sedihnya, sama beratnya dan untuk pertama kalinya, dunia Marcha benar-benar runtuh.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang